Rubrik
Terbaru
MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Kemerdekaan Menurut Bung Karno [by Dr.KH.Jalaluddin Rakhmat, M.Sc]

image

Ada satu kata yang harus kita ingat, setiap kali kita menghadapi Pemilu. Kata itu ialah Merdeka. Tanpa kemerdekaan tidak akan ada pemilu.Tanpa kemerdekaan kita tidak dapat memilih pemimpin yang kita kehendaki. Tanpa kemerdekaan kita tidak bisa ikut serta mengatur Negara. 

Pada pidato 17 Agustus1945, Bung Karno berkata: “Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah-air kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita!Negara Merdeka! Negara Republik Indonesia- Merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita!”

Merdeka menurut Bung Karno adalah membebaskan diri kita dari belenggu kekuasaan orang asing.  Dalam Negara merdeka, kita bebas menyusun Negara kita –ekonomi, politik, masyarakat, budaya- seperti yang kita kehendaki, bukan seperti yang dikehendaki Negara lain. 

Menurut Proklamator Kemerdekaan RI, merdeka bukanlah  tujuan. Merdeka hanyalah alat agar kita mengelola tanah air, negara dan bangsa Indonesia seperti yang diinginkan rakyat Indonesia, bukan seperti keinginan rakyat negara lainnya.

Lalu, untuk apa kita mengelola tanah air, negara, dan bangsa kita? Untuk membahagiakan seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk segelintir orang yang mengatas-namakan rakyat.  Simak lagi kata bijak Bung Karno, “Bagi saya kesejahteraan umum itu sumber kebahagiaan rakyat, negara tidak boleh menjadi tempat bagi penggarong atas nama kapital, atas nama komoditi.” 

Pada pidato 17 Agustus 1965, yang diberinya judul Capailah Bintang-bintang di Langit, Bung Karno menyebutkan Trisakti, tiga karakteristik bangsa yang merdeka: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan.

Kepada Joko Widodo, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berpesan agar mengabdikan dirinya secara total untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, jika kelak menjadi Presiden Republik Indonesia. Megawati juga berpesan agar Jokowi mengimplementasikan Trisakti Bung Karno, yang baru kita sebut.

Dalam tulisan ini, marilah kita lihat apakah kita sekarang bangsa yang merdeka dengan ukuran Trisakti Bung Karno? Karena kini ekonomi mendikte politik dan kebudayaan, marilah kita mengukur situasi kita dalam kriteria kedua saja dahulu: berdikari dalam ekonomi.

Indonesia hebat! Negeri kita ini luar biasa! Beberapa ratus meter di bawah pegunungan Jayapura, ada terowongan yang berkelok ke kiri ke kanan, sepanjang puluhan kilometer, di bawah tanah. Pada setiap tanah yang kita injak di situ ada bongkah-bongkah emas. Saudara berada di tambang emas terbesar di dunia.

Pada 2004, tambang ini diperkirakan memiliki cadangan 46 juta ton emas. Pada 2006 produksinya adalah 610.800 ton tembaga; 58.474.392 gram emas; dan 174.458.971 gram perak. Setiap hari, dari bawah tanah, diangkut oleh kereta gantung, disambung dengan conveyor belt, digelontorkan melalui pipa ke kapal induk Amerika. Berapa pemerintah mendapatbagian dari kekayaan yang luar biasa itu. Satu persen saja!

Sekali lagi, satu persen saja. 99 persen, sekali lagi 99 persen, dikirimkan ke Negara kapitalis besar dunia: Amerika Serikat. Untuk saudara ketahui, 1 persen itu dari ¼  penghasilan yang dilaporkan kepada pemerintah oleh PT Freeport Amerika! Walaupun mereka menyebutnya  PT Freeport Indonesia.

Indonesia hebat! Tahukah saudara bahwa setiap hari ribuan ton batubara diangkut dari Kalimantan oleh perusahaan yang berdomisili di Inggris,ribuan kaki kubik gas dialirkan melalui pipa sepanjang 500 km ke Singapura dari sumber gas terbesar di dunia Natuna. Jadi saudara, di Laut Cina Selatan, ada sungai sepanjang 500 km, bukan sungai madu atau sungai susu, tapi sungai gas, sumber enerzi yang menggerakkandunia.

Indonesia Hebat!  Tetapikekayaan yang berlimpah tidak membuat rakyat Indonesia makmur; kekayaan itu diserahkan oleh penguasaha-pengusaha kita kepada perusahaan-perusahaan asing. Rakyat Indonesia mirip pemilik kebun.

Semua buah-buahannya diserahkan kepada orang lain. Kita tidak punya kebun lagi. Kita jadi tukang memelihara kebun, yang dibayar dengan sangat murah. Dan kita dipaksa untuk memakan sampah-sampah,kotoran-kotoran kebun itu, yang ditinggalkan oleh para pemilik kebun.  Kebun kita dirampok besar-besaran. 

Kita semua sekarang menjadi buruh-buruh kontrak, yang membanting tulang, memeras keringat, untuk menggendutkan para pemilikmodal. Setelah kekayaan Indonesia diambil, nyawa kita pun diambil perlahan-lahan. Sudah raga dirampas, sekarang jiwa pula!

Demi keuntungan perusahaan-perusahaan besar itu,  para petani di Sumatera, Kalimantan,Sulawesi, dan seluruh negeri yang tercinta ini diusir dari tempat tinggalnya, diteror setiap hari, dan kalau mereka tetap melawan, ujung-ujung bayonet atau timah besi boleh jadi menyobek-nyobek tubuh mereka.

Berapa luas tanah, luas daratan di Indonesia? 195 juta hektar. Kalau peta Indonesia dihamparkan di atas peta dunia, besarnya hamparan negeri ini terbentang sejak kota London,di Inggris, sampai Teheran, di Iran. 195 juta hektar. 

Lebih dari seluruh Negara Eropa. CATAT, dari 195 juta hektar itu, sekitar 178 juta hektar dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing; perusahaan kelapa sawit, perusahaan minyak dan gas, pertambangan mineral dan batu bara, dan kehutanan. 

Mereka menguasai 93 persen dari tanah saudara. Sisanya sekarang sedikit demi sedikit diambil  mereka untuk pabrik, mal-mal, supermarket, hotel, dan sebagainya.

Ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan ini, menangislah kalian: Indonesia, tanah airku!  Ah, tanah air itu bukan lagi milik kita!

Di tengah-tengah kekayaan Indonesia Hebat itu saudara meringkuk dalam penderitaan, gaji saudara dibayar murah, dan saudara harus membayar untuk hak-hak saudara. Saudara harus membayar biaya pendidikan, padahal itu hak semua rakyat. Saudara harus membayar ongkos perawatan dan pemeliharaan kesehatan, padahal itu hak semua rakyat. Saudara bahkan harus membayar keamanan, membayar sampah, bahkan jalan raya yang akan saudara masuki.

Negeri kita belum merdeka. Menurut Bung Karno, kita harus melakukan aksi massa, menyadarkan mereka, bahwa tujuan perjuangan kita ialah menumbangkan stelsel kapitalisme, membebaskan negeri ini dari Neokolonialisme, menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang berdikari  secara ekonomi. Itu baru namanya merdeka. Pilihlah siapa pun, tetapi dengan kesadaran bahwa kamu ingin memerdekaan negeri kamu dari penjajahan ekonomi, politik, dan budaya!

Dr.KH.Jalaluddin Rakhmat, M.Sc adalah Ketua Dewan Syura IJABI

 

Fri, 28 Sep 2018 @20:10

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved