YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Tanya Jawab Islam
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)

Mimmiyat, Salik, dan Kematian (2) [Miftah F. Rakhmat]

image

Dahulu pernah di siang hari yang terik di Madinah, ketika Nabi Muhammad saw yang selalu dinaungi awan saja berteduh, seorang sahabat membuka bajunya. Ia menjatuhkan badannya ke pasir yang panas, menggerak-gerakkannya dan membakarnya seraya berkata, ”Dzuqi, duhai diri, rasakanlah! Karena panas yang akan kau terima di hari akhirat nanti jauh lebih berat dari apa yang kau rasakan hari ini.”

 

Dan Nabi menegurnya. Kira-kira, mungkin, bukan itu bentuk mu’aqabah.

Kita bisa menghukum diri kita dengan menambahkan syarat yang lain, atau dengan “memaksa” diri kita untuk berbuat baik yang lainnya: berkhidmat, mengkhatam Al-Qur’an, atau berpuasa, atau apa saja.

Intinya adalah agar syarat yang tidak dapat kita penuhi tidak lewat begitu saja, apalagi bila kemudian diganti dengan syarat yang baru.

Mujahadah adalah mim yang kelima. Inilah proses jihad akbar yang sesungguhnya. Inilah jihad ketika kita berusaha memelihara setiap sifat baik dalam jihad diri kita. Ketika mimmiyat dari musyarathah hingga mu’aqabah senantiasa kita lakukan.Saya menambahkan 2 mim lagi. Karena amatir, maka 2 mim yang saya tambahkan tidak menggunakan wazan mufa’alah, seperti mimmiyat di atas. Mim berikutnya adalah malakah. Terjemahan yang paling tepat untuk malakah mungkin ada dalam bahasa Inggris, yaitu habit. 

 

Malakah adalah sesuatu yang kemudian kita “kuasai” begitu rupa hingga menjadi bagian dari tubuh kita, tak terpisahkan. Seperti sifat pengecut pada orang yang lari terbirit-birit, atau sifat dermawan dari orang yang senang berinfak. Ia sudah menjadi bagian dari diri. Ia dan sifatnya tak lagi dapat dipisahkan. Kesanalah tasawuf membimbing kita, agar setiap sifat Tuhan itu kemudian menjadi malakah kita. Mim yang terakhir adalah maut, kematian. setiap proses dalam mim ini berlanjut hingga kematian menjemput kita.

 

Dalam tasawuf, kematian itu adalah pilihan. Diriwayatkan hadist yang makruf di kalangan tasawuf, mutu qabla an tamutu, matilah kalian sebelum mati. Mulla Shadra membagi dua macam cara kembali: al-ruju’ al-idhtirari dan al-ruju al-ikhtiyari, kembali yang terpaksa dan kembali yang sukarela. Semua kita pasti akan kembali pada Allah Swt. Mau tidak mau, suka tidak suka, suatu saat Malaikat maut akan mengepk-ngepakkan sayapnya di atas ubun-ubun kita.

 

Pada saat itu, siap tidak siap, kita harus meninggalkan seluruh kehidupan ini. Para sufi memilih untuk kembali sebelum waktunya, untuk mudik sebelum masanya. Salah satu cara untuk menjemput kematian adalah dengan membunuh keinginan-keinginan.

Para sufi mempraktekannya dalam riyadhah dengan menahan apa yang memang kita inginkan. Justru ketika kita menginginkan sesuatu, tahanlah keinginan itu. Mereka ambil hadis Nabi sebagai rujukan “Makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.” Sebagai analogi untuk latihan mengendalikan keinginan ini. Inilah jihad terbesar kita.

 

Ala ya ayyuha al-syaqi, adir ka ‘san wa nawilha Keh ‘isyq oson namud awwal, wali uftod-e musykilha Agar az u khohi, ghafil masyu Hafiz, Mata ma talqi man tahwa da’i al-dunya wa hawilha Duhai pencari minuman, letakkan cawanmu dan teguklah.

 

Sungguh cinta itu mudah dipermulaan, tapi kesulitan menerjangnya Kalau Dia yang kuinginkan, janganlah lalai sekejap mata pun. Ketika sampai pada dambamu, tinggalkanlah dunia dan ubahlah ia (Diwan Hafiz, bait awal dan akhir). 

 

Miftah F. Rakhmat, penulis buku Kidung Angklung di Tanah Persia


Thu, 1 May 2014 @15:34

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved