AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Riwayat Tahrif Quran berasal dari Pembenci Syiah

image

Hadis yang disebutkan sebagai tuduhan tahrif  dalam Al-Kâfi  adalah sebagai berikut: “Sesungguhnya Al-Quran yang dibawa Jibril a.s. kepada (Nabi) Muhammad Saw adalah 17.000/tujuh belas ribu ayat.”

Hadis di atas diriwayatkan Al-Kulaini dalam kitab Al-Kâfi  pada bab Kitabu Fadhli Al-Quran , bab An- Nawâdir . Para perawi dalam silsilah riwayat di atas adalah tsiqâh  seperti dinyatakan para Ahli Ilmu Rijâl  Syiah.

Karenanya, sebagian orang menyerang Syiah dengan menyatakan bahwa hadis riwayat Al-Kâfi  yang menunjukkan adanya tahrif  di atas adalah sahih. Jadi, berarti Syiah meyakini adanya tahrif .

Padahal, seperti diketahui bersama, baik dalam disiplin Ilmu Hadis Ahlus Sunnah maupun Syiah, bahwa bisa jadi sebuah hadis itu sahih dari sisi sanadnya, dalam arti para perawinya tepercaya/tsiqât , namun sebenarnya pada matannya terdapat masalah. Sebab ketepercayaan seorang perawi bukan segalanya dalam menentukan status sebuah hadis. Kita harus membuka kemungkinan boleh jadi dia lupa, atau salah dalam menyampaikan matan hadis dan sebagainya.

Selain itu, hadis di atas adalah hadis ahâd  (bukan mutawâtir ) yang tidak akan pernah ditemukan baik dalam kitab Al-Kâfi  maupun kitab-kitab hadis Syiah lainnya dengan sanad di atas.

Di samping itu, perlu dimengerti bahwa Al-Kulaini memasukkan hadis di atas dalam bab An-Nawâdir.  Dan seperti disebutkan Syaikh Mufîd, para ulama Syiah telah menetapkan bahwa hadis-hadis nawâdir  tidak dapat dijadikan pijakan dalam amalan, sebagaimana istilah nadir  (bentuk tunggal kata nawâdir ) sama dengan istilah syâdz  (ganjil).

Para Imam Syiah telah memberikan kaidah dalam menimbang sebuah riwayat, yaitu hadis yang syâdz harus ditinggalkan dan kita harus kembali kepada yang disepakati/al-mujma’ ‘alaih .

Imam Ja’far a.s. bersabda, “Perhatikan apa yang diriwayatkan oleh mereka dari kami yang jadi dasar keputusan mereka. Di antara riwayat-riwayat itu, apa yang disepakati oleh sahabat-sahabatmu, maka ambillah! Adapun riwayat yang syâdz dan tidak masyhur menurut sahabat-sahabatmu, maka tinggalkanlah! Karena riwayat yang sudah disepakati itu tidak mengandung keraguan ….”

Sementara hadis di atas tidak meraih kemasyhuran dari sisi dijadikannya dasar amalan dan fatwa, tidak juga dari sisi berbilangnya jalur periwayatannya. Ia sebuah riwayat syâdz nâdirah  (ganjil) dan bertentangan dengan ijmâ’  mazhab seperti yang dinukil dari para tokoh terkemuka Syiah di sepanjang zaman, di antaranya Syaikh Shadûq, Syaikh Mufîd, Sayyid Al-Murtadha ‘Almul Hudâ, Syaikh Ath-Thûsi, Allamah Al-Hilli, Syaikh Ath-Thabarsi, dan puluhan bahkan ratusan lainnya.

Angka 17.000 itu ternyata dalam beberapa manuskrip Al-Kâfi  tertulis 7.000. Dengan demikian, belum dapat dipastikan angka tersebut dari riwayat Al-Kâfi . Bisa jadi kesalahan dilakukan oleh penulis sebagian manuskrip kuno kitab Al-Kâfi .

Anehnya, angka 17.000/tujuh belas ribu ayat telah dinukil dari Al-Kâfi  oleh beberapa ulama yang menuduhkan tahrif  kepada Syiah seperti:

1. Al-Alûsi dalam Mukhtshar Tuhfah al Itsnâ ‘Asyriyah  (hal. 52).

2. Mandzûr An-Nu’mâni dalam Ats-Tsawrah Al-Irâniyha Fî Mîzâni Al-Islâm  (hal. 198).

3. Muhammad Mâlullah dalam Asy-Syiah wa Tahrif 'u Al-Qurân  (hal. 63).

4. Dr. Muhammad Al-Bandâri dalam At-Tasyayyu’ Baina Mafhûmi Al-Aimmah wa Al-Mafhûm Al-Fârisi  (hal. 95).

5. Dr. Shabir Abdurrahman Tha’imah dalam Asy-Syiah Mu’taqadan wa Madzhaban  (hal. 103).

6. Ihsân Ilâi Dzahîr dalam Asy-Syiah wa As-Sunnah : (hal. 80) dan Asy-Syiah wa Al-Qurân  (hal. 31).

7. Dr. Umar Farîj dalam Asy-Syiah Fî At-Tashawwur Al-Qurâni  (hal. 24).

8. Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An Al-Firaq Fî Târîkh Al-Muslimîn  (hal. 228).

Adapun di antara yang menisbatkan tahrif  dalam Syiah yang menyebutkan hadis tersebut dari Al-Kâfi  dengan angka 7.000/tujuh ribu ayat adalah :

1. Musa Jârullah dalam Al-Wasyî’ah  (hal. 23).

2. Abdullah Ali Al- Qashîmi dalam Ash-Shirâ’ Baina Al-Islâm wa Al-Watsaniyah  (hal. 71).

3. Syaikh Muhammad Abu Zuhrah dalam kitab Al- Imâm Ash-Shâdiq  (hal. 323).

4. Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An Al-Firaq Fî Târîkh Al-Muslimîn  (hal. 228).

5. Ihsân Ilâi Dzahîr dalam Asy-Syiah wa Al-Qurân  (hal. 31).

Hadis riwayat Al-Kâfi  di atas, dalam naskah kuno yang dimiliki dan dijadikan pijakan Al-Faidh Al-Kâsyâni dalam penukilan hadis Al-Kâfi  dalam ensklopedia hadis berjudul Al-Wâfi  yang beliau karang, adalah 7.000/tujuh ribu ayat.

Dan beliau tidak menyebut-nyebut adanya riwayat dengan redaksi 17.000/tujuh belas ribu ayat. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa naskah asli Al-Kâfi  yang dimiliki Al-Faidh Al-Kâsyâni redaksinya adalah 7.000/tujuh ribu ayat, bukan 17.000/tujuh belas ribu ayat!

Lebih lanjut baca kitab Shiyânatu Al-Qurân ; Al-Marhum Syaikh Allamah Muhammad Hadi Ma’rifah (hal. 223-224). Jumlah 7.000/tujuh ribu itu disebut tentunya dengan menggenapkan angka pecahan yang biasa dilakukan orang-orang Arab dalam menyebut angka/bilangan yang tidak genap. Demikian diterangkan oleh Allamah Asy-Sya’râni dalamTa’lîqah -nya atas kitab Al-Wâfi .

Sumber: Buku Putih Mazhab Syiah

 

Wed, 23 Mar 2016 @06:06

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved