Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Syiah dan Sunni di Indonesia

image

Sejarah Islam Syiah lahir dari golongan yang menyatakan Imam Ali bin Abi Thalib ra sebagai orang yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Hal ini dilandaskan dengan peristiwa Ghadir Khum bahwa Rasulullah saw bersabda: man kuntu mawla fa hadza ‘Aliyyun mawlahu . Pesan tersebut disampaikan oleh Nabi sepulang haji wada, 18 Zulhijjah, di hadapan sekira 110 ribu umat Islam.

Entah atas dasar apa ketika Rasulullah saw wafat, segelintir sahabat kemudian berembuk di Saqifah dan memilih Abu Bakar sebagai khalifah. Memang tidak semua sahabat setuju. Ada yang diam-diam meninggalkan Madinah. Juga ada sahabat yang tetap memegang pesan Nabi di Ghadir Khum, yang berkumpul bersama Ahlul Bait, dan kemudian disebut Syiah.

Mereka mengikuti Ahlul Bait Rasulullah saw dan beramal ibadah sesuai dengan petunjuk Nabi. Kelompok Ahlul Bait inilah yang sekarang disebut Syiah.

Entah atas dasar apa: Syiah ini dianggap sesat dan bukan Islam. Padahal sumber ajarannya Al-Quran, Rasulullah saw, dan mengikuti petunjuk Rasulullah saw bahwa Ahlul Bait yang harus dijaga dan diikuti sepeninggalnya. Ada hadis tsaqalain: Kitab Allah wa Itrah Ahlul Bait yang harus dipegang sampai kiamat. Hadis tsaqalain ada dalam Shahih Muslim dari Arqam bin Arqam. Juga dalam Musnah Ahmad dan Turmudzi.

Kitab Allah sudah jelas Quran. Sedangkan Ahlul Bait adalah orang yang disebutkan dalam asbabun nuzul surat Ahzab ayat 33, yaitu Rasulullah saw, Sayidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan, dan Imam Husein. Manusia terbaik yang lima orang ini disebut Ahlulkisa karena pada saat turun surah Ahzab ayat 33, Rasulullah saw menelungkupkan kain (kisa) pada mereka, termasuk Rasulullah saw sendiri. Riwayat ini banyak dalam kitab-kitab hadis Ahlussunah dan kitab tarikh juga. Disebutkan hadis ini dari Aisyah binti Abu Bakar dan pada riwayat lain dari Ummu Salamah.

Ada yang bilang bahwa istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Saya kira itu diada-adakan. Istri Nabi termasuk dalam Ummul Mukminin. Salah satu ummul mukminin yang berani berperang adalah Aisyah. Ia memerangi Imam Ali dalam Perang Jamal. Pasukan Aisyah bersama Thalhah dan Zubair kalah perang sehingga ditangkap dan dipulangkan ke Madinah. Meski berontak pada pemerintahan Islam, Aisyah diperlakukan dengan baik oleh Imam Ali. 

Syiah dan Sunni

Kaum Muslim yang menikuti Imam Ali dalam cara beragama disebut Syiah. Meski ada kelompok-kelompoknya: mulai dari yang ekstream sampai yang moderat, tetap kaum Syiah termasuk bagian dari Islam.

Begitu juga Ahlussunah/Sunni terbagi dalam aliran-aliran. Mulai dari yang radikal sampai yang dekat dengan Syiah. Mulai dari yang bercorak sufi sampai yang keras. Karena perbedaan pendapat yang kemudian menciptakan Islam terkotak-kotakan dalam mazhab dan aliran.

Dalam sejarah, kaum Muslim pengkut mazhab Syiah banyak kotribusinya. Mulai dari ilmuwan, jejak arsitektur istana dan masjid, seni kaligrafi, dan karya tulis ilmiah. Bahkan, para sufi banyak yang terpengaruh dengan Islam mazhab Syiah.

Kaum Muslim Syiah terbukti banyak kontribusinya. Silakan baca buku karya Sayyid Hasan Ash-Shadr yang menulis kitab Ta'sisusy-Syi’ah li Fununil Islam (kitab ini sudah diterjamahkan dengan judul: Peradaban Islam dan Ilmu Keislaman oleh Ammar Fauzi terus diterbitkan secara elektronik pada situs al-shia).

Dalam buku itu disebutkan ulama-ulama Syiah yang memberikan kontribusi dalam khasanah intelektual Islam. Hampir dalam segala bidang ilmu-ilmu Islam seperti ulumul quran, tafsir, ulumul hadits, tarikh, sirah nabawiyah, hadits-hadits, fikih, ushul fikih, kalam, bahasa, sastra, dan seni. Juga ilmu yang berkaitan dengan duniawi seperti politik, ekonomi, matematika, sains, astronomi, dan lainnya lebih banyak dihasilkan oleh kaum Muslim Syiah.

Beberapa tokoh Islam yang dianggap bermazhab Syiah yang populer adalah Ibnu Sina, Al-Farabi, Mulla Shadra, Al-Biruni, Suharawardi Al-Maqtul, Ibnu Ishaq, Al-Mas’udi, Al-Waqidi, Al-Hallaj, Sijistani, Bahmanyar, Syaikh Siti Jenar, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Fariduddin Athar, Nasaruddin At-Thusi, Al-Khuwarizmi, dan kaum cendekiawan Ikhwanus Shafa yang melahirkan ensiklopedia sains terbesar.

Begitu juga tokoh Islam modern yang terkenal menghasilkan karya tulis dan berperan dalam perubahan dunia adalah berasal dari kaum Muslim Syiah.

Beberapa tokoh Syiah yang karyanya dibaca masyarakat Indonesia adalah Ali Syariati, Abdulkarim Soroush, Ayatullah Khomeini, Ayatullah Baqir Shadr, Ayatullah Thabathaba’i, Seyyed Hosen Nasr, Sayyid Kamal Haidari, Sayyid Haidar Amuli, Syaikh Tijani Samawi, Husain Behesti, Taqi Mishbah Yazdi, Mehdi Hairi Yazdi, Murtadha Muthahhari, Sayid Ali Khamenei, Ayatullah Jafar Subhani, Sayid Husain Fadhlullah, Ayatullah Nasir Makarem Shirazi,  Sayid Ali Sistani, dan lainnya.

Sekarang ini banyak orang yang masuk Islam dengan Syiah sebagai mazhabnya. Mereka melakukan kajian ilmiah dan mendalam. Kemudian setelah mantap dengan kajiannya dan menemukan "titik cerah" kemudian memeluk Syiah sebagai mazhab Islam yang dianutnya. Bahkan, tokoh dunia seperti Einstein saja masuk Islam dengan mengambil Syiah (Dua Belas Imam) sebagai mazhabnya.

Dalam budaya, nilai-nilai Islam mazhab Syiah menjadi khazanah Islam di mana pun berada. Umat Islam Indonesia memiliki tradisi asyura yang sangat berbeda dengan Iran, Bahrain, atau Lebanon.

Umat Islam Indonesia memiliki acara tahlilan untuk yang wafat dari hari kesatu sampai empat puluhnya. Bahkan hari keseratus dan serebu pun ada tahlilannya.

Beraneka ragam bacaan shalawat Nabi serta pujian buat Ahlul Bait pun digemakan di Indonesia dari masjid-masjid (khususnya di daerah dan kampung).

Ziarah kubur, tawasul, baca doa dan yasinan setiap malam Jumat, maulid Nabi, serta rebo kasan. Itu semua terpengaruh dengan Islam mazhab Syiah yang melebur menjadi khazanah Islam Indonesia. Karena Syiah ajaran Islam maka sangat mudah bisa masuk dan diterima masyarakat nusantara dengan baik tanpa penolakan.

Berbeda dengan agama Wahabi dan gerakan takfiri. Sejak berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta dan ormas Persatuan Islam (Persis) di Bandung malah menimbulkan pertentangan dengan masyarakat.

Muncul Nahdlatul Ulama (NU) sebagai reaksi dari masuknya agama Wahabi yang kemudian NU menjadi identitas Islam Indonesia dan gerakannya untuk mempertahankan khazanah dan budaya Islam. 

Seharusnya fakta demikian menjadi acuan dalam berpikir dan menilai. Saya berharap di Indonesia ada orang-orang yang seperti kalangan Muslim Syiah (Iran, Lebanon, dan Irak) yang cerdas dan banyak melahirkan karya intelektual.

Tampaknya hebat kalau seorang Muslim atau Muslimah Indonesia itu cerdas dan menguasai ilmu-ilmu agama dari berbagai mazhab dan aliran. Semoga.

[ahmad sahidin]

 

Wed, 17 Feb 2016 @08:54

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved