AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Jalaluddin Rakhmat itu Mengajak Berpikir Kritis

image

Di Indonesia, Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) termasuk dalam jejeran cendekiawan Islam yang ternama. Beliau tidak hanya menguasai satu dua bahasa, bahkan lebih.

Dengan kecakapannya ini Kang Jalal mampu melanglang buana melampaui berbagai disiplin ilmu. Tidak hanya ilmu komunikasi yang digelutinya, akan tetapi juga ilmu politik, hubungan internasional, hadis, filsafat, tafsir, psikologi, sejarah, dan lainnya. Semuanya cukup matang beliau kuasai. Dari itu, ketika beliau mengkaji suatu masalah, maka berbagai perspektif atau sudut pandang dalam melihat masalah itu dapat beliau sertakan.

Terkait dengan metode kritik historis terhadap hadis-hadis Nabi yang telah berlalu pembahasannya, Kang Jalal juga mampu memberi warna yang unik. Unsur-unsur filsafat, sejarah, politik, dan lainnya masuk menyertai analisisnya.

Ini bisa terlihat dari kecurigaannya ketika mengupas sumber-sumber munculnya puasa Asyura. Menurutnya praktik itu kemungkinan besar dimotori oleh kekuatan politik Bani Umayyah.

Begitu pula dengan kecurigaannya terhadap mereka yang memanfaatkan hadis Nabi tentang “antum a’lamu bi umuri dunyakum.” Menurutnya bisa jadi hal ini didesakkan karena adanya keinginan untuk memisahkan dunia dari unsur-unsur keagamaan. Sehingga pada gilirannya nanti, sekularisasi menjadikan agama berada di bawah ketiak masalah-masalah keduniawian. Ia hanya menjadi pelarian individu. Dan dengan begitu ia hanya menjadi hiasan dinding yang tidak bisa dibawa ke ruang publik.

Dari itu, Kang Jalal menyeru umat agar lebih sensitif untuk terus mengkritik. Aspek ritual bagi Kang Jalal hendaknya diseimbangkan dengan aspek intelektual. Ketimpangan atau penekanan yang berlebih pada salah satu aspek akan melemahkan tubuh umat.

Oleh karena itu, dalam hal ini umat dihadapkan pada dua pilihan: mendobrak atau mengucilkan diri. Untuk mendobrak diperlukan dua hal: wawasan ilmiah dan keberanian – intelektualitas dan integritas.

Cuma sayangnya umat lebih memilih alternatif kedua. Mereka lebih senang mengucilkan diri, dan lari ke dalam tradisi tasawuf yang tidak militan.

Dengan adanya fakta yang demikian, Kang Jalal akhirnya terus mengumandangkan seruannya lebih keras lagi. Beliau berkeinginan, bahwa pada suatu saat nanti banyak militan-militan muda dari kaum cerdik pandai meneruskan tradisi ini, sehingga pada urutannya nanti Indonesia menjadi model masyarakat Islam yang baik di mata dunia. Islam yang anggun, berbobot, yang tidak hanya menampilkan wajah ritualnya saja, akan tetapi juga dibarengi dengan wajah manis intelektualnya.

Terakhir kalinya, menarik untuk penulis ungkapkan, bahwa menurut Kang Jalal, bila para pembaru Islam terdahulu memulai kiprahnya dari kritik terhadap hadis (Ingat bagaimana Muhammadiyah dan PERSIS "men-dha'if-kan" hadis-hadis yang dipergunakan orang-orang NU), mengapa kita tidak mau melanjutkannya.

Konon Imam Bukhari bermimpi, ia duduk di hadapan Rasulullah saw, dan di tangannya ada kipas untuk mengusir lalat agar tidak mengenai tubuh Nabi saw.

Ketika ia bertanya kepada orang-orang pandai apa arti mimpi itu, mereka berkata, "Anda akan membersihkan hadis Nabi saw dari kebohongan." Inilah yang mendorong Bukhari mengumpulkan hadis-hadis yang sahih saja, dengan membuang ribuan hadis yang dianggap dha'if (lemah). Siapa yang ingin melanjutkan tradisi Imam Bukhari dewasa ini? ***

Sumber: Fahmi Riady

Fri, 5 Oct 2018 @14:05

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved