Rubrik
Terbaru
FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku bacaan ISLAM silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Daya Tarik (sosok) Jalaluddin Rakhmat

image

 

KH Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) adalah sosok yang luar biasa. Penampilannya sederhana. Ramah dan murah senyum. Bagi saya, tidak ada duanya orang seperti Kang Jalal di negeri Indonesia. Kang Jalal dikenal sebagai ilmuwan, cendekiawan, penulis, dan mahaguru (disebut demikian oleh ijabiyyun). Kang Jalal memiliki daya tarik. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan kecerdasan dan karya-karya Kang Jalal.

Jika ceramah pemaparannya enak didengar dan mudah dicerna. Pilihan bahasa dan tutur katanya rapi dan menarik disimak. Pembahasan filsafat dan kajian agama yang dianggap berat pun kalau diuraikan oleh Kang Jalal bisa langsung dipahami. Kang Jalal kadang membuat contoh dari setiap penjelasan yang diberikannya dengan cerita dan pengalaman keseharian. Ketika diulas terasa menyentuh dan menempel pada benak.

Kang Jalal tidak hanya ceramah di depan orang-orang dewasa. Bahkan, mampu menyampaikan materi agama dan kesehatan otak di depan murid-murid sekolah menengah. Tentu karena dalam hal ini mungkin Anda akan sepakat bilang: Kang Jalal adalah seorang ahli komunikasi di Indonesia. Pastinya lebih tahu cara melayani pendengar dan menciptakan suasana bagi pendengar atau jamaah.

Bukan hanya di mata orang Indonesia, bahkan dunia. Ulama dari Iran dalam sebuah seminar di Bandung pernah menyebut Kang Jalal sebagai salah satu tentera terbaik Imam Mahdi. Ulama di Jawa Timur yang memiliki pesantren besar dan kini sudah almarhum menyebut Kang Jalal, sebagai seorang doktor muslim yang paham dengan kondisi zaman dan berilmu pengetahuan. Kemudian beberapa murid dari ulama itu disarankan untuk menimba ilmu kepada Kang Jalal.

Sebagai cendekiawan Muslim, Kang Jalal terlibat dalam urusan masyarakat dan ke-Indonesia-an. Ia pernah diutus Pemerintah Republik Indonesia ke negeri-negeri Islam di Timur Tengah untuk urusan sosialisasi hasil muktamar di Bogor tentang persatuan Islam dan mencari solusi untuk masalah yang menimpa negeri Irak. Kemudian sering diundang untuk konferensi Islam di Iran. Bahkan pernah diminta pidato dihadapan Presiden Iran: Ahmadinejad, berkaitan dengan perbukuan Islam.

Sebuah artikel ditulis oleh Fajruddin Muchtar menyebutkan terdapat 14 alasan kelayakan Kang Jalal menjadi anggota parlemen di Indonesia. Di antaranya: 1) santun, (2) sederhana, (3)pembela kaum mustad’afin, (4) intelektual Muslim terkemuka, (5) nasionalis, (6)penulis produktif, (7) muballigh yang komunikatif, (8) tokoh dan pelaku pendidikan, (9) pengusung persatuan, (10) sufi metropolis, (11) mempunyai hubungan yang luas, (12) berjiwa seni, (13) PDIP faktor, dan (14) aksi nyata.

Di masyarakat sekitar rumahnya, Kang Jalal dikenal pemurah. Seringkali memberikan bantuan jika ada yang datang meminta bantuan. Bahkan memberikan beasiswa pada anak-anak sekitar rumahnya yang ingin melanjutkan pendidikan. Jika ada Maulid Nabi dan acara-acara agama, masyarakat kerap diundang dan mendapatkan pencerahan dan kadang juga makanan.

Setiap minggu pagi, Kang Jalal menyempatkan memberikan pengajian di masjid belakang rumahnya: Al-Munawwarah. Setiap kali pengajian digelar tidak ada pengeras suara yang sampai memekakan telinga karena memang speaker di masjid diseting khusus untuk di dalam dan tidak keluar masjid. Hal itu dilakukan untuk menjaga kenyamanan tetangga masjid yang ingin istirahat supaya tidak terganggu dengan acara di masjid.

Kang Jalal termasuk orang yang sabar. Dicaci, dimarahi, dan dihujat dalam seminar pun hanya senyum. Hampir setiap selasa malam rabu, rumah Kang Jalal dijadikan tempat pengajian. Setiap kali pengajian biasanya disediakan makanan dan minuman dari tuan rumah: Kang Jalal. Sudah diberi ilmu dari Kang Jalal, juga dapat jamuan.

Sekedar berbagi, dalam sebuah jamuan makan setelah pengajian di Masjid Al-Munawwarah, Kang Jalal menyatakan dirinya bukan ulama dan yang pantas disebut ulama adalah Ustadz Quraish Shihab. Saya kira itu hanya sikap tawadhu. Karena saya lihat sendiri buku-buku mulai dari Bahasa Arab sampai Parsi kemudian Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda memadati lemari ruangan tamu. Rata-rata buku itu tebal. Juga di Perpustakaan Muthahhari yang dekat rumahnya, banyak sekali koleksi bukunya yang sengaja disimpan di sana karena di rumah sudah tak muat. Saya kira bukan sekadar koleksi, tapi memang dibaca. Terlihat setiap kali ceramah bawa kitab dan setiap kali hadir dalam pertemuan biasanya sambil baca kitab.

Pernah suatu hari ada mahasiswa yang cium tangannya. Segera dicium balik tangan mahasiswa itu. Pengalaman yang jarang terjadi. Alih-alih ingin dihormati malah balik hormat.

Nah, itu mungkin bisa disebut faktor yang membuat daya tarik pada sosok Kang Jalal. Tidak jarang banyak orang yang ingin meminta nama bayi dari Kang Jalal. Juga setiap kali selesai acara, jamaah laki-laki berebut untuk salaman dengannya. Bahkan diminta berfoto pun Kang Jalal melayaninya. Sungguh, cendekiawan rendah hati dan merakyat.

Pantas kalau dalam pernyataannya, mengenai alasan masuk politik praktis bahwa Kang Jalal ingin memperjuangkan penegakan hukum dan untuk melindungi nasib kaum minoritas melalui jalur politik.

(Tulisan dikirim oleh kang Ahmad Sahidin, pembaca buku)

Tue, 29 Aug 2017 @14:20

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved