AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Jalaluddin Rakhmat: Pancasila Sangat Relevan

image

Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) punya catatan tersendiri tentang nasionalisme di Indonesia. Kontribusi pertama umat Islam Indonesia adalah membangun kebangsaan. Orang Indonesia yang beragama Islam, yang terdapat di berbagai daerah, bersama-sama membangun suatu bangsa. Islamlah yang mempersatukan mereka.

Kontribusi kedua, Islam membantu membentuk nasionalisme kebangsaan. Tentu saja karena Islam mayoritas, maka memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sampai Bung Karno pendiri bangsa ini berkata, “Kalau kau gali hatiku ini lebih dalam, maka kau temukan di dalamnya itu Islam”. Para pejuang kemerdekaan juga mayoritas orang Islam. Sewaktu pembentukan UUD ‘45 menyusul setelah Piagam Jakarta, kaum muslimin bersedia “mengorbankan” kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”.

Semua itu demi menjaga persatuan. Sehingga dalam pembukaan UUD ‘45 tidak lagi disebut kewajiban menjalankan syariat Islam. Jadi masalah syariat Islam, sesungguhnya sudah diselesaikan saat itu demi NKRI.

Dalam pidato Pancasilanya, Bung Karno mengatakan, semua orang Islam dalam NKRI bisa berjuang mati-matian secara demokratis untuk memperjuangkan haknya. Tapi kelompok-kelompok yang lain juga bisa berjuang secara demokratis. Pertandingannya yaitu dalam pemilu. 

“Entah kenapa, belakangan pertandingan itu bergeser, tidak lagi dalam pemilu. Tapi dalam kehidupan sehari-hari. Saya lihat ini terjadi pasca-Soeharto. Karena di zaman Soeharto, orang-orang yang menyentuh masalah agama itu dianggap SARA,” tuturnya. 

Bagi Kang Jalal, Pancasila adalah kekayaan tidak ternilai bagi bangsa Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila sangat relevan. Karena Pancasila disepakati oleh seluruh agama. Bahkan oleh kelompok ekstrem sekalipun. 

“Karena saya dulu juga pernah jadi anggota kelompok ekstrem. Apa dari Pancasila itu yang melanggar atau bertentangan dengan Islam? Tidak ada. Periksa satu per satu, tidak ada yang bertentangan dengan ajaran mana pun, semua sepakat. Kita harus berterima kasih kepada Bung Karno,” katanya. 

Persatuan juga merupakan isu utama dalam pemikiran dan gerakan Kang Jalal. Bukan hanya persatuan di kalangan kaum muslimin, namun juga persatuan bangsa. Ustaz Jalal melihat bahwa toleransi umat beragama dari hari ke hari semakin buruk. Bangsa yang dulu dikenal sangat ramah, sekarang menjadi pemarah. Oleh karena itu, Ustaz Jalal selalu berusaha menumbuhkan kembali jati diri bangsa yang ramah dan merekatkan kembali persatuan yang terkoyak.

Salah satu upaya Ustaz Jalal untuk menjembatani Sunni dan Syiah dari kesalahpahaman berumur ratusan tahun adalah dengan mendirikan Muhsin (Majelis Ukhuwah Sunni Syiah Indonesia) pada Mei 2011. Ustaz Jalal juga menggagas dan mendirikan sebuah organisasi bernama Badan Koordinasi Perjuangan Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (BPKBB) yang terdiri atas Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan sebagainya.

Menurutnya, pemerintah harus bertindak tegas atas sikap-sikap intoleran. “Kita Insya Allah akan menikmati Indonesia yang damai. Karena pada dasarnya kita sangat toleran. Kita punya sikap toleran secara genetis dari orang-orang terdahulu. Sehingga seluruh bangsa bisa hidup berdampingan. Jadi gejala sekarang ini hanya gejala temporer saja.”

“Pemerintah harus menghidupkan kembali lembaga dialog antarumat beragama atau menegakkan, membantu lembaga-lembaga yang memperjuangkan kebebasan beragama. Itu harus dibantu. Di masyarakat sudah terjadi sekarang ini. Jangan sampai berhadap-hadapan antara pemerintah yang membiarkan intoleransi dengan masyarakat umum yang membela toleransi umat beragama,” tegasnya.[]

Sumber: Harian Umum Galamedia

 

Thu, 4 Feb 2016 @00:21

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved