Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Berdoa Dengan Bisikan Cinta (1) [ KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Doa adalah percakapan antara seorang hamba kepada Tuhan, antara seorang kekasih kepada yang dikasihinya. Kata doa berasal dari kata dâ’a, yad’u, du’âan atau da’watan; yang berarti undangan, seruan, atau panggilan.Ketika berdoa, kita memanggil Tuhan dan Tuhan pun memanggil kita. Pada hakikatnya berdoa adalah saling memanggil antara sepasang kekasih.

Adab Berdoa

Dalam berdoa, kita harus memiliki adab-adab tertentu di hadapan Allah swt. Nabi Isa as pernah bersabda, “Janganlah kamu berkata bahwa ilmu itu ada di langit, sehingga yang naik langitlah yang akan mendapat ilmu itu; dan janganlah pula kamu berpikir ilmu itu ada di perut bumi, sehingga siapa saja yang masuk ke dalamnya akan memperoleh ilmu. Ilmu itu tersembunyi di dalam hati nuranimu. Beradaplah di hadapan Allah dengan adab kaum ruhaniyyin. Berakhlaklah di hadapan Allah dengan akhlak kaum shiddiqin. Kelak ilmu itu akan memancar dari hatimu. Allah akan memberikan ilmu itu kepadamu dan memenuhi hatimu dengannya...”

Allah memerintahkan kita untuk senantiasa beradab di depan-Nya. Lalu apa tanda beradab di hadapan Allah? Sebuah hadis Qudsi—yang membuat saya terkejut ketika membaca-nya— meriwayatkan Allah berfirman: Hamba-Ku, apakah memang perbuatan kamu, menyuruh Aku tetapi perhatianmu ke kanan dan ke kiri. Kemudian engkau berbicara dengan sesama hamba-Ku yang lain. Engkau mengerahkan seluruh perhatianmu kepadanya dan engkau tinggalkan Aku?”

Adab kita ketika kita berdoa kepada Allah sama halnya dengan adab kita ketika berbicara dengan sesama manusia. Waktu kita bercakap-cakap dengan orang lain, kita selalu memusatkan perhatian kita kepadanya dan tidak melirik ke kiri dan ke kanan. Namun ketika kita bermunajat kepada Allah swt, perhatian tidak kita curahkan kepada-Nya, pikiran kita melayang kepada makhluk-makhluk yang lain. Kita lupa kepada Sang Khaliq yang kita hadapi. Apakah termasuk perilaku yang indah bila kita menghadap Tuhan sementara perhatian kita ke sana kemari?

Alkisah, Nabi Muhammad saw pernah keluar rumah untuk meninjau ternak dan gembalanya. Seorang gembala di tempat itu tengah melepaskan bajunya. Begitu ia melihat Nabi datang, ia segera mengenakannya kembali. Nabi berkata kepadanya, “Teruskan saja perbuatanmu. Kami Ahlulbait. Kami tidak akan mempekerjakan orang yang tidak beradab di hadapan Allah dan tidak malu atas kesendiriannya di hadapan Allah.” Gembala itu hanya merasa malu bila ia berada di hadapan orang lain. Di hadapan Allah, ia tidak malu.

Al-Quran memberikan contoh doa-doa yang beradab. Doa Ayyub as, misalnya. Ketika Ayyub ditimpa penderitaan karena penyakit yang tak kunjung terobati, ia berdoa, “Tuhanku, sungguh kesengsaraan telah menimpaku saat ini. Sementara Engkau Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.”

Ketika dilanda derita, Ayyub as tidak berdoa dengan doa yang berisi perintah-perintahnya kepada Allah untuk diberikan kesembuhan. Karena adab dalam berdoa adalah tidak menggunakan kalimat-kalimat perintah di dalamnya. Tidak ada fi’il ‘amr di situ. Yang selalu disebut-sebut dalam doa adalah nama Allah swt meskipun Allah yang menguji dengan penderitaan itu.

Begitu pula dengan Ibrahim as. Ketika beliau sakit, Ibrahim tidak berdoa dengan permintaan: “Karena Engkau yang menimpakan sakit kepadaku, sembuhkanlah aku.” Melainkan Ibrahim as berdoa, “Apabila aku sakit, Dialah Yang memberikan kesembuhan.”

Contoh lain dari doa yang beradab adalah doa Adam as yang amat kita kenal: “Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” Dalam doa itu, tak ada satu pun kalimat perintah.

Di Indonesia, sering kita mendengar doa-doa resmi dalam berbagai acara, yang isinya rangkaian perintah kita kepada Tuhan. Maklum, biasanya yang berdoa adalah para pejabat di kantor sehingga dia menganggap Tuhan sebagai salah satu anak buahnya. Sebuah doa yang pernah saya dengar di sebuah instansi pemerintah berbunyi, “Tuhan, lunakkanlah hati para inspektur sehingga kota Bandung dapat memperoleh Parasamya Purnakarya Nugraha.” Doa tersebut tidak salah, hanya kurang beradab.

Adab lain dalam berdoa adalah dengan tidak meminta hal-hal yang sangat spesifik; tidak mendikte Tuhan bahwa itulah hal yang paling baik bagi kita. Misalnya kita dianjurkan tidak berdoa, “Tuhan, sembuhkanlah aku.” Tetapi sebaiknya kita berdoa, “Ya Allah, duhai Sang Maha-penyembuh....”

 

Lebih beradab lagi bila kita berdoa dengan hal-hal yang bersifat umum dan memasukkan ke dalam doa itu, bukan saja diri kita, tetapi juga kaum muslimin dan muslimat seluruhnya.

Sat, 8 Mar 2014 @13:23

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved