Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku-buku bacaan ISLAM. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

KH Alawi Al-Bantani Meluruskan Pemahaman Islam Syiah

image

Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa “Merah” MUI & DDII adalah buku baru dari 55 buku yang telah ditulis oleh KH Alawi Nurul Alam Al-Bantani.

Saya mendapatkannya dari seorang kawan. Saya membacanya dengan penuh penasaran. Sebab sedikit ulama NU (Nahdlatul Ulama) yang memiliki waktu untuk menulis. Kyai NU biasanya sibuk mengurus santri dan pengajian serta pesantrennya. Apalagi ini sosok ulama NU muda, pasti lebih punya kekuatan yang dahsyat dalam urusan dakwah.

Hal itu terbukti dari buku Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa “Merah” MUI & DDI, yang terbit Maret 2014. Buku ini sesuai dengan judulnya hendak memberikan pencerahan kepada oknum MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat dan DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) yang begitu mudah menyesatkan Syiah, bahkan mengeluarkan dari agama Islam.

Kyai Alawi, yang kini menjadi Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), memulai isinya buku dengan bercerita tentang seorang kawan yang bertemu dengan orang-orang Wahabi.

Kawannya itu bercerita pada orang-orang Wahabi tentang kejadian di Malaysia. Seorang Wahabi masuk taksi meminta diantarkan ke suatu tempat. Sopir taksi memutar lagu berbahasa Inggris alias Barat. Orang Wahabi itu bilang bahwa lagu itu tidak boleh didengarkan.

“Itu bid’ah,” kata orang Wahabi. Kemudian sopir memutar lagu shalawatan. Kembali orang Wahabi itu berkomentar dengan kalimat yang hampir sama.

“Tak boleh itu. Di zaman Nabi tak ada shalawatan yang begitu. Matikan!” katanya.

Sopir taksi menghentikan laju kendaraan dan meminta orang Wahabi itu turun. Meski protes, tetap saja orang itu turun. Kemudian sopir mengeluarkan barang bawaan orang Wahabi. Kepada orang Wahabi itu, sopir berkata, “Pak Ustad, tadi di dalam mobil Pak Ustad bilang, mendengarkan lagu Barat dan shalawat itu bid’ah. Padahal di zaman Nabi juga tak ada taksi. Karena taksi adalah bid’ah, sekarang Pak Ustad berdiri di sini dan tungggu saja unta lewat!” (halaman 5).

Saya tertawa membacanya. Benar-benar kisah nyata yang perlu disebarkan. Kalau perlu diperbanyak untuk hiburan umat Islam. Maklum selama ini umat Islam banyak dengar kata-kata yang tidak ramah di telinga: bid’ah, tahayul, kafir, musyrik, murtad, dan sesat.

Kembali pada buku Kyai Alawi. Buku yang secara khusus membongkar kesalahan sekaligus kesesatan buku karya  oknum MUI dan DDII mengenai Syiah ini terbagi dalam sembilan bab.

Pertama,  awal mula kejadian yang bercerita tentang latar belakang tulisnya buku. Kedua, ketidak akuratan data yang dimiliki MUI tentang Syiah. Ketiga, MUI menolak paham Syiah secara umum. Keempat, penjelasan tentang 12 khalifah. Kelima, keburukan akhlak Yazid bin Muawiyah. Keenam, ajaran Syiah menurut DDII. Ketujuh, ketidakpahaman MUI dan DDII tetang konsep rukun Iman dan rukun Islam Syiah. Kedelapan, masalah mutah (nikah sementara). Dan bab sembilan adalah penutup yang berisi penyimpulan dan ajakan untuk berdialog dengan para penolak Syiah.

Kyai Alawi menyebutkan bahwa maraknya penyesatan Syiah di Indonesia hingga MUI dan DDII menyebarkan buku yang tidak benar tentang Syiah disetir oleh segelintir orang-orang Wahabi dengan dana yang besar. Tujuannya jelas untuk memecah belah umat Islam.  Mereka kadang mengaku sebagai Ahlussunah, tetapi sebenarnya adalah Wahabi.

Menurut Kyai Alawi, yang benar-benar Ahlussunah di Indonesia, adalah umat Islam NU yang sampai sekarang masih menyebut Syiah sebagai saudara (karena sesama umat Islam). Mungkin bisa dikecualikan dengan orang-orang Jawa Timur yang mengaku NU. Secara tegas dalam buku itu, Alawi menyebutkan PBNU menyatakan Syiah itu Islam dan tidak sesat.

Kyai Alawi menulis, “…para ulama kami dari PBNU cenderung untuk bersikap moderat kepada kaum Syiah, daripada kepada kaum Wahabi. Karena bila kita membuat neraca perbandingan antara Syiah dan Wahabi, kejahatan dan kebiadaban Wahabi terhadap agama jauh lebih besar dan membahayakan” (halaman viii).

Kyai Alawi juga menyeru oknum-oknum MUI dan pengurus DDII untuk membuat buku yang menyebutkan kesesatan Wahabi. Karena jelas Wahabi itu memiliki rukun iman dan Islam beserta ajaran yang bertentangan dengan agama Islam.  Kyai Alawi menyebutkan  24 akidah Wahabi yang menyesatkan umat Islam sehingga dengan sangat perlu untuk disebarkan agar umat Islam tidak terkecoh oleh mereka.

Sebaliknya, Syiah yang disebut sesat oleh oknum MUI dan pengurus DDII, bagi Kyai dan ulama PBNU adalah mazhab Islam yang lebih banyak persamaannya dan memiliki sumber ajaran yang benar dari Rasulullah saw dan Al-Quran. Penjelasan ini bisa dilacak dari pembelaan Kyai Alawi dalam bukunya dengan menggunakan kitab ulama Syiah kontemporer disertai dalil-dalil dari kitab Ahlussunah.

Hal lainnya, Kyai Alawi membedakan Syiah dengan Rafidhah. Buku Panduan MUI yang menyebutkan seluruh Syiah adalah Rafidhah oleh Kyai Alawi dinilai telah gegabah dalam memberikan penilaian.

Oknum yang berada di tubuh MUI selayaknya memperbarui kembali buku yang telah ditulisnya karena sangat tidak mencerminkan lembaga umat. Alih-alih merajut ukhuwah Islamiyyah malah menebarkan permusuhan kepada kaum Muslimin pengikut Mazhab Syiah dengan rangkaian fitnah dan tuduhan.

Perlu diketahui, semua fitnah dan tuduhan terhadap Syiah sudah banyak dijawab ulama Syiah. Bahkan, ulama Sunni seperti Kyai NU seperti Gus Dur, Hasyim Muzadi, Kyai Alawi, Kyai Said Aqil Siradj, dan cendekiawan-cendekiawan Muslim Indonesia pun banyak menjelaskan masalah Syiah dengan benar dan sesuai dengan yang diyakini Muslim Syiah.

Jika Anda berpikir dengan akal sehat, setelah baca buku Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa Merah MUI & DDII ini, akan sepakat bahwa Syiah masih Islam.

(Ahmad Sahidin, pembaca buku)

Tue, 8 Apr 2014 @11:43

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved