Rubrik
Terbaru
MEDSOS Misykat

Fanpage Facebook  MISYKAT

YouTube Channel  MISYKAT TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

Informasi MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima artikel/opini/resensi buku. Kirim via e-mail: abumisykat@gmail.com

TATA CARA SHALAT

Buku Islam terbaru
image

 

BAHAN BACAAN

Ziarah Kubur (2) [by KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Saya teringat sebuah kisah ketika seorang yang salih pergi mengunjungi pekuburan kaum muslimin. Setelah mengucapkan salam, orang salih itu lalu berdoa. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan para penghuni kubur di sekitarnya. Usai berdoa, tiba-tiba ia mendapati dirinya berada di sebuah taman yang sangat indah. Ia menyusuri setapak jalan yang membawanya ke istana yang megah.

Di tempat itu duduk seseorang di atas tahta yang gemerlapan. Puluhan khadam melayaninya. Wajahnya ceria dan gembira. Namun tiba-tiba wajah yang cerah itu berubah muram. Ia melihat dari salah satu sudut tamannya berdatangan rombongan lebah dengan dengungan yang amat nyaring.

Orang di atas tahta lalu menjulurkan lidahnya untuk disengat kawanan lebah itu. Serangga-serangga itu pun lalu merubungi lidah orang itu sampai pingsan. Setelah itu, kawanan lebah pun menghilang. Ketika orang itu tersadar, wajahnya menjadi ceria gembira seperti sedia kala. Namun lebah-lebah itu datang lagi dan peristiwa yang sama terulang kembali.

Orang salih yang melihat semua ini keheranan, "Apa yang terjadi dengan dirimu?" tanyanya.

"Dahulu, ketika aku masih hidup, alhamdulillah, aku banyak beramal salih. Aku sering membantu orang-orang yang kekurangan, aku tak meninggalkan ibadatku di hari-hari yang mulia, dan aku pun berziarah ke Masjidil Haram. Tapi satu saat, aku jatuh cinta pada anak perempuan tetanggaku. Aku melamarnya, tetapi orangtuanya tak menerima lamaranku. Karena jengkel maka kusebarkan berita pada orang banyak bahwa sebenarnya perempuan itu telah menikah diam-diam. Karena berita yang kusebarkan, sampai sekarang perempuan itu tidak menemukan jodohnya. Tidak ada seorang pun yang melamarnya. Aku lalu meninggal dunia. Setiap kali perempuan itu menangis menyesali nasibnya, Tuhan mengirimkan kawanan lebah itu untuk menyiksa diriku. Aku bermohon kepada-Nya agar dilepaskan dari azab ini, tapi Tuhan berkata bahwa aku tak bisa dilepaskan dari azab ini sebelum perempuan itu memaafkanku dan sebelum ia menemukan jodohnya. Tapi aku telah mati dan tidak bisa meminta maaf kepadanya. Aku lalu bertawasul dengan perantara Imam Ali kw. Kemudian Imam Ali berkata: Nanti akan datang kepadamu seorang salih dan sampaikan pesanmu kepadanya. Kini engkau telah datang kepadaku. Tolong sampaikan permohonan maafku kepada perempuan itu dan keluarganya dan tolong bantu mencarikan jodoh bagi dirinya. Hanya dengan itulah aku bisa selamat dari azab ini," pintanya.

Orang yang salih itu berziarah dan Tuhan menyingkapkan tirai malakut kepadanya. Ia mampu melihat keadaan ahli kubur yang diziarahinya. Kisah ini menunjukkan bahwa ziarah orang salih ke kuburan adalah sebuah amal yang utama walaupun kuburan itu adalah kuburan orang awam, orang kebanyakan. Ziarah tidak hanya dilakukan kepada orang-orang yang salih tetapi juga kepada orang-orang yang biasa.

Contoh lain dari ziarah orang yang mulia kepada orang yang tidak semulia dia adalah kebiasaan Rasulullah saw untuk berkunjung ke kuburan para syuhada Perang Uhud. Banyak di antara para jamaah haji Indonesia yang ketika berangkat ke Madinah tak mengunjungi kuburan para syuhada Perang Uhud itu.

Bahkan kepada Rasulullah pun mereka tak berziarah padahal Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang mengunjungiku setelah aku mati sama seperti mengunjungiku ketika aku hidup." Rasulullah juga bersabda, "Siapa yang naik haji, pergi ke Masjidil Haram, tapi tak mengunjungi aku, ia telah melecehkan aku." Dalam hadis yang lain Rasulullah berkata, "Barang siapa yang berziarah padaku, aku pastikan syafaatku baginya."

Ketika kita meninggal, di malam pertama kesendirian kita, perasaan sedih, cemas, dan takut yang luar biasa akan menyergap kita di alam Barzakh. Malam itu adalah saat yang paling menakutkan bagi ahli kubur. Di waktu itu, sebagian ahli kubur akan mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan dikunjungi Rasulullah saw yang mulia. Mereka yang beruntung itu adalah mereka yang pernah berziarah ke kuburan Rasulullah saw.

Jenis ziarah yang ketiga adalah ziarah dari kaum muslimin yang awam kepada kaum muslimin awam lainnya. Inilah ziarah yang biasa kita lakukan kepada orang tua, karib kerabat, dan saudara-saudara kita. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang diterima dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, "Sering berkunjung kepada kuburan itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat dan kepada maut. Hadis ini juga dimuat oleh Al-Turmudzi dalam shahih-nya.

Ziarah kubur adalah sunnah Rasulullah saw. Ziarah juga adalah cara kita untuk mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita. Al-Quran mencontohkan doa itu: Tuhanku ampunilah orang-orang yang telah mendahului kami dalam keimanan (QS. Al-Hasyr:10). Itulah perintah Al-Quran agar kita mendoakan orang-orang yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Doa itu kita baca ketika berziarah ke kubur.

Perintah ziarah kubur ditujukan baik bagi lelaki maupun perempuan. Bila ziarah kubur itu memiliki pahala dan keutamaan yang amat besar, maka melarang perempuan untuk berziarah akan menyebabkan mereka kehilangan amal salih dan syafaat Rasulullah saw. Islam tidak memberikan ajaran yang diskriminatif; yang hanya menguntungkan kaum lelaki saja.

Sebagian pendapat yang mengharamkan perempuan berziarah didasarkan kepada hadis dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, "Allah melaknat perempuan-perempuan yang berziarah ke kubur." Bila dilakukan penelitian terhadap hadis ini akan ditemukan bahwa dari segi sanadnya, hadis ini tidak cukup kuat. Hadis ini pun bertentangan dengan hadis-hadis lain yang disepakati kesahihannya oleh semua orang, misalnya hadis yang menganjurkan bila kita berkunjung ke kuburan, kita mengucapkan salam kepada para ahli kubur. Hadis itu menceritakan Rasulullah yang mengajarkan bacaan salam bagi ahli kubur kepada Aisyah. Sekiranya perempuan yang berziarah kubur itu dilaknat, Rasulullah tidak akan mengajarkan bacaan salam itu kepada Aisyah, istrinya sendiri.

Hadis yang lain meriwayatkan Rasulullah pernah menemukan seorang perempuan sedang berziarah sambil menangis. Rasulullah tidak melarang perempuan itu berziarah. Beliau hanya berkata, "Penghuni kubur itu sedang diazab padahal keluarganya sedang menangis." Hadis ini lalu menimbulkan kesalahpahaman; bahwa mayit diazab karena tangisan keluarganya. Sampai suatu saat -setelah Rasulullah saw meninggal- Aisyah mendengar Abdullah Ibnu Umar berkata, "Mayit itu disiksa karena tangisan keluarganya." Aisyah lalu berkata, "Semoga Allah menyayangi Abdullah Ibnu Umar. Ia tidak berbohong, ia hanya salah dengar."

Ziarah kubur bermanfaat bagi penziarah dan yang diziarahi. Rasulullah saw bersabda, "Ziarahilah orang-orang yang sudah mati di antara kamu karena mereka bergembira dengan ziarah yang kau lakukan. Dan hendaklah orang menyampaikan hajatnya di kuburan kedua orang tuanya setelah ia berdoa terlebih dahulu kepada mereka." (Biharul Anwar, juz 10, hal. 97)

Riwayat lain dari Dawud Al-Riqqi menyatakan: Aku bertanya kepada Abu Abdillah as, "Kalau ada seseorang berdoa di kuburan bapak, ibu, karib kerabat, atau yang bukan saudaranya, apakah itu ada manfaatnya?" Abu Abdillah menjawab, "Betul, itu bermanfaat. Kunjungan itu akan merupakan hadiah bagi mereka. Hadiah itu akan masuk kepada mereka sama seperti kalian memberikan hadiah bagi sesama kalian."

Salah satu adab ziarah adalah berbicara kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari mengisahkan suatu peristiwa setelah Perang Uhud.

Rasulullah mengajak bicara kepada para jenazah syuhada Uhud, "Apakah kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Rasulullah kepada kalian itu benar?" Umar bin Khaththab berkata, "Ya Rasulallah, kau ajak bicara orang yang mati padahal dia tak mendengarmu." Rasulullah saw menjawab, "Hai Umar, engkau tidak lebih mendengar dari mereka."

Para ahli kubur mendengar ucapan kita sama seperti orang yang masih hidup. Salam yang kita ucapkan kepada para ahli kubur pun pada hakikatnya adalah mengajak mereka bicara: Salam bagi kalian, hai penghuni kampung ini. Kalian telah mendahului kami dan insya Allah, kami akan menyusul kalian.

Satu saat, Imam Ali kw melewati pekuburan. Ia mengajak bicara para ahli kubur, "Hai, penghuni kampung yang penuh kesepian. Hai, penghuni kubur yang penuh kegelapan. Hai, mereka yang bergelimang debu. Hai, mereka yang terasing dari kampung halamannya. Hai, mereka yang dalam kesendirian dan ketakutan. Kalian telah mendahului kami dan kami pasti akan menyusul kalian. Adapun rumah-rumah kalian telah dihuni oleh orang lain. Suami-suami dan istri-istri kalian telah menikah lagi dengan orang lain. Harta-harta kalian telah dibagi-bagikan. Ini berita kami untuk kalian, lalu bagaimana berita kalian untuk kami?"

Imam Ali lalu menengok sahabat-sahabatnya dan berkata, "Kalaulah mereka itu diberi izin untuk berbicara, mereka akan menjawab pertanyaan kita dengan ucapan: Sesungguhnya bekal yang paling baik untuk alam kubur itu adalah takwa."

Adab yang sebaiknya kita amalkan ketika ziarah ke kubur adalah mengucapkan salam seperti di atas. Lalu ketika kita sampai di kuburan, letakkan tangan kita di atas kuburan seraya membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Qadr tujuh kali, surat Al-Ikhlas sebelas kali, Ayat Kursi, serta membaca bagian awal dan akhir dari surat Al-Baqarah. Bila kita masih mempunyai waktu, bacalah surat Yasin di kuburan itu. Setelah itu bacalah doa.

Bila waktu kita sedikit, kita dapat cukup membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Al-Nas masing-masing satu kali saja. Setelah itu lalu membaca doa tawasul kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya agar mayit itu tidak diazab Allah Swt.*** (tamat)

[KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI ]

Mon, 28 Jan 2019 @14:12

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved