Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Syiah dan Tahrif al-Quran

image

Allah telah berjanji untuk menjaga kemurnian Al-Quran dari segala bentuk penyimpangan. Janji tersebut merupakan jaminan kemurnian Al-Quran sejak pertama diturunkannya hingga hari ini.

Al-Quran yang ada sekarang adalah seperti yang telah diturunkan kepada Rasulullah Saw dengan cara yang telah diketahui dalam sejarah. Untuk itu tidak ada lagi keraguan tentang keaslian Al-Quran. Karena meragukan Al-Quran berarti meragukan kenabian Muhammad Saw. Kita semua berlindung kepada Allah dari sikap yang demikian itu.

Meski ada jaminan pasti dari Allah Swt, sebagian umat Islam masih ada yang tertipu dengan sangkaan penyelewengan Al-Quran dan tidak yakin dengan jaminan tersebut. Bahkan suasananya semakin keruh, dengan menuduh saudaranya, kaum Syi’ah, telah menyelewengkan Al-Quran, tanpa sedikit pun memberikan kesempatan kepada para pengikutnya untuk menjelaskan keyakinan mereka tentang Al-Quran. Demikian kesimpulan yang dapat diambil dari buku-buku yang diterbitkan untuk menghujat Syi’ah.

Muhammad Ba’bodullah, dalam hujatannya terhadap Syi’ah berpendapat, “Sesungguhnya Al-Quran yang beredar di tengah umat Islam saat ini, menurut Syi’ah, telah banyak diubah. Baik dalam bentuk pengurangan ataupun penam-bahan. Bahwa Al-Quran yang asli berada di tangan Muhammad Hasan al-Askari (Al-Mahdi al-Muntazhar) yang akan keluar bila waktunya tiba. Kemudian menarik Al-Qur’an yang beredar di tengah Umat.”

Menurut beliau, penerimaan Syi’ah terhadap Al-Quran yang ada sekarang ini merupakan bentuk amalan taqiyah.

Senada dengan pendapat Ba’bodullah di atas, Muhammad Malullah menuduh pengingkaran ulama Syi’ah terhadap tuduhan adanya  tahrif  bukan merupakan keyakinan mereka yang sesungguhnya, melainkan berangkat dari  taqiyah  yang mereka wajibkan. Sedangkan Abu Hamid al-Maqdisi, dalam bukunya, Ar-Rad aala al-Rafidhah, berpendapat, “Di antara tipu daya Syi’ah adalah tidak mempercayai Al-Quran yang ada sekarang, sebagaimana diturunkan kepada Rasulullah Saw, bahkan mereka menganggapnya telah diubah.”

Para ulama Syi’ah—baik klasik maupun kontemporer—telah sering membantahkan tuduhan tahrif yang dialamatkan pada mereka. Namun bantahan tersebut tidak diterima oleh Malullah, yang dalam pandangannya, bukanlah keyakinan Syi’ah yang sesungguhnya. Sedangkan Ali as-Sâlûs meng-anggap, kepercayaan tahrîf dalam Syi’ah tidak lain adalah bagian dari gerakan penyesatan yang dilakukan oleh kelompok ekstrem Syi’ah.

Di atas hanyalah sedikit dari banyaknya tuduhan tahrif yang dialamatkan kepada Syi’ah. Namun sayang, mereka yang menuduh Syi’ah telah menyelewengkan Al-Quran tidak bersikap jujur dalam berargumentasi. Sebenarnya, bila mereka benar-benar jujur mengungkap kebenaran, obyektif dan hatinya tidak diselimuti fanatik buta, mereka harus menyatakan bahwa riwayat yang berkenaan dengan tahrîf bukanlah monopoli Syi’ah saja—itu pun kalau memang benar-benar valid menurut para ulama Syi’ah yang diakui kredibelitasnya.

Para tokoh Ahlussunnah ada yang menganggap terjadinya tahrîf  dalam beberapa riwayat mereka, seperti Ibnu Hanbal dalam Musnad-nya, Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Shahîh mereka, As-Suyûthi dalam Al-Itqân-nya.

Berikut ini contoh riwayat yang ada, berkaitan dengan adanya tahrîf al-qur’ân di dalam Shahîh Muslim: Umar bin Khathab berkata, dan dia duduk di atas mimbar Rasulullah Saw, “Sesungguhnya Allah Swt telah mengutus Nabi Muhammad Saw dengan kebenaran, dan menurunkan kepadanya sebuah kitab. Salah satu ayat yang dirunkan adalah ayat rajm, kemudian kami menyadari sepenuhnya. Itulah sebabnya Rasulullah Saw melakukan perajaman. Dan setelah beliau wafat, kami melakukan hal yang sama. Lalu aku khawatir jika berlalu beberapa masa, orang-orang akan berkata, “Demi Allah, kami tidak menemukan ayat rajam dalam Kitab Allah.”

Kemudian dia menjadi sesat dengan tindakannya meninggalkan hukum wajib. Sesungguhnya rajam adalah benar dalam Kitabullah bagi siapa yang berzina bila muhshan, baik lelaki maupun perempuan, bila terdapat bukti atau ada pengakuan.”

Masih diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahîh-nya: bahwa Abu Musa al-Asy’ari pernah mengutus seseorang kepada para qari’ penduduk Basrah. Di kota itu ia menjumpai sekitar tiga ratus orang sedang membaca Al-Quran.

Lalu ia berkata, “Kalian yang terpilih sebagai juru baca Al-Quran di kota Basrah? Bacalah! Tidak lama lagi kalian akan berubah menjadi keras sebagaimana hati orang-orang sebelum kalian menjadi keras. Sesungguhnya kami dahulu membaca sebuah surat yang kami kira—panjang dan tegasnya—seperti surah Bara’ah, lalu kami lupa, tetapi aku masih ingat dan hafal sebagian surat tersebut, yang berbunyi: Seandainya anak Adam mempunyai harta satu lembah atau dua lembah, niscaya ia masih menginginkan lembah harta yang ke tiga. Dan perut anak Adam tidak akan kenyang kecuali diisi dengan tanah.

Kami juga membaca sebuah surah yang kami anggap seperti salah satu surah al-Musabbihât, namun aku lupa, hanya sedikit saja yang aku ingat, di antaranya: Wahai orang-orang yang beriman. Mengapa kalian senantiasa mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak kalian lakukan? Hal itu akan ditulis di leher kalian sebagai saksi. Dan kalian akan ditanyai tanggungjawab kelak di hari kiamat.

Dalam kedua riwayat Muslim di atas, tampak sangat jelas sekali perkataan yang menunjukan adanya ayat yang pernah diturunkan kepada Rasulullah Saw yang tidak termaktub di dalam mushaf yang dibaca di zaman itu. Berarti ada tahrîf al-qur‘an.

Menyikapi riwayat Muslim di atas,  ada pertanyaan yang timbul di benak orang yang berakal sehat. Kalau memang di dalam Al-Quran ada yang disebut dengan ayat ar-rajm  yang pernah diturunkan kepada Rasulullah Saw, di manakah ayat itu sekarang? Dan kalau kita menerima pendapat yang me-ngatakan pengumpulan Al-Quran dilakukan sepeninggal Rasullah Saw, berarti para sahabat yang bertugas mengumpul-kan Al-Quran telah membuang ayat yang pernah diwahyukan kepada Rasulullah Saw? Jadi, siapakah yang menyelewengkan Al-Quran—berdasarkan riwayat yang dibawakan Imam Mus-lim di atas—sahabat ataukah Syi’ah?

Ada pun dalam riwayat kedua juga terdapat banyak keganjilan. Adakah ayat yang dibacakan oleh Abu Musa al-Asy‘ari itu terdapat dalam Al-Quran sekarang ini? Mungkinkah seorang tokoh sahabat bisa lupa ayat Al-Quran? Bila sahabat saja lupa, adakah jaminan bahwa hadis Rasulullah yang disusun oleh mereka yang hidup jauh dari masa beliau sesuai dengan apa yang disampaikan beliau?

Bukankah mereka mengambil hadis yang mereka susun itu dari generasi setelah sahabat yang pelupa? Bukankah adh-Dhabth (dhabit, teliti dan kuat hafalan) merupakan syarat mutlak seorang perawi?

Sungguh sangat ironi sekali, mereka yang menuduh Syi’ah telah menyelewengkan Al-Quran dengan menukil sebagian riwayat yang diklaim berasal dari para perawi Syi’ah, pura-pura tidak mengetahui riwayat yang dibawakan oleh Imam Muslim—tokoh Ahlussunah—dalam kitabnya yang paling sahih di dunia ini setelah Al-Quran dan Shahih Bukhari!

Berdasarkan riwayat tersebut, mengapa mereka tidak menuduh orang Sunni telah menyelewengkan Al-Quran? Mengapa tidak mempersilahkan ulama Syi’ah yang diakui kredibilitasnya untuk menjelaskan keyakinan mereka yang sesungguhnya?

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang menggoda penulis yang melatarbelakangi munculnya pembahasan ini. Sayang, mereka-mereka yang hobi menfitnah Syi’ah tidak mampu menampilkan alasan yang rasional dalam tuduhannya kepada Syi’ah.

Bila anggapan adanya tahrîf al-qur‘an merupakan pendapat kelompok ekstrem yang mengaku-ngaku sebagai orang Syi’ah, sebagaimana pendapat Ali as-Salus, maka golongan Syi’ah yang moderat—baik klasik maupun kontemporer—telah sering membantah anggapan tersebut. Golongan moderat selalu ber-hasil membuka kedok kebathilan mereka serta dapat mematahkan fitnah adanya tahrîf al-qur‘ân.

Adalah tidak adil kiranya, serangan, hujatan, makian dan fitnah yang bertubi-tubi selalu dialamatkan kepada Syi’ah tanpa memberi kesempatan kepada para ulamannya untuk membela diri, untuk menerangkan keyakinan mereka yang sesungguhnya, termasuk tentang Al-Quran, kitab suci seluruh umat Islam, tidak terkecuali kaum Syi’ah.

(Sumber buku: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum; penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

Sun, 14 Feb 2016 @20:38

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved