AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Jalaluddin Rakhmat dan JIL: Mengaji Kitab Al-Kafi (1)

image

"Demi mempertahankan status kesahihan suatu hadits, menurut Kang Jalal, sikap paradoks pada akhirnya berkembang di kalangan muslim Sunni. Ini, misalnya, dapat dilihat dari bagaimana mereka bersikap terhadap hadits-hadits tertentu yang menceritakan keganjilan perilaku Nabi Muhammad yang nota bene tidak layak dinisbatkan kepada seorang Nabi."

Meskipun pelbagai upaya rekonsiliasi Sunni-Syi’ah di dunia muslim telah banyak mendapat perhatian, namun konflik dan ketegangan antara dua kelompok ini nampaknya belum ada ujungnya.

Di Indonesia misalnya, tempat di mana katanya berbagai aliran agama bisa hidup secara berdampingan dalam satu wadah kebangsaan, ternyata konflik kedua kelompok muslim tersebut juga masih sering terjadi danbahkan hingga memakan korban.

Kasus terakhir yang kita dengar adalah penyerangan warga Syi’ah di Sampang, Madura. Ini belum menyebut kasus-kasus di luarIndonesia seperti perseteruan politik di Suriah dan Libanon yang konon juga berbuntut kepada konflik panas sektarian Sunni-Syi’ah.

Bermaksud ingin memberi kontribusi pada rekonsiliasi kedua kelompok Islam tersebut, melalui diskusi dan bedah pemikiran Syi’ah, JIL pada bulan Ramadhan tahun ini kembali menggelar Tadarus Ramadhan. Di minggu pertama ini, Tadarus di mulai dengan mengkaji kitab induk rujukan hadits kaum Syi’ah; Kitab Al Kâfi yang ditulis oleh ulama Syi’ah kenamaan Al Kulayni.

Dengan dipandu oleh Taufik Damas, dua narasumber yang hadir pada kesempatan ini adalah Jalaludin Rakhmat sebagai representasi IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia), dan Novriantoni Kahar selaku pembanding dari sudut pandang Sunni.

Novri memulai pembahasan dari sudut penamaan kitab dan efek kritik yang ditimbulkan darinya. Seperti namanya, “Al Kâfi” dalam bahasa Arab berarti “cukup”, maksudnya referensi yang lengkap sehingga mencukupi warga Syi’ah dalam soal perujukan. Makna ini menurut Novri dipertegas dalam satu buku lain karya Syaikh Abd al Rasul al Ghaffar yang menyatakan “…kitab Al Kâfi ini sudah mencukupi untuk perujukan golongan Syi’ah."

Pernyataan seperti ini, lanjut Novri, ternyata mengundang penyimpulan yang keliru berupa serangan-serangan dari kelompok Sunni yang mengira bahwa orang Syi’ah tidak memerlukan pedoman lain selain kitab ini. Padahal, seperti halnya wajar ditemukan pada penulisan buku-buku pada umumnya, ungkapan tersebut tidak lain sebatas pemujaan hiperbolis yang seharusnya ditanggapi secara wajar pula, dan bukannya dengan serangan-serangan.

Sebagai dua sayap besar tradisi Islam, eksistensi tradisi Sunni dan Syi’ah yang berkembang melalui kontestasi sejarah yang panjang bagi Novri mutlak diperlukan agar Islam bisa berjalan seimbang dan terhindar dari ketimpangan. Kehilangan pemahaman terhadap salah satu tradisi ini, demikian Novri menegaskan, akan berujung pada pemahaman Islam yang tidak seimbang. Kalaupun tidak memahami benar salah satunya, setidaknya kita mesti mengerti bagaimana kedua tradisi Islam tersebut dibentuk, demikian Novri.

Meskipun memiliki rujukan primer yang satu, yakni Al Qur’an, tradisi Sunni dan Syi’ah berpisah ketika sampai pada pembicaraan Sunnah. Perpisahan ini bukannya soal pro dan kontra terhadap Sunnah, tapi dalam hal metode perolehan hadist yang notabene merupakan rujukan untuk mengetahui Sunnah Nabi.

Jika dalam Sunni kita mengenal Kitab Sahih Bukhari yang merepresentasikan kitab sahih hadits dengan metodenya tersendiri, maka Kitab Al Kâfi yang ditulis Al Kulayni ini merupakan representasi kitab hadits dari tradisi Syi’ah yang sudah tentu memiliki metode sendiri yang pula berbeda.

Nah, menurut Novri,percabangan tradisi Sunni-Syi’ah tersebut di atas dalam hal ini lebih dipicu oleh Sunnah dan bukannya oleh Al Qur’an sendiri. Dengan mengkutip pendapat ulama Suriah kenamaan George Tarabisyi mengenai dua macam versi Islam: yakni Islam Qur’an dan Islam Hadits, Novri mengartikulasikan bagaimana tradisi Islam yang berkembang dan popular di masyarakat, baik dari kalangan Sunni maupun Syi’ah sepenuhnya lebih dibentuk oleh Hadits (Sunnah) dari pada Al Qur’an.

Ada banyak sekali tradisi umat Islam yang jika diteliti lebih jauh bukan turunan dari ajaran Al Qur’an, tapi merupakan manifestasi ajaran Hadits, sebut saja semisal sikap terhadap orang yang berpindah keyakinan, shalawat, ziarah kubur, Isra mi’raj dan lain sebagainya. Kalau analisa ini kita terima, kata Novri, maka kita dapat berkesimpulan bahwasanya tradisi Sunni-Syi’ah tidak sepenuhnya berpisah. Lebih dari itu, ada variasi-variasi yang membentuk kedua tradisi tersebut menjadi terlihat berbeda.

Variasi-variasi tersebut terakumulasi melalui proses sejarah yang panjang, berakar berurat, dan dikokohkan melalui kompilasi kitab-kitab mu’tabarah yang berbeda dalam tradisi masing-masing sehingga sulit dilepaskan begitu saja secara semena-mena tanpa usaha pemahaman yang serius.

Sumber: Jaringan Islam Liberal

Fri, 28 Mar 2014 @21:23

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved