AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Jalaluddin Rakhmat, Aku dan Kawan Muslim yang Liberal

image

Ustad Jalal, sosok yang paling dihormati penulis setelah kedua orang tua, dalam “The Road To Muhammad”, menceritakan bagaimana pelecehan terhadap pribadi Rasulullah bisa datang dari mana saja. Tak hanya dari individu-individu yang non muslim, tetapi -mirisnya- juga datang dari orang-orang Islam -yang menurut Beliau- yang menabuh genderang bersama penghina Nabi dari dunia Barat.

Ustad kemudian bercerita tentang kawan liberal-nya, yang mengaku sebagai pemikir Islam dan berasal dari pesantren, berkata, “Ayo, kita cari nabi yang bukan tukang kawin!” Ia mengucapkannya sambil tertawa mencemooh.

Yang lain menimpalinya, “Atau kita angkat teman perempuan kita yang cantik ini sebagai nabi dan kita semua menjadi sahabatnya. Dengan begitu, kita semua pasti masuk surga. Atau kita bisa menjadi suami-suaminya.”

Orang-orang itu merasa menjadi pemikir bebas, yang berani mencemooh Nabi-nya, demikian tulis Kang Jalal.

Senada dengan Ustad Jalal, aku-pun banyak mempunyai kawan, yang konon liberal. Saat aku marah menyaksikan film yang melecehkan Nabi beberapa waktu lalu, kawanku yang liberal justru tertawa menyaksikan Nabi-nya diparodikan sedemikian rupa.

Di saat air mataku menetes menyimak “gambar hidup” yang menistakan Nabi. Ia dengan entengnya berujar, “Sudahlah jangan terlalu kaku dan fanatik! Itu hanyalah rekaan semata. FiksiB dan fiksi bukanlah realita!”

Ketika itu aku teringat dengan segores pena Ustad Jalal, bahwa boleh jadi ada juga orang Islam yang membela para penista Nabi dengan penuh semangat. Ia menganggap orang yang menangis karena Nabi-nya dilecehkan sebagai orang-orang yang bodoh, fanatik, dan berpikiran sempit. Siapa saja yang memprotes penghinaan kepada Nabi dituding sebagai penentang kebebasan berekspresi atau fundamentalis ekstrem.

Mirisnya, orang-orang seperti demikian justru dengan bangganya menyematkan kata Islam sesudah gelar “liberal” yang disandangnya. Mereka lupa bahwa hal-hal yang liberal sekalipun tak lepas dari sesuatu yang fundamental. Mereka juga lupa bahwa sesuatu yang liberal adakalanya berakar dari hal-hal yang fundamental.

Kecintaan muslim terhadap Nabi-nya adalah sesuatu yang fundamental. Bagaimana seorang yang mengaku muslim justru tak terusik jiwanya saat Nabi-nya dilecehkan sedemikian rupa? Saya justru curiga dengan label “liberal” yang sering digembar-gembor oleh kawan dekat penulis. Apakah benar ia “liberal” atau sekedar ikut-ikutan “liberal”, agar disebut sebagai “free thinker”? Entahlah…

Bagaimana mungkin kita membiarkan orang melemparkan kotoran kepada wajah Nabi yang suci? Bagaimana mungkin kita masih bisa tertawa ketika senyuman Nabi yang menyejukkan, kemudian diganti oleh orang-orang yang dipenuhi kedengkian dengan seringai hantu yang menakutkan?

Walhasil, sakit hati masih bisa kita tanggung jika penghinaan, penistaan, serta pelecehan itu datang dari orang-orang yang bukan pengikut nabi. Sakit hati yang paling berat kita rasakan kalau penghinaan itu justru datang dan dilakukan oleh orang-orang yang mengaku muslim, yang -mungkin- dengan bangganya bersandang embel-embel “liberal” dan sebagai “yang tercerahkan”.

Dewa Gilang adalah Santri salah satu Pesantren NU (Nahdlatul Ulama)

Tue, 18 Mar 2014 @12:04

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved