AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Sufi: Beragama dengan Cinta [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Khazanah ilmu tasawuf mengenal seorang perempuan yang dianggap sebagai salah satu dari para tokoh sufi terbesar sepanjang sejarah. Namanya Rabiah Al-Adawiyah. Konon, suatu hari Rabiah pernah diketemukan berlari-lari ke pasar dengan membawa seember air di tangan kanannya dan sebilah obor di tangan kirinya.

Orang-orang keheranan. Mereka bertanya: Hai Rabiah, apa yang kau lakukan? Rabiah menjawab: Dengan air ini, aku ingin memadamkan neraka dan dengan api ini aku ingin membakar surga; supaya setelah ini orang tidak lagi menyembah Tuhan karena takut akan neraka dan karena berharap akan surga. Aku ingin setelah ini hamba-hamba Tuhan akan menyembah-Nya hanya karena cinta.

Seperti yang pernah diucapkan Imam Ali kw, banyak orang menyembah Tuhan karena mengharapkan sesuatu. Ibadat mereka lakukan sebagai suatu investasi agar suatu saat Tuhan membayar hasil ibadat itu kepada mereka.

Imam Ali menyebut ibadat mereka yang mengharapkan pahala sebagai ibadat para pedagang. Ada juga orang yang menyembah Tuhan karena takut akan siksa-Nya. Mereka takut menghadapi azab Tuhan. Menurut Imam Ali, ibadat mereka sama seperti pengabdian seorang budak belian kepada tuannya. Ibadat yang sebenarnya adalah ibadat karena cinta. Itulah ibadat orang-orang merdeka.

Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari cara menyembah Tuhan, bukan karena mengharapkan pahala-Nya atau takut karena siksa-Nya. Para sufi ingin mengabdi kepada Tuhan karena kecintaan kepada-Nya.

Seorang tokoh sufi yang lain, Junaid Al-Baghdadi, mendefinisikan tasawuf sebagai Engkau berusaha untuk selalu bersama Allah tanpa ada persyaratan apa-pun. Engkau ingin selalu bergabung dengan Allah tanpa pamrih apa-pun selain kebersamaan bersama-Nya.

Sejak saat itu, para ulama dan orang-orang salih mengembangkan kiat-kiat agar kita menyembah Allah karena cinta semata, bukan karena siksa atau pahala. Cinta yang disebut Junaid sebagai cinta tanpa prasyarat; unconditional love.

Sesungguhnya kalau kita kembali kepada ajaran Islam, kita akan menemukan cinta tanpa pamrih itu. Jibril pernah datang menemui Rasulullah saw dan bertanya: Apakah Islam itu? Rasulullah saw menjawabnya dengan menjelaskan tentang rukun Islam. Jibril kembali bertanya, Apakah Iman itu? Rasulullah saw kembali menjawab dengan menjelaskan tentang rukun Iman. Dan ketika Jibril mengajukan pertanyaan terakhir: Apakah Ihsan itu? Rasulullah saw menjawab, Ihsan adalah kau beribadat kepada Tuhan seakan-akan kau melihat Dia. Dan apabila kau tak melihatnya, maka rasakanlah bahwa Tuhan melihatmu.

Yang dipelajari dalam tasawuf adalah upaya menghadirkan Tuhan dalam ibadat-ibadat kita. Sekiranya kita tak sanggup melihat-Nya, maka setidaknya kita bisa merasa kehadiran Tuhan dalam ibadat-ibadat kita. Hal ini mengingatkan kita akan sebuah cerita klasik dari tanah Jawa: Konon, seseorang pernah datang untuk belajar tasawuf kepada Sunan Kalijaga. Sunan mengajaknya terlebih dulu untuk salat bersama. Orang itu pun salat pada barisan pertama, tepat di belakang sang sunan yang menjadi imam. Ketika salat, murid baru itu melihat bahwa sarung yang dipakai sunan telah robek. Pada waktu salat ia berfikir bahwa salatnya tidak begitu sah karena sarung yang dipakai imam salat ada lubangnya.

Seusai salat ia datang menemui Sunan Kalijaga dan berkata: Wahai Sunan, ketika aku salat, aku lihat ada lubang di kain sarungmu. Sunan menjawab: Kau belum pantas untuk menjadi muridku karena ketika kau salat, perhatianmu tidak kau tujukan kepada Allah swt. Padahal dalam salat, kau mengucapkan: Inni wajahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh,  Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi. Sementara ketika kau salat, yang kau perhatikan hanyalah sobekan di sarungku....

Seorang sufi adalah ia, yang ketika melakukan ibadat, berusaha merasakan seakan Tuhan memperhatikannya. Ia memusatkan segala perhatiannya kepada Allah dan memutuskan seluruh ikatannya kepada apa pun selain Allah Swt.

Sebelum kita belajar tasawuf, biasanya kita dianjurkan untuk belajar fikih. Apa yang membedakan fikih dengan tasawuf? Fikih mempelajari bagian-bagian lahiriah dari agama. Para ahli fikih menyebutkan: Hukum itu ditetapkan berdasarkan bentuk-bentuk lahirnya. Bila fikih membicarakan salat, yang dibahas adalah gerakan-gerakan salat yang bisa kita lihat dengan mata dan bisa kita dengar dengan telinga. Para sufi mengajarkan kita untuk memelihara adab-adab batiniah dari setiap ibadat yang kita lakukan. Tasawuf tidak lagi membicarakan salat seperti apa yang kita lihat atau dengar. Tasawuf ingin mengajarkan kita cara-cara memelihara adab-adab batiniah dalam salat.

Salat, sebagaimana seluruh benda di dunia ini, memiliki dua bentuk, lahiriah dan batiniah. Para sufi mengatakan bahwa untuk setiap maujud, selain mereka memiliki bentuk di alam mulk, juga memiliki bentuk di alam malakut. Al-Quran mengatakan: Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah terdapat malakut segala sesuatu. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Mulk: 1)

Dalam tasawuf, diajarkan upaya untuk mencapai alam malakut dari ibadat-ibadat kita. Oleh sebab itu, apabila fikih yang kita pelajari membicarakan ibadat dari segi lahiriah, tasawuf membicarakan ibadat dari segi batiniahnya. Secara ilmiah, orang mengatakan fikih berkaitan dengan dimensi eksoteris dari ajaran Islam sementara tasawuf berkaitan dengan dimensi esoteris dari ajaran Islam.

Seluruh agama tentu memiliki dimensi esoteris. Karenanya, kita sering menemukan apa yang diajarkan tasawuf juga terdapat dalam ajaran-ajaran agama lain. Tasawuf mengajarkan cara-cara mencapai pertemuan dengan Tuhan sementara mistisisme ajaran agama lain juga berusaha mempertemukan kita dengan Allah Swt.

Terakhir, saya ingin menyebutkan satu lagi definisi dari tasawuf. Ada orang yang mengatakan bahwa Islam berkaitan dengan syariat, Iman berkaitan dengan akidah, dan Ihsan berkaitan dengan akhlak. Tasawuf, dengan mengesampingkan aspek-aspek filsafatnya, adalah sebuah ajaran etika, sebuah ajaran akhlak.

Tasawuf pada intinya berusaha mendekatkan diri kita dengan Allah swt. Dan Allah swt hanya dapat didekati dengan akhlak yang baik. Abu Muhammad Al-Jariri, dalam Awarihul Maarif, menulis: Yang disebut tasawuf adalah memasuki semua akhlak yang mulia dan meninggalkan semua akhlak yang tecela. [KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI ]

Mon, 23 Jul 2018 @20:27

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved