AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Bung Karno: Pelanjut Pesan Para Nabi [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Bulan Juni, 44 tahun yang lalu, jalan-jalan yang panjang menuju Blitar dipenuhi oleh iring-iringan rakyat kecil;  prosesi manusia yang bergerak dari gubuk-gubuk kecil, pematang-pematang sawah,  jembatan-jembatan sungai,  lorong-lorong yang kumuh. Tidak ada suara yel-yel yang memberitahu kepada kita kelompok politik apa mereka itu. Tembuslah kebisuan barisan mereka. Kita mendengar isak-tangis tertahan dan deraian air mata yang  tak terbendung. Hari itu, pukul  07.00 pagi, manusia yang lahir dari keluarga miskin meninggal sebagai orang miskin; manusia yang mempersembahkan hidupnya untuk membebaskan  rakyat menghembuskan nafasnya yang terakhir  di penjara yang dibuat oleh rakyat yang dibebaskannya. 

Telah pergi seorang pecinta rakyat kecil. Telah berangkat kepada Tuhan yang Mahakasih seorang  hambaNya yang lahir dari tengah-tengah orang kecil, berjuang untuk membebaskan orang  kecil, dan  ketika berkuasa menjalankan pemerintahannya demi kepentingan  orang kecil.

Ia bukan Kiyai, ia bukan tokoh agama, tetapi ia melanjutkan perjuangan para Nabi as.  Kata Ali Syari’ati, Nabi-Nabi Ibrahimiah (keturunan Ibrahim) dibedakan dari Nabi-nabi yang non-Ibrahimiyah karena  pemihakannya pada  orang-orang kecil, pada rakyat yang tertindas.  Ibrahim  lahir di Kampung Ur, dusun terasing di tengah-tengah sahara.  Ia berjuang melawan Namrud, tiran yang berkuasa, di tengah-tengah pusat peradaban.  Ia kirimkan  istrinya ke tengah-tengah gurun yang gersang untuk melahirkan generasi baru yang mengubah peradaban dunia. 

Musa lahir dari tengah rakyat yang terusir dari negerinya. Ia berjuang melawan tiran Fir’aun untuk  membebaskan bangsa Israel yang tertindas dan budak-budak  yang dijadikan batu-batu piramid yang dibangunnya.  Isa lahir di palungan di kandang domba, dari keluarga tukang kayu yang baik hati dan sederhana.  Isa berjuang membersihkan rumah-rumah ibadat dari para rahib yang menjual agama untuk kepentingan dunia.  Ia turun dari bukit dan  berkhotbah, “Berbahagialah, hai kamu  yang miskin, karena kamulah yang empunya kerajaan Allah.” 

Nabi Muhammad saw  lahir sebagai anak yatim dari keluarga yang hampir-hampir tidak sanggup membayar orang untuk  menyusukan anaknya.  Seperti Isa yang turun dari bukit, ia membacakan ayat-ayat Allah di depan Ka’bah di tengah-tengah orang-orang kaya yang pongah, “Celakalah  pencaci dan pemaki, yang mengumpul-ngumpul harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira hartanya akan mengekalkan dia. Tidak sekali-kali. Ia kan dilemparkan ke neraka… Celakalah orang-orang yang salat, yang memamerkan kesalehannya, dan tidak mau berbagi kekayaan.”

Rasulullah saw berjuang menumbangkan para tiran dan membagikan kekayaan  dengan aturan Tuhan.  Ketika ia memegang tangan pekerja yang kasar, ia menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak  akan pernah disentuh api neraka selama-lamanya.”  Ketika ia meninggal dunia, putrinya Fathimah menangis dan berkata, “Telah tiada pelindung anak-anak yatim, janda, dan orang-orang miskin!”
21 Juni, 44 tahun yang lalu, rakyat kecil merintih seperti Sayyidah Fathimah, “Hari ini telah tiada pembela rakyat kecil, pembebas orang tertindas,  pelanjut perjuangan para Nabi saw.  Telah hilang  seorang manusia yang  melawan kapitalis besar dunia dengan tegar, yang  gema suaranya terdengar di seluruh dunia: Amerika kita setrika, Inggris kita linggis!”

Bung Karno sering dituduh oleh aktivis Islam sebagai pemimpin sekular. Ia tidak dianggap sebagai pemimpin Islam. Dalam politik ia dianggap mewakili nasionalis dan  nasionalis dianggap lawan Islam.  Dalam serial tulisanku, akan kutunjukkan bahwa Bung Karno adalah Muslim nasionalis yang ideologi Islamnya ditegakkan di atas pembelaan pada orang-orang tertindas, bukan pada jidat yang terkelupas; pada perjuangan para Nabi Ibrahimiyah,  yang kesalehannya ditampakkan dalam perkhidmatan pada orang-orang miskin bukan pada kerajinan salat di malam yang dingin.

Pada 24 April 1960, Universitas al-Azhar al-Syarif di Kairo  memberikan gelar doctor honoris causa dalam filsafat pada Presiden Soekarno. Prof  Dr Mahmud Syaltut, rector Al-Azhar berkata, “ Universitas al-Azhar  pada hari ini menyambut Paduka Yang Mulia selaku salah seorang Pemimpin Besar dari gerakan kemerdekaan di negeri-negeri Islam. Menyambut seorang pejuang yang telah berkecimpung dalam perjuangan untuk membebaskan tanah airnya, rela berkorban demi keluhuran bangsanya, tanpa memperdulikan segala akibat, baik penjara, pengasingan dan pahit getir penderitaan dalam membela bangsa, menegakkan kemerdekaan dan mempertahankan kejayaan hidup.”

Gelar doktor sangat layak diberikan kepadanya oleh lembaga pendidikan Islam yang paling terhormat sepanjang sejarah Islam.  Al-Azhar menyebut Bung Karno sebagai Pemimpin Besar dari gerakan kemerdekaan di negeri-negeri Islam. Ia pemimpin besar umat Islam Indonesia yang mungkin masih dikenang di Mesir, tetapi dilupakan di negerinya sendiri. Mari kita kenang kembali Pemimpin Islam yang besar karena pengabdiannya kepada sesama umat manusia, bukan karena kekhusyukannya dalam berzikir dan berdoa. 


KH JALALUDDIN RAKHMAT adalah Ketua Dewan Syura IJABI dan calon anggota legislatif untuk daerah pemilihan Kabupaten Bandung dan Bandung Barat

Sumber: Majulah Ijabi

Sat, 13 Feb 2016 @06:06

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved