AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Jalaluddin Rakhmat dan JIL: Mengaji Kitab Al-Kafi (2)

image

Kembali ke soal Al Kâfi, dengan dorongan kebutuhan terhadap pegangan yang memadai bagi kaum Syi’ah, Al Kulayni menulis kitab ini setebal tidak kurang dari delapan jilid dengan struktur penulisan dimulai dari perkara-perkara pokok terlebih dahulu (Ushul), kemudian dilanjutkan pada persoalan cabang (furu’) dan dilengkapi dengan sejumlah penjelasan (appendix).

Di dalamnya, kita akan menemukan betapa sejumlah tradisi memang dibentuk berbeda dengan tradisi Sunni. Novri menyebut beberapa contoh dari variasi tersebut. Dalam soal pendidikan Shalat lima waktu dan puasa untuk anak misalnya, jika dalam tradisi Sunni pendidikan itu dibuat sedikit kaku dan tegas, maka dalam tradisi Syi’ah pendidikan itu lebih beruansa lembut dan sedikit longgar, yakni lebih mementingkan pada pembiasaan.

Sunni melihat Sunnah itu dilestarikan lewat hadits-hadits yang diriwayatkan melalui perawi, sementara Syi’ah menilai keturunan nabi (‘ithrah al Nabiy) itulah yang menjadi jalan untuk mereservasi Sunnah beliau.

Di akhir presentasinya, Novri juga menyinggung bahwa isi atu kandungan Al Kâfi dinilai menyimpan legasi Mu’tazilah yang kental. Menurutnya, bisa saja orang beranggapan bahwa Al Kulayni lebih condong kepada kelompok Mu’tazilah dalam cara berpikirnya. Ini misalnya, lanjut Novri, bisa dilacak dalam kitab Al Kâfi pada bab “Kitâb al ‘Ilmi wa al Jahli” (kitab ilmu dan kebodohan).

Pada intinya, penelusuran lebih jauh terhadap Al Kâfi mampu membawa umat muslim kepada khazanah pengetahuan baru dari kedua sayap tradisi keislaman Sunni dan Syi’ah.

Sementara itu, Kang Jalal, demikian ia akrab disapa, memulai presentasinya dengan mengemukakan sejumlah perbedaan antara Al Kâfi dan kitab-kitab hadits terkemuka di kalangan Sunni (Kutub al Hadits al Mu’tabarah).

Pertama, berbeda dengan kitab-kitab hadits Sunni di mana mereka hanya memuat hadits-hadits yang dinilai sahih, dalam tradisi Islam Syi’ah, tugas para pengumpul hadits hanyalah mengoleksinya saja. Tradisi pengumpulan hadits demikian ini, menurut Kang Jalal, berimplikasi pada jumlah hadits di kalangan Syi’ah jauh lebih besar dibanding hadits di kalangan Islam Sunni.

Adalah menjadi tugas para ulama untuk menentukan mana di antara hadits-hadits termaktub itu yang bisa diterima atau tidak. Oleh sebab kitab-kitab hadits Syi’ah tidak melakukan penyaringan hadits, maka kritisi hadits oleh ulama-ulama Syi’ah menjadi telah terbiasa dan tidak lagi dianggap tabu. Ini tentu terdengar kontras dikalangan tradisi Islam Sunni di mana pengkritisian hadits ditabukan dan menjadi momok apabila dilakukan.

Pada era sekarang, di mana hadits telah banyak mengambil alih peranan Al Qur’an dalam pembentukan sikap masyarakat muslim, semangat kritis para ulama Syi’ah terhadap hadits menurut Kang Jalal layak diperhitungkan. Sikap kritis tersebut, misalnya, dapat kita teladani dari bagaimana Al Kulayni dalam muqaddimah kitabnya mengajak umat muslim untuk mengukur hadits-hadits dengan kandungan Al Qur’an; terima hadits ketika ia sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan tolak hadits jika sebaliknya.

Tidak seperti anggapan yang berkembang di kalangan Sunni bahwa orang dilarang mengkritik suatu hadits jika Bukhari telah mensahihkannya, di kalangan Syi’ah, pengkritisian hadits menjadi suatu yang telah wajar dilakukan dan memang menjadi tugas para ulama.

Demi mempertahankan status kesahihan suatu hadits, menurut Kang Jalal, sikap paradoks pada akhirnya berkembang di kalangan muslim Sunni. Ini, misalnya, dapat dilihat dari bagaimana mereka bersikap terhadap hadits-hadits tertentu yang menceritakan keganjilan perilaku Nabi Muhammad yang nota bene tidak layak dinisbatkan kepada seorang Nabi.

Di satu sisi, umat muslim Sunni ingin mati-matian mempertahankan status kesahihan hadits, namun di sisi yang lain mereka juga berkeberatan menerima cerita-cerita tidak pantas tersebut. Sikap paradoks ini, pada akhirnya, membawa mereka untuk berspekulasi bahwa ada perilaku-perilaku tertentu yang hanya dikhususkan dan dibenarkan untuk Nabi, dan tidak untuk umatnya.

Menurut Kang Jalal, spekulasi tersebut tentulah amatlah menggelikan dan tidak bisa diterima. Demikian, sebab perbuatan dosa tetaplah dosa, dan karena itu tentu tidak akan ada perbuatan dosa yang dikhususkan untuk Nabi. Ini bisa terjadi, lagi-lagi berawal dari keengganan umat muslim Sunni untuk mengkritisi hadits yang katanya sudah dianggap sahih, dan sikap seperti ini mestilah diperbaiki.

Kedua, berbeda dengan sejarah penulisan hadits di kalangan muslim Sunni yang terlambat hingga tiga abad lamanya, penulisan hadits di kalangan muslim Syi’ah sudah di mulai dari sejak awal. Selain kitab Al Kâfi, apa yang dikenal sebagai mushaf Fatimah, begitu Kang Jalal menjelaskan, pada dasarnya adalah kumpulan hadits-hadits Nabi yang telah dimulai prosesnya dari sejak awal.

Sejarah penulisan dini Hadist Nabi juga diperkuat oleh fakta Abu Rafi’, seorang budak Nabi, dan bahkan Imam Ali Bin Abi Thalib juga telah memulai pekerjaan tersebut. Ini bisa terjadi, karena dalam tradisi Syi’ah Nabi Muhammad tidak dikenal sebagai orang yang buta huruf. Menurut muslim Syi’ah beliau bisa membaca dan menulis dan karenanya ia juga mampu mengajarkan anak, menantu dan keluarganya menulis dan belajar hadits.

Sumber: Jaringan Islam Liberal

Fri, 28 Mar 2014 @21:45

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved