AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Cara Memandikan Jenazah [Abu Zahra]

image

Jenazah dimandikan karena ada kaitannya dengan hadats besar karena pada saat pencabutan nyawa keluarlah sperma dari bagian tubuhnya. Hukum memandikannya wajib yang bersifat kifâyah dan dikecualikan dari itu beberapa golongan.
1.    Janin yang gugur yang usianya belum mencapai empat (4) bulan, maka dia tidak wajib dimandikan, cukup dibungkus saja dengan sehelai kain lalu dikuburkan.

2.    Syahîd atau syahîdah, yakni orang yang gugur (terbunuh) dalam perang di jalan Allah karena membela dan memperjuangkan Islam yang suci, dia tidak dimandikan, tidak di-tahnîth dan tidak dikafani, melainkan dikubur saja dengan pakaiannya, kecuali jika dalam keadaan telanjang, maka dia dikafani. Syahîd atau syahîdah yang tidak dimandikan, tidak di-tahnîth dan tidak dikafani itu adalah orang yang ruhnya keluar pada saat perang atau orang yang ke-syahâdah -annya ditemukan di luar medan perang.

3.    Orang yang meninggal karena dihukum rajam atau qishâsh (hukum balas).

Adab-adabnya
1.    Jenazah ditempatkan di tempat yang agak tinggi seperti dipan atau yang lainnya yang tempat kepalanya lebih tinggi dari kedua kakinya.
2.    Diletakkan dengan menghadap ke kiblat seperti pada saat ihtidhâr.
3.    Ditanggalkan pakaiannya dari arah kedua kakinya.
4.    Tempatnya di bawah atap atau di dalam tenda.
5.    Menggali tanah untuk mengalirkan air bekas memandikannya ke situ.
6.    Telanjang, namun ditutup auratnya.
7.    Ditutup auratnya sekalipun orang-orang yang memandikannya dan orang yang hadir adalah orang yang boleh melihatnya.
8.    Melenturkan jari-jemarinya dengan lembut, demikian pula semua sendi-sendinya apabila tidak ada kesulitan.
9.    Mencuci kedua tangannya sehingga pertengahan lengannya atau hastanya, masing-masing sebanyak tiga (3) kali, utamanya pencucian pertama dengan memakai daun bidara, yang keduanya dengan air yang dicampur kapur barus dan yang ketiganya dengan air murni tanpa campuran apa pun.
10.    Mencuci kepalanya dengan buih bidara dengan hati-hati agar tidak masuk ke dalam hidungnya atau ke dalam telinganya.
11.    Mencuci kemaluannya dengan air yang telah dicampur dengan bidara sebelum memandikannya sebanyak tiga (3) kali, utamanya dengan sepotong kain di tangan kiri, kemudian membersihkan kemaluannya.
12.    Menyapu perutnya dengan lembut pada mandi yang pertama dan yang kedua, kecuali perempuan yang hamil yang anaknya meninggal di dalam perutnya.
13.    Pada setiap memandikan dimulai dari sebelah kanannya.
14.    Orang yang memandikan mayyit sebaiknya berdiri di sebelah kanan mayyit.
15.    Orang yang memandikannya mencuci kedua tangannya sampai sikut bahkan sampai ke bahu pada setiap memandikan sebanyak tiga (3) kali.
16.    Mengusap-usap badannya pada saat memandikannya dengan tangan untuk menambah kesempurnaan, kecuali jika dikhawatirkan ada sesuatu yang terlepas dari bagian badannya, maka cukup saja dikucurkan air di atasnya.
17.    Dimandikan dengan air sebanyak enam (6) geribah (sekitar 3 ember yang sedang).
18.    Setelah dimandikan, dikeringkan dengan kain yang bersih.
19.    Diwudhukan seperti wudhu untuk shalat sebelum dimandikan pada mandi yang pertama dan yang kedua.
20.    Dicuci setiap anggotanya sebanyak tiga kali pada setiap mandi.
21.    Jika orang yang memandikannya akan mengkafaninya, maka hendaknya dia mencuci kedua kakinya sehingga kedua lututnya.
22.    Orang yang memandikannya hendaknya dia sibuk dengan mengingat Allah dan ber-istighfâr pada waktu memandikan jenazah dan lebih utama apabila dia berulang-ulang mengucapkan kalimat: Allâhumma hâdzâ badanu ‘abdikal mu`min (jika perempuan: amatikal mu`minah ) wa qad akhrajta rûhahu min badanihi (jika perempuan: rûhahâ min badanihâ ) wa farraqta bainahumâ, ‘afwaka, ‘afwaka. (Ya Allah, ini badan hamba-Mu yang beriman yang telah Engkau keluarkan ruhnya dari badannya, dan telah Engkau pisahkan di antara keduanya, maaf-Mu, maaf-Mu).
23.    Tidak menampakkan aibnya yang ada pada badannya apabila orang melihatnya.

Beberapa Perkara yang Dibenci (Makrûh)
1.    Mendudukkannya pada waktu memandikannya.
2.    Melangkahinya pada saat memandikannya.
3.    Mencukur rambutnya.
4.    Mencabuti bulu ketiaknya.
5.    Menggunting kumisnya.
6.    Memotong kukunya.
7.    Menyisiri rambutnya.
8.    Membersihkan kukunya dengan alat.
9.    Memandikannya dengan air yang dipanaskan.
10.   Mengalirkan air bekas memandikannya ke dalam toilet.
11.   Mengusap-usap perut jenazah perempuan yang hamil.

Syarat Orang yang Memandikan
1.    Telah dewasa.
2.    Berakal.
3.    Beriman (kepada dua belas khalîfah Rasûlullâh).
4.    Mumâtsil, yaitu orang yang memandikan dengan jenazah yang dimandikannya itu sejenis. Maka lelaki tidak boleh memandikan jenazah perempuan atau sebaliknya, kecuali dalam beberapa perkara: 1. Anak yang umurnya tidak lebih dari tiga tahun boleh dimandikan oleh lelaki atau perempuan. 2. Suami atau istri masing-masing boleh dimandikan oleh yang lainnya. 3. Muhrimnya boleh memandikan jika tidak ada mumâtsil.

Cara Memandikan Jenazah
Pertama-tama harus dihilangkan benda-benda najis yang melekat pada tubuhnya jika ada, kemudian dimandikan sebanyak tiga kali: Mandi yang pertama dengan air yang dicampur daun bidara yang telah diremas-remas, mandi kedua dengan air yang dicampur kapur barus (kamper), dan mandi ketiga dengan air murni yang tidak dicampur oleh apa pun, dan memandikan jenazah (mayyit ) itu tidak memakai sabun atau shampo (cairan sabun pencuci rambut yang terbuat dari campuran zat kimia). Cara mandi yang tiga ini seperti mandi janâbah, dimulai dengan mencuci kepala, kemudian leher bagian depan dan belakang, kemudian badan kanan berikut tangan dan kakinya dan kemudian badan kiri berikut tangan dan kakinya.

Hukum yang Berkenaan dengan Air

Pertama, jika kapur barus dan bidara telah tersedia atau salah satunya, hukum memandikan jenazah itu ada beberapa gambaran. Apabila yang tidak ada itu daun bidara, dia dimandikan dengan air murni sebagai penggantinya, kemudian dengan air bercampur kapur barus, kemudian de-ngan air murni. Bila yang tidak ada itu kapur barus, maka dimandikan dengan air campuran bidara sebagai mandi yang pertama, kemudian dengan air murni sebagai pengganti air campuran kapur barus dan kemudian dengan air murni lagi sebagai mandi yang ketiga. Apabila keduanya tida diperoleh, maka dia dimandikan dengan air murni sebanyak tiga kali mandi.

Kedua, apabila air buat memandikan jenazah itu tidak ada, dia ditayammumkan sebanyak tiga kali sebagai pengganti mandi yang tiga. Demikian pula mayyit yang terluka atau terbakar yang dikhawatirkan kulit-kulitnya terkelupas.

Ketiga, bila air hanya cukup untuk satu kali mandi dan daun bidara ada, dia dimandikan dengan air yang dicampur dengan daun bidara, lalu ditayammumkan dua  kali sebagai pengganti air kapur barus dan air murni. Dan jika bidara tidak ada, maka dia dimandikan dengan air murni sebagai penggantinya, kemudian ditayammumkan dua kali.

Keempat, apabila tidak ada air kecuali sekedar untuk mandi dua kali, maka berikut ini gambarannya. Apabila campuran yang ada itu hanya bidara, dia dimandikan dengan air bidara (mandi yang pertama), kemudian dengan air murni sebagai pengganti air kapur barus, kemudian ditayammumkan sebagai pengganti air murni. Bila campuran yang ada itu kapur barus, dia dimandikan dengan air murni sebagai pengganti air bidara, kemudian dengan air kapur barus, kemudian ditayammumkan. Jika kedua campuran itu ada, maka air digunakan untuk itu dan dia ditayammumkan sebagai pengganti air murni.

Kelima, apabila orang yang sedang ihrâm dalam haji, kemudian dia meninggal sebelum memotong rambut atau kuku di dalam ‘umrah atau meninggalnya sebelum sa‘i antara Shafâ dan Marwah di dalam haji, maka dalam mandi yang kedua tidak boleh memakai kapur barus dan tidak boleh di-tahnith . (Abu Zahra )

 

Wed, 13 Jan 2016 @04:48

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved