Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Deklarasi Anti Syiah Menyalahi UUD 1945 dan Menentang Fatwa Ulama

image

Gerakan Anti Syiah yang disuarakan pada Minggu, 20 April 2014, di Markaz Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) Masjid Al-Fajr, Jalan Cicagra Bandung, menuai kritik dari berbagai kalangan.

Di antaranya adalah ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) KH Alawi Nurul Alam Al-Bantani menyebut acara FUUI yang diketuai oleh Athian Ali Dai itu sebagai upaya provokasi pada masyarakat awam untuk membenci saudara Muslim lainnya yang mengikuti Syiah sebagai mazhabnya. 

“Semua pembicara dari Wahabi, tak satu pun ulama Ahlu Sunnah,” kata kiai muda yang menjabat Tim Aswaja Center LTM PBNU.

Sebelumnya, KH Umar Shihab menyebut kehadiran anggota MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam deklarasi sebagai illegal karena tidak mendapat restu dari Ketua Umum MUI Pusat.

Begitu juga dengan Abdi Suherman dari komunitas Al-Muntazar menyatakan bahwa deklarasi tersebut melanggar UUD 1945 dan nilai-nilai Pancasila.

“Karena semua warga Indonesia memiliki hak beragama,” kata Abdi, juru bicara komunitas Al-Muntazar.

Menurut Abdi, pernyataan yang menyebutkan anti mazhab tertentu yang dilakukan secara luas di hadapan publik merupakan pelanggaran hukum dalam kategori pidana kebencian dan pelakunya harus ditindak secara hukum. 

Deklarasi FUUI tentang Syiah bisa dikatakan telah menyalahi pernyataan ulama dan cendekiawan Muslim Dunia dalam konferensi internasional di Jordania yang menghasilkan Risalah Amman. Salah satu isinya berbunyi:

"Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut atau penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan. 

 Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.

Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip-prinsip utama Islam (ushuluddin)."

Kemudian ada pula deklarasi Makkah, deklarasi Bogor, deklarasi Depok, deklarasi Persatuan Umat Islam di Makassar, dan Kesepakatan Ormas Islam Indonesia.

Sejumlah ulama dan perwakilan umat Islam yang tergabung di dalamnya menyatakan Syiah sebagai Islam dan larangan menyesatkan mazhab-mazhab Islam, termasuk Sunni dan Syiah.  

Sebagai tambahan, berikut ini fatwa ulama dan cendekiawan Islam Indonesia yang menyatakan bahwa Syiah itu Islam dan tidak sesat:

Prof.Dr.M. Quraish Shihab (Penulis Tafsir Al-Mishbah dan Mantan Menteri Agama RI):
“Isu pertentangan sunni-syiah sudah usang. Masih terlalu banyak problem besar yang muncul seiring perkembangan zaman yang harus dipikirkan umat Islam ketimbang menghabiskan waktu mempertengkarkan soal sunni-syiah.”  

KH.Alie Yafie (Mantan Pengurus MUI Pusat):
“Dengan tergabungnya Iran yang mayoritas bermazhab syiah sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam.”    

KH.Umar Shihab (Ketua MUI Pusat Bidang Ukhuwwah):
“Syiah bukan ajaran sesat. Baik sunni maupun syiah tetap diakui konferensi ulama Islam internasional sebagai bagian dari Islam.” 

Dr.Muhammad Zain (Litbang Kementerian Agama RI):
“Syiah bukan musuh bagi sunni. Begitu sebaliknya, sunni bukan musuh bagi syiah. Umat Islam saat ini lebih cerdas dalam melihat perbedaan.” 

Prof.Dr.Din Syamsuddin (Ketua Umum MUI Pusat):

Tidak ada beda sunni dan syiah. Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim.”    

KH.Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU):

Ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya sunni. Di universitas di dunia mana pun tidak ada yang menganggap syiah sesat.” 

Prof.Dr.Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta):

“Syiah merupakan bagian dari sejarah Islam dalam perebutan kekuasaan, dari masa sahabat, karenanya akidahnya sama, al-qurannya, dan nabinya juga sama.” 

Prof.Dr.Azyumardi Azra (Sejarawan dan Guru Besar UIN Jakarta): 

“Syiah adalah bagian integral dari umat Islam dan tidak ada perbedaan yang prinsipil dan fundamental dalam syiah dan sunni, kecuali masalah kepemimpinan politik. Fatwa haram atau sesat syiah itu tidak diperlukan, baik secara teologis, ibadah dan fiqih karena pertaruhannya ukhuwah Islamiyah di Indonesia.”

Dr.Zuhdi (Dewan Tabligh PP Muhammadiyah):

“Syiah adalah bagian tak terpisahkan dari Islam. Saya tegaskan bahwa secara resmi PP Muhammadiyah tak pernah menyesatkan Syiah.” 

M. Qasim Mathar ( Guru Besar UIN Alauddin Makassar):

“Bahwa perbedaan ada, itu ditemukan pada cabang dan ranting ajaran. Misalnya, dalam soal doa dan wirid, akan ada perbedaan antara Muhammadiyah dan NU, walaupun keduanya sama-sama Sunni. Tentu tidak boleh dikatakan bahwa salah satunya bukan Sunni, apalagi bukan Islam. Perbedaan pada bagian yang bukan pokok, itulah yang menyebabkan mereka disebut Sunnah, Syiah dan Ahmadiyah. Menyebut salah satunya sebagai bukan Islam menunjukkan kedangkalan pengetahuan. Tegasnya, Sunnah, Syiah dan Ahmadiyah, ketiganya adalah Islam. Karena itu mereka biasa juga disebut muslim Sunnah, muslim Syiah, muslim Ahmadiyah.” 

Dr.Zuhairi Misrawi (Cendekiawan PDIP):

“Kalau kita tahu sejarah, kita tak bisa mengabaikan sumbangsih besar syiah dalam peradaban Islam. Terutama Syiah Itsna Atsariyah. Yang jadi masalah adalah orang tidak membaca khazanah syiah. Yang mereka baca hanya literatur yang berpandangan negatif kepada syiah. Akhirnya kesimpulan yang diambil sangat subjektif.”  

KH.Nur Iskandar SQ (Ketua Dewan Syura PPP):

“Kami sangat menghargai kaum Muslimin Syiah.” 

Perlu diketahui bahwa gerakan Anti Syiah bertentangan dengan ajaran al-Quran dan hadis di bawah ini:

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS Ali Imran [3]:103)

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya dan tidak merusak kehormatan dan nama baiknya." (HR Muslim)

(AS/KONTRIBUTOR MISYKAT)  

Sun, 20 Apr 2014 @18:48


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved