Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Agamawan, Aktivis dan Akademisi Menyoal Keabsahan Buku MUI (1)

image

Kepastian status buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia , apakah itu produk resmi lembaga MUI atau terbit sekadar atas inisiatif pribadi beberapa oknum internal yang sengaja mengatasnamakan MUI, hingga saat ini belum menemukan titik terang. Pasalnya, dua kali surat permohonan audiensi yang kami kirimkan ke beberapa orang yang kami anggap tepat sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terbit dan tersebarnya buku itu, sama sekali tidak merespon.


Di antara para pihak itu, hanya Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Ketua MUI bidang Pengkajian dan Penelitian, yang di buku itu selain memberikan Kata Sambutan atas nama MUI juga berposisi selaku Pengarah, beberapa waktu yang lalu baru memberikan tanggapan. Itu pun berupa konfirmasi yang dititipkan ke pihak Sekretariat MUI, Isa Ansori, bahwa Yunahar dengan tegas menolak diklarifikasi soal buku itu, tanpa memberikan alasan apa pun terkait penolakannya tersebut.

 

Sekadar mengingatkan kembali bahwa selain Yunahar, para oknum MUI yang terlibat dalam penerbitan buku itu di antaranya adalah Ma’ruf Amin, Ichwan Syam dan Amirsyah selaku Pengarah. Sementara nama-nama lain seperti Utang Ranuwijaya, Cholil Nafis, Fahmi Salim, Muhammad Ziyad, Buchori Muslim, Hasanudin, Ansrorun Ni’am, Hasanudin Maulana, Muhammad Faiz, tercantum di buku itu selaku para Pelaksana.

 

Karena itu, sambil menunggu pernyataan tegas dan resmi dari MUI (dalam hal ini terutama oknum MUI yang terlibat sebagaimana kami sebutkan di atas), perihal terlanjur beredarnya buku tersebut, kami tim ABI Press mulai merangkum pendapat sejumlah tokoh masyarakat; agamawan, aktivis, dan akademisi, terkait sikap mereka atas buku merah MUI. Hingga saat ini baru 5 orang yang berhasil kami wawancarai, yaitu:

 

Mohammad Monib, MA (Direktur Ekskutif Nurcholish Madjid Society/ NCMS)

Menurut Mohammad Monib, jangan-jangan buku merah MUI adalah daur ulang isu yang telah terjadi ribuan tahun lalu. Jika benar demikian maka hal itu hanyalah buang-buang energi. Monib menegaskan, seharusnya kita sudah tak lagi fokus pada isu-isu yang sudah basi. Sebenarnya buat apa sebuah buku yang tak lebih dari daur ulang isu kuno diletupkan kembali lalu digunakan sebagian orang atau kelompok tertentu sebagai cara untuk menyebarkan pemahaman mereka? “Tapi mungkin saja cara itu memang sudah menjadi model yang digemari kelompok-kelompok penyesat itu untuk saat ini,” ujar Mohammad Monib saat ABI Press temui di kantornya, jalan Ampera Raya Jakarta Selatan.

 

Tentang adanya klaim pihak penerbit buku bahwa “Mengenal dan Mewaspadai Syiah di Indonesia,” adalah sebuah hasil penelitian, Monib menjelaskan bahwa, penelitian itu ada dua jenis yaitu Qualitatif dan Quantitatif. Penelitian Quantitatif masuk dalam basis data dan bersifat deskriptif dengan cara mengumpulkan sejumlah literatur dan buku yang dimiliki, karenanya bisa disebut juga sebagai penelitian dalam artian penelitian Kepustakaan. Maka dari itu Monib menegaskan, perlu adanya validasi terkait buku tersebut. Jangan-jangan buku yang sudah terlanjur menghebohkan masyarakat awam ternyata isinya hanya sekadar sampah dan tak dikenal sebagai buku layak baca di kalangan intelektual Islam.

 

Kekhawatiran bila buku itu akan dapat memicu konflik di akar rumput disetujui Monib, dengan alasan sangat lemahnya penegakan hukum saat ini. Kuat dugaannya bahwa buku semacam itu justru hanya akan membawa lebih banyak keburukan daripada membawa manfaat bagi umat.

 

Sangat disayangkan bila lembaga sekelas MUI terkait penerbitan dan penyebaran buku ini terindikasi telah berlaku kurang arif dan bijak. Dalam artian bukan justru menebar kedamaian dan menganjurkan ukhuwah tapi justru sedang membakar akar rumput dan menjadi faktor penyebab api disharmonisasi dan intoleransi semakin membara.

Tak hanya soal buku, bahkan setiap produk fatwa MUI pun mestinya wajib diuji terlebih dahulu di ruang publik sebelum penetapannya.

 

Gunanya adalah untuk mengetahui sejauh mana asas manfaatnya. Kenapa? Karena nalar kehadiran Islam adalah untuk membawa kedamaian. Jadi, bila sebuah fatwa bertentangan dengan hal itu, bisa dikatakan keberadaannya tidak membawa manfaat bagi umat. Dan bila nyata-nyata tidak membawa manfaat, mengapa harus diada-adakan?

 

Di akhir wawancara Mohammad Monib menekankan agar umat Muslim kembali ke akar Islam. Tuntutlah ilmu dan pengetahuan dan bertanyalah kepada orang yang benar-benar alim. Perlu diingat bahwa menjadi Muslim itu adalah sebuah proses panjang. Berislam itu proses ‘menjadi’ dan predikat Muslim sejati dapat diraih tak cukup hanya dengan sekadar membaca dua kalimah syahadat.

 

“Kalau kita hanya berkutat pada ritual, tentu kita tak akan sampai pada ‘kedalaman’ Islam. Seorang muslim itu ibarat lebah. Apa yang ia keluarkan hendaknya membawa sesuatu yang ‘manis’ bagi yang lain. Jadi betapa pentingnya seluruh umat Islam tak lelah belajar, agar setiap perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan dengan benar, baik di dunia maupun di akhirat,” anjur Monib sekaligus berpesan kepada seluruh umat Islam Indonesia agar tak kenal lelah memfungsikan akal, lebih mendalami makna menjadi seorang Muslim, dan tak merasa cukup hanya sekadar beridentitas Islam KTP saja.

 

KH Abdul Muhaimin (Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat di Kotagede, Yogyakarta dan Koordinator Forum Persaudaraan Umat Beragama/FPUB).

 

Dari tokoh muda Islam, kita beralih ke tokoh Islam senior yaitu Kyai Haji Muhaimin asal Yogyakarta. Menurutnya, buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia“ yang diklaim sejumlah orang dikeluarkan oleh MUI, kemudian diblow up dan menjadi pembenaran bagi kelompok-kelompok garis keras untuk menghakimi Syiah dengan cara melakukan bedah buku dimana-mana, tak lebih, isinya adalah kumpulan hujatan.

 

“Bagaimanapun juga ideologi mereka adalah ideologi takfiri, beda sedikit kemudian dikafirkan,” tegas Kyai Muhaimin kepada ABI Press saat ditemui di sela acara Dialog Kebangsaan GMP Bung Karno di hotel Borobudur, Jakarta.

 

Saat kami tanyakan, apa yang sebenarnya terjadi saat ini di tubuh MUI? Ada apa kok tiba-tiba muncul buku pemecah-belah yang meresahkan itu justru dari sebuah lembaga yang seharusnya jadi pemersatu? Kyai Muhaimin menyatakan dengan tegas bahwa proyek ini dikendalikan oleh sebuah kekuatan besar. Menurut informasi yang didapatnya, untuk tahun ini saja mereka akan mengadakan bedah buku tersebut di sembilan puluh kota di Indonesia. Karena itu dia berpendapat bahwa hal Ini sudah selayaknya menjadi kewaspadaan kita bersama. Bila dibiarkan, tak mustahil naiknya intoleransi yang sengaja diciptakan kekuatan besar itu akan berdampak buruk, mengacaukan jalinan kerukunan umat Islam yang selama ini sudah harmonis di Indonesia.

 

“Kelihatannya lembaga seperti MUI maupun FKUB ini sudah dimasuki kelompok-kelompok takfiri. Mereka sengaja, by design, memang berkeinginan kuat untuk menguasai ormas-ormas itu” tuturnya.

Lebih lanjut Kyai Muhaimin menjelaskan, sungguh naif dan meresahkan bila hubungan antar manusia selalu harus diukur dari satu sudut pandang teologi saja. Padahal dalam bergaul dan bermasyarakat kita juga harus memandang orang lain dari sudut pandang kemanusiaan. Manusia itu kan ciptaan Tuhan yang paling unggul. Maka kalau kita ingin memuliakan Tuhan, sudah seharusnya juga mampu memuliakan ciptaan-Nya.

 

“Jadi siapapun manusia yang datang ke rumah saya, beragama atau tidak beragama, sudah tentu tetap akan saya layani sebagai manusia. Jangankan manusia, kucing saja datang ke rumah saya tidak bawa agama, saya kasih makan kok,” pungkasnya.

 

Sumber: Ahlulbait Indonesia

 

Wed, 15 Feb 2017 @18:28

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved