AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Jalaluddin Rakhmat: Serahkan Soal Sempalan Ke Mekanisme Free Market Of Ideas! (2)

image

Ada juga yang mengaitkan munculnya kelompok-kelompok sempalan sebagai akibat liberalisasi pemikiran. Tanggapan Anda?

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah ada, orang-orang liberal, orang sekuler, atau orang-orang yang benar-benar tidak beriman, biasanya rada sulit masuk aliran-aliran atau sekte-sekte sempalan. Tapi, mungkin ada orang-orang yang misalnya ikut aliran liberal, lalu coba berpikir bebas, akhirnya kebingungan. Dan setelah kebingungan, akhirnya lari ke spiritualitas juga. Dan dia mulai menuding akalnya sebagai sebab kebingungan. Dia tinggalkan akal sama sekali. Para filosof menyebut itu annui. Jadi, ada kejenuhan dalam berpikir.

Martin van Bruinessen menyebut bahwa kelompok-kelompok sempalan itu biasanya mampu menggantikan fungsi keluarga bagi anggotanya. Hubungannya antar mereka sangat intim dan solidaritas kelompok sangat kuat. Akhirnya, orang lupa keluarga asal. Bahkan memvonis keluarga asal bid’ah, kafir, atau musyrik. Bagaimana menjelaskan ini?

Konon, ada kiat-kiat untuk mengenal apakah seseorang sudah ikut aliran sempalan atau tidak. Salah satunya adalah tatkala seseorang tidak mau lagi ikut serta dalam kegiatan-kegiatan keluarga. Jadi, ada sikap yang ekstrem membenci keluarga dan mau lari dari keluarga. Mereka menganggap keluarganya sebagai antitesis dari keyakinannya. Jadi, kalau sudah masuk sekte-sekte Islam, keluarganya dianggap masih jahiliyah dan Islamnya belum sempurna. Sementara mereka sudah bai’at. Jadi menganggap diri sudah masuk Islam yang paripurna. Karena itu, mereka tidak mau lagi ikut kegiatan-kegiatan keluarga.

Pemimpin al-Qiyadah, Ahmad Mushaddeq, menyatakan diri sebagai mesiah yang ditunggu-tunggu. Dia al-Masih al-Mau`ûd. Kita tahu, doktrin mesianisme itu juga bercokol kuat dalam khazanah keagamaan Islam, baik Sunni apalagi Syiah. Seakan-akan ada peluang doktrinal bagi seseorang untuk mengaku dialah sang mesiah itu. Kita mungkin tidak sepakat; mengapa harus dia?! Bagaimana menjelaskan ini?

Konsep mesianisme itu ada dalam semua agama—please note itu ya!—bukan hanya di Islam. Di dalam Hindu, ada kepercayaan bahwa suatu saat nanti Krisna yang menitis pada Kalkhi akan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Orang-orang Kristen percaya bahwa suatu saat nanti Yesus akan datang lagi. Karena itu ada aliran Advent. The Second-Advent, sebetulnya. Namanya saja Advent, artinya kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman. Bahkan di dalam agama-agama yang kita sebut lokal pun, atau agama suku, ada kepercayaan akan datangnya Ratu Adil.

Walhasil, apakah namanya Imam Mahdi, Mesiah, al-Masih, atau Ratu Adil, itu adalah ajaran dari semua agama. Kalau kata Wilhelm C. Smith, doktrin itu berasal dari agama-agama purba. Sebagai orang beragama, saya percaya itulah salah satu ajaran universal dari seluruh agama.

Nah, kelompok-kelompok ini memanfaatkan kepercayaan akan datangnya juru selamat itu dengan menisbahkannya pada para pemimpin mereka. Mengapa itu perlu?

Secara psikologis itu perlu untuk memberikan jawaban terhadap masalah sosial yang mereka hadapi. Misalnya Indonesia ini makin lama makin terpuruk; kehidupan rakyat makin menderita, dan orang-orang mengalami frustasi demi frustasi. Ganti presiden kok malah tidak makin makmur, tapi malah terpuruk. Dalam situasi seperti itu, orang cenderung mencari jawaban. Jawaban yang paling hebat ialah: sebentar lagi akan datang juru selamat. Dalam kepercayaan orang Jawa, akan muncul Satria Piningit. Artinya, sosok yang selama ini tersembunyi akan muncul untuk menyelamatkan kita.

Mula-mula, mngkin aliran-aliran sempalan itu mengaku bahwa Satria Piningit atau Imam Mahdi-nya masih ditunggu, dan mereka hanyalah para tentaranya yang menunggu. Lama-kelamaan, pemimpinnya sendirilah yang mengaku bahwa dialah Satria Piningit itu.

Solusi yang ditawarkan para pengaku mesiah itu kan banyak semunya juga. Padahal, para pengikutnya membutuhkan solusi-solusi kongkret terhadap himpitan hidup yang mereka alami. Apa biasanya substitusi dari solusi kongkret yang dijanjikan para pemimpinnya, Kang?

Ya... harapan. Dalam psikologi mutakhir malah ada disiplin khusus tentang psychology of hope. Di situ dikatakan, harapan membuat kita tetap tegar, betapapun besar derita yang kita hadapi. Hanya karena ada harapan nun jauh di sana, kita akan bangkit kembali. Harapan adalah sumber energi yang luar biasa. Dan setiap aliran sempalan biasanya menjanjikan apa yang oleh psikolog Jerman disebut paradisterhcucum, sebuah surga di masa depan. Bukan di hari akhirat, tapi di dunia ini. Dan itu terjadi pada seluruh kelompok kultus. Menariknya, seluruh aliran sempalan selalu meramalkan kiamat, katastrofi atau bencana alam.

Nabi Muhammad pun menyebutkan bahwa kiamat sudah sedekat dua jari kita...

Ya, peringatan tentang iqtarâbatus sa`ah. Artinya, seluruh ajaran agama pada mulanya juga mengancam orang dengan kiamat yang paling dekat. Yang membedakan agama-agama besar dibandingkan aliran-aliran sempalan adalah: pada aliran sempalan, tokohnyalah yang mengklaim akan segera menyelamatkan kita dari kiamat itu. Jadi, kalau nabi menyebutkan kiamat sudah dekat, dia sendiri tidak merasa bahwa dialah yang akan menghindarkan terjadinya kiamat itu.

Dulu di Bandung pernah berkumpul kelompok umat Kristiani dari aliran tertentu di sebuah gereja. Mereka berkata bahwa sebentar lagi akan terjadi bencana yang akan menghancurkan negeri ini. Tapi si pemimpinnya merasa bahwa dia datang untuk menyelamatkan kita dari bencana. Jadi kiamatnya itu kiamat yang sangat dekat sekali, tidak seperti disebutkan al-Quran: iqtarabatus sa’ah. Ini kiamatnya just in moment. Misal lain saya ambilkan dari—dengan penuh permohonan maaf kepada saudara saya—Ibu Lia Aminuddin.

Dulu, dia pernah memberitahu kepada saya bahwa akan terjadi banjir besar di Jakarta pada hari Sabtu. Jadi sudah ditentukan waktunya: hari Sabtu. Semua kita diminta untuk bersama beliau naik ke puncak. Karena kesibukan, saya lupa akan terjadi bencana itu. Ternyata, pada hari itu banjir tak kunjung datang. Tapi apa kata Ibu Lia dan para pengikutnya? Tuhan menghindarkan Jakarta dari banjir berkat doa-doa kami.

Tampaknya, selalu ada mekanisme seperti itu: meralat prediksi yang nyata-nyata salah...

Betul, meralat suatu prediksi yang salah. Dan ajaibnya, justru dengan itu mereka malah semakin setia. Misalnya David Coresh meramalkan sebentar lagi akan datang alien yang akan menyelamatkan kita dari bencana. Eh ternyata aliennya tidak datang juga. Tapi mereka meyakini bahwa ini bla-bla-bla.... Pokoknya, dalam istilah gaulnya, ada ngelesnya lah. Mungkin revisi, ya, hehe… Ya, ada revisi. Jadi kabar itu diberikan makna baru lagi. Sehingga, betapapun salahnya prediksi-prediksi itu, mereka tetap menganggapnya sebagai kebenaran dan wibawa pemimpinnya tidak berkurang karena prediksi yang keliru.

Kalau berkaca pada sejarah, kita tahu bahwa tak jarang suatu aliran yang mulanya dianggap sempalan, dalam waktu tertentu justru jadi mainstream. Bagaimana menurut Kang Jalal?

Ya, kelompok sempalan bisa berubah menjadi social movement, sebuah gerakan sosial. Nantinya, kalau gerakan itu diterima masyarakat, dia akan menjadi agama mainstream. Secara sosiologis, kita memang bisa berkata begitu. Tapi di balik persamaan-persamaan antara munculnya gerakan sempalan dengan gerakan para nabi, misalnya, ada banyak perbedaan mendasar. Di awal saya sudah sebutkan beberapa karakteristik psikologis orang-orang yang masuk gerakan sempalan. Itu sama sekali tidak bisa diterapkan pada gerakan Islam pada masa-masa awal, misalnya, atau gerakan-gerakan agama besar lainnya.

Kenapa tidak?! Bukankah fungsi Nabi juga untuk membawa umatnya dari gelap menuju terang?!

Tidak ada itu di waktu zaman Rasulullah. Tidak ada anggapan bahwa Rasulullah akan membawa terang atau menjadi juru selamat bagi umatnya. Karena itu, kesamaannya cuma satu: mereka adalah gerakan yang diikuti oleh sekelompok kecil orang dengan pemimpin yang sangat berwibawa, yaitu Rasulullah SAW. Tapi itu juga masih pertanyaan besar. Di luar itu ada banyak perbedaan-perbedaan utama. Kita tidak boleh—karena ada satu kesamaan khusus—terus menggeneralisasi.

Lalu apa sikap terbaik dalam menyikapi suatu kelompok sempalan, Kang?

Saya selalu ditanya tentang ini. Pertama-tama, keyakinan saya tentu tidak sama dengan mereka dan saya tidak mengikuti keyakinan mereka. Tapi saya akan tetap menghormati keyakinan mereka. Saya tidak akan mengkriminalisasi mereka. Saya juga tak akan menganggap mereka melakukan penistaan terhadap agama. Saya akan melihat mereka sebagai orang-orang yang haus secara spiritual. Kalau tiba-tiba mereka dibelokkan di tengah jalan, itu not our business. Tapi mereka sudah ada kesungguhan untuk mencari (kebenaran).

Saya teringat Imam Ali yang menyebut orang-orang Khawarij sebagai orang-orang yang sebetulnya sedang mencari kebenaran. Orang yang mencari kebenaran dan tidak menemukannya, kata Imam Ali, lebih baik daripada yang mencari kebatilan dan menemukannya. Artinya, usaha serius mereka itu harus kita hargai. Jadi bukan harus kita kriminalisasikan. Nanti sejarahlah yang akan menentukan. Marilah itu semua kita serahkan kepada mekanisme free market of ideas atau pasar bebas ide.

Tapi iklim persaingan usahanya sebetulnya sudah tidak fair. Mereka sudah dipotong di tengah jalan, bahkan dikriminalisasi...

Itulah bentuk campur tangan di dalam mekanisme pasar bebas. Tapi kalau kita yakin bahwa keyakinan kita benar, kita tak usah takut pada kelompok-kelompok seperti itu. Menurut saya, budaya Orde Baru yang dulu mensaktikan Pancasila sudah merasuki kita. Karena Pancasila sakti, maka semua yang bertentangan dengan Pancasila dilarang. Mestinya, kalau Pancasilanya betul-betul sakti, biarkan musuh-musuhnya menentang dan barulah kita tahu kalau Pancasila itu benar-benar sakti saat penantangnya terkalahkan. Bukan dengan paksaan.

Sumber: http://klikagama.blogspot.com/2008/01/jalaluddin-rakhmat.html

Wed, 16 Mar 2016 @11:51

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved