Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Jalaluddin Rakhmat: Serahkan Soal Sempalan Ke Mekanisme Free Market Of Ideas! (1)

image

 

Orang yang mencari kebenaran dan tidak menemukannya, kata Imam Ali, lebih baik daripada yang mencari kebatilan dan menemukannya. Artinya, usaha serius mereka itu harus kita hargai. Jadi bukan harus kita kriminalisasikan. Nanti sejarahlah yang akan menentukan. Marilah itu semua kita serahkan kepada mekanisme free market of ideas atau pasar bebas ide.

Kelompok-kelompok sempalan tidak harus dikriminalisasi. Biarkan sejarah yang membuktikan apakah mereka benar dan akan tetap eksis atau menjadi buih lalu pergi. Mekanisme pasar bebas ide juga perlu diberlakukan dalam menyikapi kelompok ini.  

Demikian pendapat Jalaluddin Rakhmat dalam perbincangannya dengan Kajian Islam Utan Kayu (KIUK), Kamis (8/11) lalu, di Kantor Berita Radio 68H Jakarta.

Kang Jalal, tahun 1992, Martin van Bruinessen menulis tentang kelompok-kelompok sempalan di Indonesia. Waktu itu, Syiah termasuk salah satu kelompok sempalan yang dibahas. Mengapa kelompok-kelompok sempalan selalu muncul dan aspek apa yang membuat mereka selalu dapat pengikut?

Saya pikir, saya pertama-tama kita harus mendefinisikan kembali apa itu kelompok sempalan. Sangat aneh kalau kita memasukkan gerakan Al-Qiyadah Al-Islamiyah sama dengan Syiah dalam kategori kelompok sempalan. Saya kira, hatta katak pun akan tertawa mendengar itu. Karena itu, harus ada klasifikasi dan kategorisasi. Jadi sebelum kodok tertawa, kita definisikan dulu apa yang dimaksud dengan aliran sempalan.

Dalam istilah sosiologi, juga psikologi sosial, ada aliran-aliran yang menyimpang dari mainstream masyarakat. Mereka biasanya tumbuh dengan karakteristik psikologis tertentu. Para sosiolog menyebutnya cult atau kultus. Nah, kultus atau aliran sempalan ini bisa berada pada bidang agama dan bisa juga pada bidang komersial seperti multi level marketing. Juga pada bidang politik, seperti Naziisme. Naziisme awalnya gerakan sempalan sebelum berkembang menjadi partai politik berkuasa.

Tapi biasanya, yang sering diperbincangkan adalah kultus di bidang agama. Dan sesuatu dikatakan cult dengan definisi-definisi lebih ketat. Jadi, tidak hanya dengan patokan menyimpang dari mainstream. Karena kalau begitu, nantinya Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah cult dari sudut pandang Syiah di Iran. Lebih lanjut, baik Sunni maupun Syiah juga sempalan di Amerika. Sebab, keduanya hanya sekelompok kecil dari masyarakat Amerika.

Karena itu, salahlah mendefinisikan kelompok sempalan hanya dengan patokan menyimpang dari mainstream atau agama yang dianut arus utama. Itu salah, karena nantinya semua aliran akan menjadi sempalan dalam struktur sosiologis tertentu. Karena itu, ada beberapa tambahan kenapa suatu aliran disebut sempalan. Biasanya, mereka juga ditandai dengan hadirnya seorang pemimpin kharismatis yang menuntut kepatuhan mutlak para anggotanya. Kelompok sempalan itu selalu punya pemimpin kharismatis yang punya aura sakral.

Kadang dianggap punya ilmu kanuragan juga, ya….

Ya punya ilmu kanuragan. Dia biasanya dianggap punya ilmu tersembunyi yang tidak diketahui orang-orang umum. Karena dianggap kharismatik, dia juga biasanya otoriter. Itulah ciri utama dari sebuah aliran sempalan.

Bagaimana dengan kedudukan bai’at ?

Bai’at berfungsi secara psikologis agar orang atau para pengikut mematuhi titah sang pemimpin. Caranya, dia (sang pemimpin) menjatuhkan dulu harga diri para pengikut. Kalau bisa malah dihilangkan sama sekali identitasnya. Karena itu, pada kelompok-kelompok ini, kita sering menemukan semacam upacara penghilangan identitas. Dulu, kelompok DI/TII—maaf untuk menyebut ini—masuk dalam kelompok sempalan juga. Dan biasanya, orang yang masuk ke situ segera berganti nama. Kapan ganti nama? Setelah membuat komitmen. Jadi, ada komitmen kepatuhan total terhadap pemimpin. Itulah yang disebut bai’at. Secara psikologis, bai’at adalah kesediaan untuk memberikan total commitment. Malah total surrender (pengorbanan yang total) kepada otoritas sang pemimpin yang punya ilmu tersendiri itu tadi.

Selain adanya pemimpin kharismatik, apa ciri lainnya, Kang?

Saya jadi ingat Martin Cambell, penulis When Religion Become Evil, tatkala agama berubah menjadi jahat. Agama menjadi jahat, satu, kalau ada pemimpin yang secara mutlak harus dipatuhi. Kedua, tentu ada cara untuk mengikat kepatuhan mutlak itu, yakni dengan berbagai ritus-ritus, misalkan bai’at atau janji suci. Kalau perlu dengan mengorbankan darah. Jadi ada ritus pengorbanannya.

Untuk mengetes kesetiaan dan kepatuhan mutlak para pengikut, mereka biasanya dituntut untuk berkorban. Bentuk pengorbanannya bisa macam-macam. Pokoknya asal itu kata pemimpin, mereka harus menunjukkan kepatuhan. Bisa berkorban dengan dirinya, bisa juga mengorbankan harta. Pada umumnya, dalam gerakan-gerakan sempalan, yang kedua itulah yang lebih sering terjadi, yaitu pengorbanan materi.

Kesan saya: para pengikut kelompok sempalan tampaknya ingin melarikan diri dari suatu otoritas keagamaan yang mapan, tapi justru terjebak ke dalam otoritas lain. Bagaimana menjelaskan itu, Kang?

Dulu pernah ada hipotesis bahwa orang-orang yang masuk gerakan sempalan itu karena mengalami gangguan kejiwaan. Di Amerika, ada ribuan bentuk cult. Tapi ternyata 96% orang-orang yang ikut adalah orang-orang yang secara kepribadian quite-healthy. Jadi mereka sehat-sehat saja. Malah mereka pintar-pintar dan punya posisi sosial yang bagus.

Jadi apa yang salah?

Buat mereka, itu adalah satu keajaiban. Masak orang pintar-terdidik percaya pada yang begituan?! Pasti itu rada gila. Ternyata tidak. Bahkan, banyak yang pintar-pintar, lho! Tapi, memang ada ciri umum dari orang-orang yang itu. Yaitu: mereka adalah orang-orang yang religiously-inclined. Artinya mereka memang sudah cenderung religius, tapi mengalami kebingungan dalam menentukan agama yang akan dianut.

Kalau begitu, orang yang cenderung sekular rada susah terjebak kelompok sempalan, ya?

Ya. Dalam berbagai penelitian tentang kelompok sekte-sekte yang sekuler, apalagi yang liberal kayak anda, mereka terbukti rada sulit untuk ikut aliran sempalan. Apalagi harus patuh pada seorang pemimpin kharismatik. Itu sudah pasti susah. Jadi, biasanya yang ikut adalah orang-orang yang sudah cenderung sangat beragama. Jadi, sasarannya adalah orang-orang saleh, orang-orang taat, tapi tak memperoleh jawaban yang memuaskan terhadap persoalan kehidupan yang dia hadapi dari agama yang dianutnya.

Dan memang, walau mereka tidak mengalami gangguan kejiwaan, tapi selalu ada beberapa jenis situasi kepribadian atau kondisi psikologis yang menyebabkan mereka rentan terhadap pengaruh aliran-aliran sempalan itu. Misalnya perasaan loneliness, atau merasa kesepian. Ada sebuah penelitian menarik dari seorang mahasiswa tentang sasaran kelompok sempalan. Mereka kebanyakan merekrut kalangan mahasiswi.

Khususnya yang sedang jablai atau kesepian, ya?

Ya, para jablai itu yang kemudian bergabung. Jadi, kalau kita kesepian, kita akan mudah dibujuk, quite-persuadable. Yang kedua, orang yang mengalami depresi. Jadi, mereka yang mengalami perasaan sedih berkepanjangan, misalnya karena kehilangan orang yang dicintai. Ketiga, orang-orang yang cenderung melihat masa depan yang tidak pasti. Mereka misalnya melihat negara semakin lama semakin buruk.

Karena itu, mereka ingin mencari pemecahan sangat instan; harus ada tangan-tangan gaib. Dan, kelompok-kelompok ini biasanya mendatangkan tangan-tangan gaib itu. Dan yang terakhir, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, orang-orang yang mengalami kebingungan dalam menentukan keagamaan yang akan dia anut. Tiba-tiba saja datang kelompok sempalan memberi jawaban untuk kebingungan itu. Jawaban ini biasanya instan. 

 

Wed, 16 Mar 2016 @11:51

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved