Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Imam Ali dalam Kacamata Hadis (2)

image

Mencintai Ali a.s. Adalah Keimanan; Membencinya Adalah Kemunafikan

Nabi Muhammad Saw. menegaskan kepada umat bahwa mencintai Ali a.s. adalah tanda keimanan dan ketakwaan. Sementara membencinya adalah kemunafikan dan maksiat. Berikut ini sebagian riwayat yang telah diriwayatkan darinya tentang hal ini:

Ali a.s. berkata: “Demi Zat yang membelah biji- bijian dan menciptakan manusia, sesungguhnya janji Nabi yang ummî  kepadaku adalah bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali orang mukmin dan tidak membenciku melainkan orang munafik.”

Al-Musâwir Al-Humairî meriwayatkan hadis dari ibunya. Ibunya berkata, “Ummu Salamah datang menjumpaiku dan aku mendengar dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Orang munafik tidak akan mencintai Ali dan orang mukmin tidak akan membencinya.’”

Ibn Abbâs pernah meriwayatkan sebuah hadis. Dia berkata, “Rasulullah Saw. memandang kepada Ali a.s. seraya bersabda, ‘Tidak mencintaimu melainkan orang mukmin dan tidak membencimu kecuali orang munafik. Barang siapa mencintaimu, berarti ia mencintaiku. Barang siapa membencimu, berarti ia membenciku. Kekasihku adalah kekasih Allah dan pendengkiku adalah pendengki Allah. Sungguh celaka orang yang mendengkimu setelahku nanti.’”

Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata, “Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Ali a.s., ‘Mencintaimu adalah keimanan dan membencimu adalah kemunafikan. Orang yang pertama masuk surga adalah pencintamu dan orang pertama yang masuk neraka adalah pendengkimu.’”

Hadis-hadis di atas telah tersebar luas di kalangan para sahabat Nabi Saw. Mereka menerapkan hadis-hadis tersebut kepada orang yang mencintai Ali a.s. dan menyebutnya sebagai orang mukmin. Sementara orang yang mendengkinya mereka sebut sebagai orang munafik.

Seorang sahabat terkemuka yang bernama Abu Dzar Al-Gifârî pernah berkata, “Kami tidak mengenal orang-orang munafik, kecuali ketika mereka berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan shalat, dan mendengki Ali ibn Abu Thalib a.s.”

Seorang sahabat Nabi terkemuka lainnya yang bernama Jâbir ibn Abdillah Al-Anshârî juga pernah berkata, “Kami tidak pernah mengenal orang-orang munafik kecuali ketika mereka mendengki Ali ibn Abu Thalib a.s.”

Kedudukan Imam Ali a.s. di Sisi Allah Swt.

Selanjutnya kita beralih menjelaskan sebagian hadis yang telah diriwayatkan dari Nabi Saw. berhubungan dengan keagungan Imam Ali a.s. di sisi Allah Swt. dan kemuliaan-kemuliaan yang dia miliki. Sebagian hadis tersebut adalah:

Imam Ali a.s. sebagai Pembawa Bendera Pujian

Banyak sekali hadis sahih dari Nabi Saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali a.s. pada Hari Kiamat kelak akan diberikan kemuliaan oleh Allah Swt. untuk membawa bendera pujian. Hal ini adalah anugerah khusus yang tidak diberikan kepada siapa pun selainnya. Di antara hadis-hadis tersebut adalah hadis berikut ini:

Rasulullah Saw. bersabda kepada Imam Ali a.s., “Pada Hari Kiamat kelak, engkau akan berada di hadapanku. Ketika itu aku diberi bendera pujian, lalu bendera tersebut kuserahkan kepadamu. Sementara engkau sedang mengusir orang-orang (yang tidak berhak) dari telagaku.”

Imam Ali a.s. sebagai Pemilik Telaga Haudh Nabi Saw.

Banyak sekali hadis Nabi Saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali a.s. adalah penguasa telaga Haudh Nabi Saw., sungai di surga yang paling sejuk, paling manis, dan sangat indah dipandang mata. Tak seorang pun dapat meneguk airnya, kecuali orang yang berwilayah dan mencintai Imam Ali a.s. Berikut ini kami paparkan salah satu hadis tersebut:

Rasulullah Saw. bersabda, “Ali ibn Abu Thalib a.s. adalah pemilik telaga Haudh-ku kelak di Hari Kiamat. Di sekelilingnya berjejer gelas-gelas sebanyak bilangan bintang di langit. Luas telaga Haudh-ku itu sejauh antara Jâbiyah dan Shan’a.”

Tidak sedikit hadis yang telah diriwayatkan dari Nabi Saw. tentang keutamaan Ahlu Bait Nabi Saw. yang suci, keharusan mencintai dan berpegang teguh kepada mereka. Berikut ini adalah sebagian dari hadis-hadis tersebut:

Hadis  Tsaqalain

Hadis Tsaqalain  termasuk hadis Nabi Saw. yang paling indah, paling sahih, dan paling tersebar luas di kalangan muslimin. Hadis ini telah diabadikan oleh Enam Kitab Sahih (Al-Kutub As-Sittah ), dan para ulama juga menerimanya.

Perlu diingatkan di sini bahwa Nabi Saw. telah menyampaikan hadis tersebut di beberapa tempat dan kesempatan. Di antaranya berikut ini:

Zaid ibn Arqam meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan dua pusaka berharga untuk kalian. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya sepeninggalku nanti. Salah satunya lebih agung daripada yang lainnya. Yaitu, Kitab Allah, tali yang membentang dari langit ke bumi. Yang kedua adalah ‘Itrah -ku, Ahlu Bait-ku. Keduanya itu tidak akan pernah berpisah sampai menjumpaiku di telaga Haudh kelak. Perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya itu sepeninggalku kelak.”64

Nabi Saw. juga pernah menyampaikan hadis ini ketika sedang melaksanakan haji Wadâ’ pada hari Arafah. Jâbir ibn Abdillah Al-Anshârî meriwayatkan hadis ini seraya berkata, “Aku melihat Rasulullah Saw. pada haji Wadâ’ di hari Arafah. Ketika itu beliau berpidato sambil berdiri di atas punggung untanya yang bernama Al-Qashwâ’. Aku mendengarnya berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian mengikutinya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan ‘Itrah -ku, Ahlu Bait-ku.’”65 Rasulullah Saw. juga pernah berpidato di hadapan para sahabat ketika dia berada di atas ranjang pada saat mendekati wafat. Nabi Saw. bersabda, “Wahai manusia, sebentar lagi nyawaku akan diambil dengan cepat, lalu aku pergi. Dan sebelum ini aku pernah menyampaikan suatu ucapan kepada kalian, yaitu aku tinggalkan untuk kalian Kitab Tuhan-ku Yang Mulia nan Agung dan ‘Itrah -ku, Ahlu Bait-ku.” Kemudian, Nabi Saw. memegang tangan Ali a.s. seraya berkata: “Inilah Ali yang selalu bersama Al-Quran dan Al- Quran pun senantiasa bersamanya. Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga mendatangiku di telaga Haudh.”

Hadis Bahtera Nuh a.s.

Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Sesungguhnya perumpamaan Ahlu Bait-ku di tengah-tengah kalian bagaikan bahtera Nuh a.s. Selamatlah orang yang menaikinya, dan binasalah orang yang meninggalkannya, maka ia akan tenggelam. Dan perumpamaan Ahlu Bait-ku di tengah-tengah kalian bagaikan pintu Hiththah  (pengampunan) bagi Bani Isra’il. Barang siapa memasukinya, dosanya akan diampuni.’”

Hadis Ahlul Bait Pengaman Umat

Nabi Saw mewajibkan kecintaan kepada Ahlul Bait atas umat ini. Dia menegaskan bahwa berpegang teguh kepada mereka adalah faktor pengaman dari kehancuran. Beliau bersabda, “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam. Dan Ahlu Bait-ku adalah pengaman bagi umatku dari pertentangan dan pertikaian. Apabila salah satu kabilah Arab menentang mereka, ini berarti mereka telah bertikai. Akibatnya, mereka menjadi pengikut Iblis.”

Sumber: Buku Putih Mazhab Syiah

 

Sun, 16 Feb 2014 @11:19

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved