BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Ziarah Kubur (1) [by KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Sebagian kaum Muslim Indonesia, dari dulu sampai sekarang sering ziarah ke kubur. Orang Jawa menyebutnya nyadran, sementara orang Sunda menyebutnya nadran. Dalam acara itu, mereka berkunjung ke pusara orang tua atau karib kerabat yang telah mendahului mereka menghadap Allah Swt.

Belakangan ada sebagian di antara kita yang memandang ziarah kubur sebagai perbuatan yang tidak diajarkan Islam, tetapi diadopsi dari ajaran leluhur. Betulkah pendapat itu? Apakah ziarah kubur merupakan sunnah yang dianjurkan Nabi saw ataukah bid'ah, hal baru yang dibuat-buat kemudian hari? Apa dasar-dasar ziarah dalam Al-Quran dan Sunnah?

Ziarah ke kuburan dapat terdiri dari tiga macam. Kesatu, ziarah orang-orang mulia yang masih hidup kepada orang-orang mulia yang telah meninggal. Misalnya para ulama yang mengunjungi pusara ulama lainnya. Di dalam hadis-hadis kita temukan bahwa kebiasaan orang-orang mulia untuk berziarah ke kuburan orang-orang mulia lainnya dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Menurut hadis-hadis sahih yang sampai kepada kita, diriwayatkan ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan isra-mikraj, beliau berziarah ke kuburan para nabi dengan diantarkan malaikat Jibril. Jibril memerintahkan Nabi turun dari Buraq dan melakukan salat di samping kuburan setiap nabi.

Dari peristiwa itu juga Nabi mengajarkan adab ziarah, Beliau turun dari kendaraannya dan menunaikan salat di dekat kuburan dengan penuh kerendahan hati, lalu berdoa di depan kuburan. Hadis yang meriwayatkan ziarahnya Rasulullah ke kuburan para nabi terdapat dalam semua kitab hadis yang berkenaan dengan peristiwa Isra.

Di dalam hadis yang diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, disebutkan bahwa Fathimah ra setiap hari Jumat berziarah ke kuburan Hamzah, pamannya yang syahid pada Perang Uhud. Waktu Fathimah mengunjungi makam Hamzah, Rasulullah tidak pernah melarangnya bahkan beliau menganjurkannya. Setelah Rasulullah saw meninggal dunia, setiap hari Fathimah berziarah ke pusara ayahnya. Setiap hari ia menangis dan berdoa agar ia dapat segera menyusul ayahnya.

Tentang Sayyidah Fathimah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Fathimah itu adalah bagian dari diriku. Siapa yang membuat marah Fathimah, ia membuat marah aku; dan siapa yang menyakiti Fathimah, ia menyakiti aku (Shahih Bukhari). Aisyah juga pernah berkata bahwa tidak ada orang yang paling menyerupai Nabi, dalam hal wajah dan akhlaknya, selain Fathimah.

Saya mengutip hadis-hadis itu untuk menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Fathimah juga merupakan perbuatan yang harus dicontoh. Tidak mungkin Fathimah yang dijamin kesuciannya dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 33 melakukan perbuatan tercela. Seperti halnya Fathimah yang setiap Jumat berziarah kepada Hamzah, kita juga harus secara rutin mengunjungi kuburan keluarga kita. Bila kita buka kitab-kitab tasawuf tentang amalan-amalan yang harus dilakukan setiap hari Jumat, salah satu di antaranya adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin. Demikian pula salah satu amalan dalam menyambut Ramadhan adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin.

Tradisi berziarah di antara orang-orang mulia itu dilanjutkan oleh para ulama besar berikutnya. Imam Syafii, misalnya, sering berziarah ke makam Abu Hanifah di Mekkah. Ketika Imam Syafii melakukan salat dalam kunjungannya ke makam Abu Hanifah, ia tinggalkan qunut pada salat subuhnya demi menghormati Abu Hanifah yang telah meninggal dunia (karena Abu Hanifah tidak menfatwakan tentang kewajiban qunut pada salat subuh).

Imam Syafii memberikan sebuah contoh yang sangat indah, yang sayangnya tidak diteruskan oleh para pengikutnya; yakni, menghargai orang yang pendapatnyaberbeda, meskipun ia telah meninggal dunia.

Setiap kali Imam Syafii berziarah ke makam Abu Hanifah, ia berdoa di depan makam itu dan bertawasul kepada Allah swt dengan perantaraan Abu Hanifah untuk memenuhi hajat-hajatnya. Imam Syafii meniru Rasulullah saw ketika berdoa di depan kuburan para nabi atas perintah Jibril as.

Ketika Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib berhijrah ke Madinah, ia meninggal dunia. Rasulullah saw menguburkannya di Baqi. Saat pemakaman, Rasulullah saw turun ke kuburan Fathimah binti Asad dan berbaring di sisinya seraya memeluk ibu asuhnya itu. Lalu Rasulullah membaca doa tawasul: Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan bertawasul kepada nabi-nabi-Mu dan nabi-nabi yang Kau utus sebelum aku.

Salah satu adab dalam berziarah adalah berdoa dan memulai doa kita dengan membaca tawasul yang singkat, seperti yang diajarkan Nabi saw di atas: Ya Allah aku bermohon kepada-Mu melalui tawasul kepada Nabi-Mu dan keluarganya, janganlah engkau azab mayit ini. Sebuah hadis menyebutkan, barang siapa yang berziarah ke kuburan dan membaca doa itu, Allah akan menganugrahkan perlindungan dari dahsyatnya hari kiamat.

Jenis ziarah yang kedua, adalah ziarah orang-orang mulia kepada kuburan orang-orang biasa. Nabi saw sering berziarah ke kuburan kaum muslimin. Beliau sering berdoa di atas kuburan mereka seraya beristighfar memohonkan ampunan bagi para pendurhaka yang menjadi ahli kubur itu, sebagai bukti bahwa kedatangan Nabi adalah rahmatan lil 'alamin.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan: Rasulullah saw melewati dua kuburan. Lalu beliau berkata, "Kedua ahli kubur ini sedang diazab Tuhan, meskipun bukan karena dosa yang besar."

Rasulullah saw lalu meletakkan di atas kedua kuburan itu pelepah kurma yang masih hijau sambil berdoa. Rasulullah kemudian berkata, "Sesungguhnya kedua pelepah kurma itu, insya Allah, akan meringankan azab mereka sampai pelepah itu mengering." Dengan berkah kehadiran Rasulullah ke kuburan itu, Tuhan meringankan azabnya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam Fathul B a ri, ketika membahas hadis ini menulis: "Ada kemungkinan, kuburan itu bukan kuburan kaum muslimin melainkan kuburan kaum kafir. Hal itu menunjukkan bolehnya berziarah ke kuburan orang kafir. Apa rahasianya meringankan azab untuk orang kafir itu?

Rahasianya adalah ketika Rasulullah datang, Allah menurunkan rahmat-Nya, karena Nabi membaca zikir, menyebut asma Allah. Kedua pelepah kurma yang masih hijau itu sebetulnya selalu bertasbih selama mereka dalam keadaan basah."

Seluruh pepohonan dan tanaman bertasbih kepada Allah swt. Kedua pelepah kurma itu disimpan Nabi agar selalu bertasbih untuk meringankan azab para penghuni kubur. Sekiranya yang meninggal adalah orang Islam, maka manfaat dari doa Rasulullah itu akan berlipat ganda karena ia memperoleh syafaat Nabi saw. Nabi bersabda, "Syafaatku kukhususkan untuk orang-orang yang berbuat dosa besar dari kalangan umatku."

Semua keterangan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah yang teramat mulia juga mengunjungi kuburan mereka yang tidak mulia, bahkan para pendosa. Selain itu, Rasulullah mengunjungi kuburan kaum muslimin untuk memberikan penghormatan kepada mereka.

Seperti dalam sebuah hadis riwayat Bukhari: Di zaman Nabi, hidup seorang perempuan kulit hitam yang pekerjaannya membersihkan masjid. Ketika ia meninggal dunia, kaum muslimin menshalatkan dan menguburkannya pada malam hari.

Suatu saat, ketika Rasulullah mengunjungi pekuburan, beliau melewati kuburan perempuan itu. Wangi harum yang semerbak tercium oleh ruh Rasulullah yang suci.

Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang menyertainya, "Kuburan siapakah ini?"

"Ini adalah kuburan perempuan kulit hitam yang sering membersihkan masjid," jawab para sahabat. Rasulullah lalu bertanya, "Mengapa kalian tidak memberitahu aku ketika kalian menguburkannya?"

Kemudian Rasulullah salat di depan kuburan perempuan kulit hitam itu. Setelah salat, Rasulullah bertanya lagi, "Bagaimana perbuatannya ketika ia hidup?" Para sahabat menjawab, "Ia adalah perempuan yang baik." "Apa pekerjaan yang dilakukannya?" Rasulullah masih bertanya. "Ia membersihkan masjid," jawab para sahabat.

Rasulullah saw tidak hanya mengunjungi kuburan perempuan kulit hitam itu, seorang budak belian yang pada masa itu sering diperlakukan dengan hina, tetapi beliau juga mensalatkan dan mendoakannya. Tuhan menyingkapkan tirai alam malakut kepada Nabi dan memperlihatkan perempuan itu sebagai orang yang mulia di alam barzakh, yang menyebarkan harum semerbak di sekitarnya.

Sayyid Ismail bin Mahdi Al-Hasani, dalam Kitab Nafasur Rahman, menulis: Hendaknya orang-orang yang mulia sering berkunjung ke orang-orang yang kurang mulia di antara mereka. Walaupun mereka adalah para ahli kasyaf. Dengan berkunjung ke kuburan, mereka dapat melihat keadaan orang-orang yang dikubur sehingga mereka dapat mendoakan kebaikan bagi para ahli kubur itu. *** (bersambung)

 

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI ]

 

Mon, 28 Jan 2019 @14:11

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved