AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Kain dan Musafir [Miftah F. Rakhmat]

image

Alkisah seorang musafir datang dari negeri yang jauh. Ia beristirahat di sebuah kota. Esok harinya, kepada penduduk kota ia bertanya: Di manakah disini ada seorang penjahit yang sangat piawai? Sungguh, aku memiliki banyak sutra indah. Ingin aku mengubahnya menjadi pakaian yang terindah."

Orang-orang kota menjawab: “Ada seorang penjahit disini. Dia mahir mengubah bentuk, menenun kain, dan menjahit pakaian. Tapi sungguh, janganlah engkau pergi menemuinya. Ia penipu yang ulung. Meski pakaian yang dihasilkannya termasyhur di seluruh negeri.”

Musafir itu berkata: “Tunjuki aku tempatnya. Ingin aku menemuinya. Dialah yang berhak mengubah kain sutraku menjadi pakaian yang gemerlap."

Meskipun orang-orang kota berusaha berulang kali memperingatkan, musafir itu tak bisa lagi dialihkan. Ia tetap meminta agar orang tersebut menunjukinya jalan menuju penjahit itu. Maka alamat pun diberikan. Melangkahlah ia, bergegas mencarinya, hingga tiba di tempat tujuannya. Setelah mengucapkan salam, ia pun masuk ke dalam. Di depannya tampak sang penjahit menunggu. Dengan gunting dan meteran, ia menyapanya dengan penuh keramahan.

Ajaib, pikir sang musafir, orang seperti ini dianggap seorang penipu yang sangat ulung. Ia pun menyampaikan maksud kedatangannya. Kepada sang penjahit ia berikan gulungan kain sutra yang sangat panjang., indah tak terbayangkan. Ia memohon agar dijahitkan baginya pakaian yang sangat indah, terindah yang pernah dibuatnya. Ia berkata bahwa pakaian ini akan ia pakai untuk tujuan berikutnya : menemui Sang Raja di negeri yang akan dikunjunginya. Bukankah pakaian untuk menemui Sang Raja, haruslah yang memang pantas dan layak baginya?

Sang penjahit tersenyum. Ia sepenuhnya memahami maksud tamunya. Dengan penuh keramahan, ia berkata : “Tuan, akan aku buatkan untuk tuan, pakaian yang tercantik, yang belum pernah dilihat seluruh negeri. Bahan kain sutra yang Tuan miliki adalah yang terbaik, yang tak pernah bisa didapat semisalnya, tentulah akan hamba buatkan darinya pakaian yang pantas untuknya. Tetapi Tuan, selayaknya seorang penjahit, izinkan hamba mengukur tinggi dan besar Tuan, hingga tampak indah pakaian itu terurai di tubuh Tuan.”

Maka mulailah ia mengukur panjang lengan, lingkar di pinggang dan sebagainya. Sambil tangannya bergerak ke atas dan kebawah, ia memohon izin agar diperkenankan menyampaikan cerita barang satu atau dua, agar tak jenh musafir itu menantinya. Cerita demi cerita, kisah demi kisah pun mengalir dari lisannya. Rupanya, bukan hanya tangannya yang cekatan, lidahnya pun dengan piawai melantunkan dongeng dan legenda. Musafir itu terlena dibuatnya.

Pada kisah tragedi, ia bersedih hati. Ketika tertawa, ia tertawa begitu rupa hingga mengalir air matanya. begitu pun ketika menangis, tak kuasa juga ia tahan deras tangisnya. Hampir pada setiap kisah itu, ia menyeka air matanya.

Ketika musafir itu menyeka air matanya, ketika ia menutup dan mengatupkan kedua kelopak matanya, dengan cepat, sang penjahit meraih gunting dan memotong kain sutra bawaannya. Ia menyembunyikannya di tempat yang dirahasiakannya.

Begitu berulang. Sang musafir tak tahu, tipuan sang penjahit telah berlaku atasnya. Setiap kali ia menutup matanya, secepat kilat gunting sang penjahit memotong kain sutranya. Hingga tibalah saat, ketika penjahit itu berkata, “Tuan, maafkan saya, kain yang Tuan bawa tak cukup untuk saya jahitkan pakaian.”

Musafir itu terkejut. Ia merasa ia membawa kain sutra itu bergulung-gulung. Dihadapkanlah padanya gulungan kain sutra yang tinggal sedikit tersisa. Ia tak tahu bagaimana peristiwanya terjadi. Kain yang sangat banyak kini tak lagi berguna. Berangkatlah ia menyadari bahwa benarlah peringatan penduduk kota : penjahit ini adalah penipu yang sangat piawai.

Kisah diatas diceritakan Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-nya. Dalam penafsirannya tentang cerita itu Rumi berkata : Kisah musafir adalah perumpamaan hidup manusia. Musafir itu adalah kita semua; yang berjalan dari satu alam menuju alam yang lain; yang menjalani kehidupan yang sudah dibentangkan dari hikmah Tuhan. Kain sutra yang indah itu adalah jatah usia kita, yang mestinya kita tenun menjadi pakaian yang indah untuk menghadap “Sang Raja”.

Para penduduk kota adalah para nabi, pembawa risalah yang diutus untuk mengingatkan manusia. Sang penjahit adalah perumpamaan kehidupan dunia. Ia menyuguhi kita dengan hidangan cerita-cerita. Kadang kita tertawa bahagia, kadang musibah tak henti membawa duka. Tanpa kita sadari, episode demi episode kehidupan telah kita jalani. Hingga datanglah saat, seperti penjahit itu, dia berkata kepada kita: sisa usia kita tak cukup untuk merangkai amal demi perjalanan panjang menuju Tuhan nanti. 

Tajassum al-A’mal

Saya ingin mengantarkan pembahasan tentang tasawuf dengan cerita dari Rumi itu tentang tasawuf dengan cerita dari Rumi itu tentang tajassum al a’mal, perwujudan amal kita. Bukankah Al-Qur’an mengatakan bahwa kita akan melihat “bentuk” dari perbuatan kita?

Menurut Rumi dan banyak ulama sufi, yang abadi dari diri kita adalah ruh. Jasad boleh berganti, tetapi ruh tetap abadi. Ruh jualah yang telah menjalani perjalanan panjang; mulai alam dzar, alam arwah, alam janin, alam dunia, dan kelak alam akhirat nanti.

Pada setiap alam itu, “pakaian” untuk ruh itu disesuaikan dengan amal kita. Pakaian kita untuk alam ini adalah jasad kita. Pakaian kita untuk alam nanti adalah amalan-amalan kita. Syeikh Jawadi Amuli dan Ayatullah Mazhahiri merinci dengan cermat bagaimana amalan-amalan kita berpengaruh terhadap perjalanan panjang kita kembali kepada Tuhan.

Tasawuf, dan syari’at pada umumnya, adalah perjalanan untuk merangkai usia menjadi pakaian yang sangat indah itu. Agar tenang kita menghadap Sang Raja. Agar tenteram kita kembali kepada-Nya.

Miftah F. Rakhmat adalah penulis buku Tasawuf for Beginners 

Mon, 29 Jun 2015 @13:39

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved