Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Rukun Islam dalam Hadis Sahabat dan Hadis Ahlulbait

image

Rukun Islam dalam Mazhab Ahlus Sunnah ditetapkan oleh para ulama berdasarkan hadis terdapat lima rukun: Kesaksian atas Allah dan Rasul-Nya, Shalat, Zakat, Puasa Ramadhan, dan Haji. Sedangkan dalam mazhab Syiah Imamiyah (yang biasa dikenal pengikut Ahlulbait Rasulullah saw) juga ada lima, yang diistilahkan dengan furu'ddin atau bunyan al-Islam (bangunan atau fondasi agama Islam).  

Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari sahabat Ibnu ‘Umar dari Nabi Muhammad saw berkata: "Islam dibangun di atas lima: atas di-tauhid-kan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melaksanakan puasa pada bulan Ramadhân, dan menunaikan haji.” 

Dari sahabat Ibnu ‘Umar dari Nabi saw berkata: “Islam itu dibangun di atas lima: Diibadati Allah dan dikufuri selain-Nya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji ke Al-Bait dan puasa pada bulan Ramadhân." 

Sahabat Abdullah berkata: Rasûlullâh saw telah berkata: “Islam dibangun di atas lima: Kesaksian bahwa tidak ada tuhan se-lain Allah dan bahwa Muhammad hamba-Nya dan rasûl-Nya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji ke Al-Bait dan shiyâm pada bulan Ramadhân." 

Kemudian hadis-hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan Ahlulbait, yaitu Imam Muhammad Al-Baqir as sebagai berikut: 

Dari Abû Hamzah dari Abû Ja‘far as berkata: “Islam itu dibangun di atas lima: Di atas shalat, zakat, shaum, haji dan wilayah, dan tidak diserukan sesuatu sebagaimana diserukan dengan wilayah." 

Dari Fudhail bin Yasâr dari Abû Ja‘far as berkata: “Islam dibangun di atas lima: Di atas shalat, zakat, shaum, haji dan wilâyah , dan tidak diserukan sesuatu sebagaimana diserukan dengan wilâyah , lalu orang-orang mengambil empat dan meninggalkan ini (yakni wilâyah)."

Abû Ja‘far as berkata: “Islam dibangun di atas lima pilar: Mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, shaum pada bulan Ramadhân, menunaikan haji ke Al-Baitul Harâm, dan wilayah kepada kami, yakni Ahlulbait.

Hadis di atas semuanya disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Tiga yang terakhir bila dipanjangkan sanadnya maka Abû Ja‘far atau Muhammad Al-Bâqir as meriwayatkan hadîts dari ayahnya ‘Ali Zainul ‘Âbidîn as, dia meriwayatkannya dari ayahnya Al-Husain as, dia meriwayatkannya dari ayahnya ‘Ali bin Abî Thâlib as, dan beliau meriwayatkannya dari Nabi saw, dan sanad semacam ini disebut silsilah al-dzahab (mata rantai mas) karena diriwayatkan dari orang suci ke orang suci. 

Jadi, tiga hadis yang pertama versi sahabat Nabi dan tiga yang terakhir versi Ahlulbait Nabi. Di sini kita mesti berusaha menyatukan keduanya untuk mendapatkan kesimpulan dan pemahaman yang baik. Maka yang dimaksudkan dengan ungkapan di-tauhîd-kan Allah, atau diibadati Allah dan dikufuri selain-Nya atau kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad hamba-Nya dan Rasûl-Nya adalah wilâyah. 

Wilayah 
Dalam bahasa Arab ada wilâyah dan ada walâyah. Kalau walâyah seperti dalam firman Allah: Hunâlikal walâyatu lillâh dengan fat-hah yang bermakna rubûbiyyah (kepengaturan), yakni Mereka menjadikan Allah pengatur, mereka beriman kepada-Nya dan mereka berlepas diri dari apa yang mereka (orang lain) ibadati. 

Dan walayah juga berarti nushrah (pembelaan atau pemihakkan). Dan dengan kasrah (wilâyah ) bermakna imârah (kepemimpinan atau kekuasaan), sebagai mashdar (kata kerja yang dikatabendakan) dari waliya. Dan telah dikatakan: Keduanya (walâyah dan wilâyah) adalah dua bentuk kata dengan makna daulah (negara atau kekuasaan). Dan di dalam kamus Al-Nihâyah: Dengan fathah berarti kecintaan dan dengan kasrah berarti kepengaturan dan kekuasaan. 

Kalau kita menggabungkan makna walâyah dan wilâyah yang kaitannya dengan Allah, Rasûl-Nya dan Ahlulbait Nabi yang disucikan, maka rukun Islam yang paling utama adalah kita membela mereka, berpihak kepada mereka, berlepas diri dari musuh-musuh mereka, menjadikan mereka yang mengatur serta yang mengelola dan menjadikan mereka yang berkuasa dalam mengatur segala urusan kita. 

Oleh karena itu, Rasulullah saw menyerukan yang satu ini, yaitu wilayah dengan penekanan untuk menunjukkan bahwa wilayah itu penting. Setiap orang yang ber-wilayah kepada Allah, Rasul-Nya, dan Ahlulbait Nabi Saw pasti dia mengamalkan shalat, shaum, zakat, haji dan yang lainnya. Namun, orang-orang yang menunaikan shalat, shaum, zakat, dan haji belum tentu ber-wilayah kepada Allah, Rasûl-Nya, dan Ahlulbait Nabi saw. *** (Abu Zahra)

  

Tue, 25 Oct 2016 @04:57

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved