PENGUNJUNG

Flag Counter

Kajian Islam LPII Bandung

Informasi kelas Hadis Al-Kafi dan Tafsir Al-Quran (follow Twitter) @LPII Bandung

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Islam Sebagai Agama Madani (1) [KH Dr Jalaluddin Rakhmat,M.Sc]

image

 

Kita tidak bisa mengandalkan agama yang berbeda-beda yang dianut oleh warga negara, yakni agama-agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha atau Konghucu. Agama-agama seperti itu adalah agama partikular, yang hanya berfungsi sebagai acuan doktrinal bagi para pemeluknya. Agama-agama partikular hanya mampu memberikan kesetiaan partikular yang tertutup, bukan kesetiaan terbuka yang bersifat civic terhadap negara.

Sebagai contoh, jika DI/TII berhasil mengukuhkan Negara Indonesia menjadi Negara Islam karena pikiran bahwa orang Islam harus lebih setia pada agamanya ketimbang pada negaranya, maka hanya kepentingan-kepentingan Islam saja yang akan didahulukan, sementara kepentingan agama lain akan diabaikan. Pikiran seperti ini tentu bersifat destruktif terhadap Negara Indonesia yang ingin memperlakukan pemeluk agama apapun secara sederajad. Jadi, inilah risiko jika kita membuat kesetiaan agama menjadi bersifat dikotomis.

Kesetiaan partikular yang bersifat dikotomis itu harus ditransformasi menjadi kesetiaan sipil yang bersifat terbuka. Karena itulah yang diperlukan adalah sebuah agama sipil, agama madani yang bisa memberikan kesetiaan tunggal pada Indonesia sebagai rumah bersama bagi semua agama. Inilah arti pentingnya agama sipil itu.

Watak Islam sesungguhnya berorientasi keluar, ke dunia sosial; bukan hanya ke dalam batin manusia sebagai pribadi. Dunia itu penting bagi Islam. Karena itu, persoalan-persoalan duniawi, termasuk bagaimana memikirkan penyelenggaraan kekuasaan negara, juga merupakan concern Islam. Salah satu argumen mengapa Islam menolak sekulerisme adalah karena paham ini menjadikan agama hanya boleh berada di ruang privasi individu-individu. Islam harus memberikan sumbangan pada dunia, karena itu harus aktif dalam berbagai kehidupan nyata yang bersifat duniawi.

Namun demikian, bagaimana jawaban Islam menyangkut persoalan penyelenggaraan negara, di sinilah terjadi silang pendapat yang rumit. Sekarang ini saya berada pada posisi bahwa Islam harus mampu memberikan basis argumen etis dan moral untuk membela eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa. Posisi saya ini memang mencerminkan perkembangan paham saya sebagai Muslim vis a vis Negara Indonesia.

Dulu saya menganut gagasan bahwa Negara Indonesia yang didasarkan pada Pancasila bertentangan dengan Islam. Saya melakukan pemberontakan terhadap Indonesia karena paham keagamaan saya ketika itu mengajarkan bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam. Sebuah negara Islam harus ditegakkan dengan mengeliminasi Indonesia.

Sekarang saya berada pada pilihan evaluatif, bahwa tidak ada satupun dari nilai-nilai Pancasila yang bertentangan dengan Islam. Mengapa saya harus melakukan pemberontakan? Mengapa saya tidak beralih untuk mendukungnya saja karena kerangka etis Pancasila sesungguhnya mencerminkan nilai-nilai Islam yang saya yakini?

KH Dr Jalaluddin Rakhmat,M.Sc adalah Caleg DPR-RI No.Urut 1 PDI-P Dapil Jawa Barat II, Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat

 

Sun, 25 Dec 2016 @09:07

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved