AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Rukun Islam dalam Mazhab Ahlulbait [Abu Zahra]

image

Rukun Islam (dalam mazhab Ahlulbait) ada lima. Salah satunya wilâyah. Sebagaimana disebutkan dalam hadîts berikut: Dari Ibnu ‘Umar dari Nabi saw berkata, “Islam dibangun di atas lima: Atas di-tauhîd -kan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melaksanakan puasa pada bulan Ramadhân, dan menunaikan haji.”

 

Dari Ibnu ‘Umar dari Nabi saw berkata, “Islam itu dibangun di atas lima: Diibadati Allah dan dikufuri selain-Nya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji ke Al-Bait dan puasa pada bulan Ramadhân."

 

Abdullah berkata: Rasûlullâh saw telah berkata, “Islam dibangun di atas lima: Kesaksian bahwa tidak ada tuhan se-lain Allah dan bahwa Muhammad hamba-Nya dan rasûl-Nya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji ke Al-Bait dan shiyâm pada bulan Ramadhân."

Dan hadîts-hadîts Rasûlullâh saw mengenai rukun Islam yang diriwayatkan oleh khalîfahnya yang kelima, yaitu Imam Muhammad Al-Bâqir as adalah sebagai berikut.

 

Dari Abû Hamzah dari Abû Ja‘far as berkata, “Islam itu dibangun di atas lima: Di atas shalat, zakat, shaum, haji dan wilâyah, dan tidak diserukan sesuatu sebagaimana diserukan dengan wilâyah."

 

Dari Fudhail bin Yasâr dari Abû Ja‘far as berkata, “Islam dibangun di atas lima: Di atas shalat, zakat, shaum, haji dan wilâyah , dan tidak diserukan sesuatu sebagaimana diserukan dengan wilâyah , lalu orang-orang mengambil empat dan meninggalkan ini (yakni wilâyah)."

Abû Ja‘far as berkata, “Islam dibangun di atas lima pilar: Mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, shaum pada bulan Ramadhân, menunaikan haji ke Al-Baitul Harâm, dan wilâyah kepada kami, yakni Ahlulbait."

 

Enam hadîts di atas semuanya disandarkan kepada Nabi saw, dan tiga yang terakhir bila dipanjangkan sanadnya, maka Abû Ja‘far atau Muhammad Al-Bâqir as meriwayatkan hadîts dari ayahnya ‘Ali Zainul ‘Âbidîn as, dia meriwayatkannya dari ayahnya Al-Husain as, dia meriwayatkannya dari ayahnya ‘Ali bin Abî Thâlib as, dan beliau meriwayatkannya dari Nabi saw, dan sanad semacam ini disebut silsilah al-dzahab (mata rantai mas), karena diriwayatkan dari orang suci ke orang suci.

 

Jadi, tiga hadîts yang pertama versi sahabat Nabi dan tiga yang terakhir versi Ahlulbait Nabi. Di sini kita mesti berusaha menyatukan keduanya (tharîqatul jam‘) untuk mendapatkan kesimpulan dan pemahaman yang baik. Maka yang dimaksudkan dengan ungkapan di-tauhîd-kan Allah, atau diibadati Allah dan dikufuri selain-Nya , atau kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad hamba-Nya dan Rasûl-Nya adalah wilâyah.

 

Wilâyah 
Dalam bahasa Arab ada wilâyah dan ada walâyah , kalau walâyah seperti dalam firman Allah, Hunâlikal walâyatu lillâh  dengan fat-hah yang bermakna rubûbiyyah (kepengaturan), yakni Mereka menjadikan Allah pengatur, mereka beriman kepada-Nya dan mereka berlepas diri dari apa yang mereka (orang lain) ibadati.

 

Dan walâyah juga berarti nushrah (pembelaan atau pemihakkan). Dan dengan kasrah (wilâyah ) bermakna imârah (kepemimpinan atau kekuasaan), sebagai mashdar (kata kerja yang dikatabendakan) dari waliya. Dan telah dikatakan: Keduanya (walâyah dan wilâyah) adalah dua bentuk kata dengan makna daulah (negara atau kekuasaan). Dan di dalam kamus Al-Nihâyah: Dengan fathah berarti kecintaan dan dengan kasrah berarti kepengaturan dan kekuasaan.

 

Kalau kita menggabungkan makna walâyah dan wilâyah yang kaitannya dengan Allah, Rasûl-Nya dan Ahlulbait Nabi yang disucikan, maka rukun Islam yang paling utama adalah kita membela mereka, berpihak kepada mereka, berlepas diri dari musuh-musuh mereka, menjadikan mereka yang mengatur serta yang mengelola dan menjadikan mereka yang berkuasa dalam mengatur segala urusan kita, baik urusan pribadi, kelompok ataupun urusan negara bahkan urusan daulah yang sifatnya mendunia secara keseluruhan, dan itulah pemerintahan Tuhan atau teokrasi.

 

Oleh karena itu, Rasûlullâh saw menyerukan yang satu ini, yaitu wilâyah dengan penekanan untuk menunjukkan bahwa wilâyah itu maha penting. Setiap orang yang ber-wilâyah kepada Allah, Rasûl-Nya dan Ahlulbait Nabi saw pasti dia mengamalkan shalat, shaum, zakat, haji dan yang lainnya, tetapi orang yang menunaikan shalat, shaum, zakat dan haji belum tentu ber-wilâyah kepada Allah, Rasûl-Nya dan Ahlulbait Nabi saw.

 

Sumber: Abu Zahra

 

Tue, 25 Oct 2016 @04:57

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved