Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Mengapa Syiah Disebut Mazhab Jafariah?

image

SELURUH keyakinan Syiah hingga saat ini bersumber sepenuhnya dari ilmu para Imam Ahlulbait, karenanya juga dinamakan dengan madzhab Imamiyah. Selain nama yang sudah akrab ini, Syi’ah juga biasa disebut dengan nama madzhab Ja’fariah. Sebuah nama yang terkadang masih asing di telinga mayoritas Umat Islam Indonesia pada khususnya.

Penamaan ini, menurut Mushthafa Syak’ah, masuk dalam katagori Tasmiyah al-‘Âm bi Ismi al-Khâshshah (penamaan sesuatu yang umum dengan nama yang khusus).

Sebelum membahas lebih jauh sebab penamaan ini, ada baiknya bila kita mengenal terlebih dulu dalil-dalil yang menjadi pegangan Syi’ah dalam hal kepemimpinan dua belas Imam Ahlulbait. Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya meriwayatkan dari beberapa jalur.

Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Agama Islam akan terus tegak sampai berlalunya dua belas khalifah.” Dia juga meriwayatkan, “Perkara ini (al-khilâfah) harus berada di tangan suku Quraisy, meskipun (seadainya) manusia hanya tinggal dua orang saja.”

Mencermati hadits riwayat Imam Muslim di atas, yang kitabnya menjadi sandaran utama kalangan Ahlussunnah, segera kita dapat menemukan titik temu antara Syi’ah dengan Sunnah. Bahwa Khilafah hanyalah untuk orang Quraisy. Apakah semua bangsa Quraisy?

Dengan mencermati hadis yang lain—lagi-lagi diriwayatkan oleh tokoh Sunnah—bahwa tidak semua orang Quraisy adalah baik. Muawiyah, berasal dari suku Quraisy, dia-lah yang mewajibkan seluruh khatib mencaci-maki Imam Ali Kw, pengemban wasiat Rasulullah Saw. Demikian juga putranya, Yazid yang dilaknat Allah Swt, yang kerjanya hanya minum-minuman keras, bermain-main dengan anjing dan kera, serta suka berzina.

Dengan demikian tidak semua orang Quraisy patut mengemban jabatan yang mulia ini. Dan hanya jumlah tertentu dari mereka saja yang pantas memegang amanah khilafah. Mereka adalah para Imam Ahlulbait, anak cucu Rasulullah Saw. Hal itu berdasarkan pada riwayat berikut: Sesungguhnya Allah memilih Kinânah dari keturunan Ismâ‘il, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinânah, serta memilih Bani Hâsyim dari suku Quraisy dan memilihku dari Bani Hâsyim.

Dengan demikian, bila riwayat Imam Muslim ini digabung dengan hadis tsaqalayn maka kesimpulan akan mengarah pada kepemimpinan a’immah ahlilbayt, yaitu Imam Ali beserta sebelas anak turunnya. Kesimpulan yang demikian itu diperkuat oleh para tokoh Ahlussunnah dalam riwayat mereka.

Mustahil bila yang dimaksud oleh riwayat tersebut adalah pergantian khilafah Islamiyah yang telah terjadi dalam sejarah Islam. Karena jumlah mereka jauh melebihi bilangan yang telah ditentukan oleh Rasulullah Saw dalam riwayat Imam Muslim diatas, maka tafsiran Syi’ah tentang Dua Belas Khalifah kepada Dua Belas Imam Ahlulbait adalah yang paling logis dan mudah dicerna oleh akal sehat. Karena itulah madzhab ini juga disebut dengan madzhab Syi’ah Imâmiyah Itsnâ ‘Asyariyah.

Adapun sebab dinamakan dengan madzhab Ja’fariyah, karena pengaruh Imam Ja’far ash-Shâdiq lebih banyak mewarnai berbagai kitab Syi’ah, baik dalam bidang fikh maupun hadis.

Syaikh Abu Ja’far al-Thûsi telah menghimpun empat ribu perawi yang berasal dari Hejaz, Iraq, Syam, Khurasan, yang meriwayatkan fatwa-fatwa Imam ash-Shâdiq. Riwayat itu dikumpulkan dalam empat ratus karangan oleh empat ratus pengarang, sebagaimana disinggung dalam bab sebelum ini. Tidaklah aneh bila perawi di masa Imam ash-Shâdiq jumlahnya lebih banyak dari para perawi yang muncul di masa imam-imam sebelum atau sesudahnya. Yang demikian itu dikarenakan iklim pada masa Ash-Shâdiq tidak terdapat pada masa imam-imam yang lain.

Imam ash-Shâdiq hidup di akhir masa kekuasaan rezim Umayyah dan permulaan berdirinya rezim Abbâsiyah. Sejarah membuktikan pada kita bagaimana kedua dinasti tersebut melakukan penindasan yang teramat kejam terhadap Syi’ah. Kebebasan Syi’ah, atau siapa saja yang dicurigai bersimpati dengan penderitaan mereka, dirampas.

Syi’ah tidak diperkenankan menyebarkan ajarannya di masjid-masjid ataupun di halakah-halakah ilmiyah. Tidak seperti madzhab yang lain, Syi’ah tidak diberi kesempatan untuk menerangkan keyakinan mereka yang sebenarnya kepada khayalak. Yang terjadi malah sebaliknya, para musuh Syi’ahlah yang senantiasa menyebarkan kebohongan atas nama Syi’ah. Syi’ah sempat menghirup udara segar di masa Imam ash-Shâdiq, di saat dinasti Umayah mulai melemah akibat pemberontakan yang terjadi di hampir seluruh wilayah kekuasannya.

Di samping sibuk memadamkan api pemberontakan dalam negeri, Bani Umayyah juga harus menghadapi rongrongan Bani Abbasiyah, yang memberontak dengan membawa bendera tasyayyu‘ untuk Ali dan Ahlilbaitnya, sebagai kedok mengelabui opini umum dunia Islam yang merasa tersentuh atas apa yang dialami oleh keluarga suci Nabi Muhammad Saw. Kesempatan tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh Syi’ah untuk menimba Ilmu Ahlulbait yang menurut mereka bersumber dari sisi Allah Swt.

Perlu dipertegas di sini bahwa fikh Ja’fari sebenarnya bukan hanya pendapat Imam ash-Shâdiq saja. Fikh Ja’fari adalah kumpulan dari banyak ilmu yang berasal dari para imam yang suci, yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah Saw. Dari mereka Syi’ah mengambil ajaran-ajaran agama, baik dalam bidang ushul maupun furu’. Hal ini tidaklah aneh, karena para imam tumbuh dan berkembang di rumah kenabian dan mendapat didikan dari tangan-tangan a’immah yang suci, yang Allah telah mensucikan mereka dari segala bentuk noda dan nista. Syi’ah lebih mengutamakan mereka dari seluruh makhluknya selain Rasulullah Saw, di samping mereka adalah orang-orang yang paling faqih, zuhud, wara’ di zamannya masing-masing.

Itulah alasan logis Syi’ah dalam menisbatkan madzhab mereka kepada Ahlulbait. Selain fakta sejarah membuktikan bahwa kaum Muslimin di masa-masa sebelum munculnya beragam madzhab yang meramaikan belantara dunia Islam, baik dalam bidang ushul maupun furu’, sama sekali tidak berpegang pada satu pun dari salah satu madzhab yang muncul di masa yang jauh dari masa Rasulullah Saw tersebut.

Dengan demikian, adakah jaminan ajarannya benar-benar bersumber dari Rasulullah Saw? Pada masa-masa itu, Syi’ah memegang teguh ajaran Ahlulbait, dan selain Syi’ah mengikuti madzhab Sahabat dan Tabi’in. Maka setelah periode tersebut, tidak ada alasan untuk mewajibkan mengikuti salah satu dari madzhab yang empat saja, misalnya, dan bukan madzhab lain yang berlaku sebelumnya.

Kalaupun alasan mengikuti mereka dikarenakan adalah madzhab Ahlussunnah wal-Jama’ah, yang menurut legenda adalah satu-satunya madzhab yang selamat dalam hadis iftirâq al-ummah (perpecahan umat). Kalau hanya satu, mengapa terbagi menjadi beberapa kelompok? Ada golongan salaf, ada pula yang khalaf. Yang satu madzhab Hambali, yang lainnya Syafi’i, dan seterusnya.

Bahkan di antara sesama ‘Ahlussunnah’ ada yang saling tabdî‘ wa takfîr (menuduh berbuat bidah dan kafir) bahkan—al-‘iyâdh billâh (kita berlindung kepada Allah)—sampai pada sikap saling membunuh. Hingga Abu Hasan al-Asy’ari, yang dikenal dengan julukan Syaikh Ahlussunnah oleh kelompok lain—yang juga mendakwakan dirinya sebagai Ahlussunnah—dituduh sebagai ahlu bid‘ah wa zhalâl.

Demikian itu gambaran sejarah yang menyelimuti umat Islam sepeninggal Rasulullah Saw. Dengan demikian, keyakinan Syi’ah sesuai dengan standar kualitas ilmiah yang diakui dan yang paling mendekati kebenaran. Kesimpulan ini didasarkan pada banyaknya dalil-dalil yang diriwayatkan oleh semua tokoh—Syi’ah maupun Sunnah—yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.

[SUMBER: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam]

Wed, 2 Aug 2017 @14:48

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved