AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Sosok, Pendidikan, dan Karya KH Jalaluddin Rakhmat

image

KH Jalaluddin Rakhmat yang biasa dipanggil Kang Jalal, dilahirkan di Bojongsalam-Bandung pada 29 Agustus 1948. Pada usia yang masih muda, Kang Jalal sudah dapat menguasai bahasa arab di pesantren NU (Nahdlatul Ulama) asuhan Kiai Shidik. Di pesantren inilah Kang Jalal dididik oleh kiainya sampai bisa hafal Alfiyah Ibnu Malik. Bukan cuma itu, Shidik juga diakui Kang Jalal bersifat "liberal".

Semula ia NU, lalu berubah menjadi Muhammadiyah dan berkiblat politik ke Masyumi. Sikap non-sektarian, dalam pengertian terbuka terhadap pelbagai mazhab dan sikap menghormati perbedaan pendapat yang akhir-akhir ini dikembangkan Jalal, barangkali tak lain merupakan jejak warisan yang diperoleh dari gurunya.

Ia memperoleh beasiswa Fulbright dan masuk Iowa State University. Ia mengambil kuliah Komunikasi dan Psikologi (S-2). Tetapi ia lebih banyak memperoleh pengetahuan dari perpustakaan universitasnya. Berkat kecerdasannya Ia lulus dengan predikat magna cum laude. Karena memperoleh 4.0 grade point average, ia terpilih menjadi anggota Phi Kappa Phi dan Sigma Delta Chi.

Pada tahun 1981, ia kembali ke Indonesia dan menulis buku Psikologi Komunikasi. Ia merancang kurikulum di fakultasnya, memberikan kuliah dalam berbagai disiplin, termasuk Sistem Politik Indonesia. Kuliah-kuliahnya terkenal menarik perhatian para mahasiswa yang diajarnya. Ia pun aktif membina para mahasiswa di berbagai kampus di Bandung. Ia juga memberikan kuliah Etika dan Agama Islam di ITB dan IAIN Bandung, serta mencoba menggabungkan sains dan agama.

Kegiatan ekstrakurikulernya dihabiskan dalam berdakwah dan berkhidmat kepada kaum  mustadháfin . Ia membina jamaah di masjid-masjid dan tempat-tempat kumuh gelandangan. Ia terkenal sangat vokal mengkritik kezaliman, baik yang dilakukan oleh elit politik maupun elit agama. Akibatnya ia sering harus berurusan dengan aparat militer, dan akhirnya dipecat sebagai pegawai negeri.

Kang Jalal meninggalkan kampusnya dan melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke kota Qum, Iran, untuk belajar Irfan dan filsafat Islam dari para Mullah tradisional. Lalu ke Australia untuk mengambil studi tentang perubahan politik dan hubungan internasional dari para akademisi moderen di The Australian National University (ANU). 

Jalaluddin Rakhmat juga mengajar di beberapa perguruan tinggi dalam Ilmu Komunikasi, Filsafat Ilmu, Metode Penelitian, dan lainnya. Secara khusus ia pun membina kuliah Mysticism (Irfan/ Tasawuf) di Islamic College for Advanced Studies (ICAS), Paramadina University, yang ia dirikan bersama almarhum Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Dr. Haidar Bagir, dan Dr. Muwahidi sejak tahun 2002.

Di tengah kesibukannya mengajar dan berdakwah di berbagai kota di Indonesia, ia tetap menjalankan tugas sebagai Kepala SMU Plus Muthahhari Bandung, sekolah yang yang didirikannya dan kini menjadi sekolah model (Depdiknas) untuk membangun paradigma kritis generasi bangsa serta membina akhlak.

Sebagai ilmuwan ia juga menjadi anggota aktif berbagai organisasi professional, nasional dan internasional, serta aktif sebagai nara sumber dalam berbagai seminar dan konferensi. Sebagai mubaligh, ia juga sibuk mengisi berbagai pengajian.

Dengan latar belakang keluarga, pendidikan, sekaligus sosial budaya yang terurai seperti di atas secara umum pemikiran  Jalaluddin Rahmat  dapat dikategorikan dalam beberapa aspek. Mulai dari aspek bidang pendidikan, fikih, komunikasi, sosial, sampai pada tasawuf seperti karya-karyanya yang mencakup beberapa aspek. Karya-karyanya dibuat dalam rangka menjawab tantangan dan paham paradigma yang beliau anggap keliru.

Di antara karya Jalaluddin Rakhmat  yang populer adalah Psikologi Komunikasi (1985), Islam Alternatif (1986), Islam Aktual (1991), Renungan-Renungan Sufistik (1991), Retorika M oderen (1992), Catatan Kang Jalal (1997), Reformasi Sufistik (1998), Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer (1998), Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik (1999), Tafsir Sufi Al-Fâtihah (1999), Rekayasa Sosial: Reformasi Atau Revolusi? (1999),Rindu Rasul (2001), Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih (2002), Psikologi Agama (2003), Meraih Kebahagiaan (2004), Belajar Cerdas Berbasiskan Otak (2005), Memaknai Kematian (2006), Islam dan Pluralisme, Akhlak Al-Quran dalam Menyikapi Perbedaan (2006).

Dalam kompasiana disebutkan bahwa lebih dari empat puluh buku yang sudah ditulis Jalaluddin Rakhmat. Jumlah yang banyak dan tidak mudah untuk menulis dengan tema yang beragam kalau tidak menguasai berbagai disiplin ilmu. Karena itu, sosok Kang Jalal ini bisa disebut ilmuwan produktif. Tidak hanya menyampaikan ilmu dalam lisan, juga tulisan.

Pilihan menyampaikan pengetahuan dengan melalui karya tulis berupa buku merupakan hal yang terbaik. Banyak ulama yang berilmu, tetapi karena tidak menulis buku sehingga tidak dikenal. Kalau tak ada karya, pasti orang tidak akan mengetahui kalau Ibnu Sina adalah pakar filsafat, kedokteran, dan ilmuwan. Juga Abu Hamid Al-Ghazali yang dikenal seorang sufi dikenal oleh masyarakat Islam modern karena ada karya tulisnya. 

Meski Imam Syafii, Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Hambal, dan Imam Jafar Ash-Shadiq sudah wafat, orang yang membaca buku-buku fatwa fikihnya akan mengetahui betapa berilmunya mereka.

Begitu juga Jalaluddin Rakhmat, orang yang belum bertemu (atau yang tidak mengetahuinya) jika kemudian membaca buku-bukunya pasti akan mengakui bahwa beliau adalah ilmuwan, cendekiawan, dan ulama. 

[tulisan ini diambil dari sumber-sumber terpercaya di internet dan buku-buku; ditulis redaksi@misykat.net]

Sat, 27 Aug 2016 @09:11

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved