Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Sunnah Menurut Mazhab Syiah (2)

image

Sebagaimana telah disinggung dalam tulisan sebelumnya, bahwa Syiah juga berpedoman dengan hadis Nabi dalam menetapkan hukum agama. Karenanya, pembagian hadis menjadi empat katagori tersebut merupakan sikap ihtiyath (kehati-hatian) mereka dalam menerima sesuatu yang datang dari Rasulullah Saw dan para Imam Ahlulbait sebagai penerus misi langit.

Sikap yang demikian itu bukan berarti Syiah menolak segala riwayat yang tidak melalui jalur mereka. Bahkan, bila memang dalam rangkaian sanad hadis tidak ada orang Syiah yang meriwayatkan hadis tersebut, baik sebagian atau keseluruhannya. Namun perawinya termasuk orang tsiqah (terpercaya dalam meriwayatkan dan tidak pernah dusta) maka Syiah akan menerima riwayat tersebut.

Dalam hal ini, Ash-Shaduq dalam kitabnya, Man Lâ Yahdhuruh al-Faqîh, berkata, “Sesungguhnya apa yang aku sebutkan dalam buku ini ialah apa yang aku fatwakan dan aku yakini kesahihannya. Dan bahwasannya merupakan hujjah antara aku dengan Tuhanku.”

Perlu ditegaskan bahwa riwayat yang terdapat dalam buku tersebut ada yang melalui jalur Imami dan ada pula yang tidak. Ungkapan Ash-Shadûq di atas cukup untuk menangkis serangan yang menuduh Syi’ah menolak riwayat yang datang melalui jalur saudaranya, Ahlussunah.

Meski tidak menolak jalur selain mereka, Syi’ah telah membuat persyaratan yang sedemikian ketat dalam menilai hadis sahih. Sikap seperti itu tidak bisa disalahkan begitu saja karena berangkat dari masa-masa sulit yang mereka lalui di masa dinasti Umayyah maupun dinasti Abbasiyah dan munculnya ribuan hadis palsu yang dinisbatkan kepada Ahlulbait.

Sedangkan penolakan Syi’ah terhadap sebagian riwayat Bukhari yang menurut para penentang Syi’ah sebagai kitab yang paling benar di kolong jagad ini setelah Kitabullah, salah seorang ulama Syi’ah yang diakui kredibilitasnya, Syafr ad-Din al-Mûsawi, mengungkap argumentasinya, “Karena Imam Bukhari menurut Syi’ah tidak memenuhi persyaratan yang telah mereka tetapkan. Imam Bukhari telah banyak menyembunyikan riwayat yang menerangkan keistimewaan Ahlulbait.”

Selain itu, Bukhari lebih banyak meninggalkan riwayat yang berasal dari Imam-imam Ahlulbait. Bukhari lebih mengandalkan Abu Hurairah, Marwan bin Hakam, Amr bin Ash dalam meriwayatkan Hadis Nabi. Padahal kredibilitas periwayatan mereka perlu dipertanyakan.

Perkataan Imam Ahlulbait, menurut Syi’ah, merupakan hujjah mereka. Yang demikian itu karena Rasulullah Saw mewajibkan umat Islam untuk berpedoman dengan ucapan mereka, sebagaimana ditegaskan dalam hadis tsaqalayn.

Mengikuti Ahlulbait, menurut Syi’ah, berarti bukti melaksanakan wasiat Rasulullah Saw. Barang siapa memegang teguh tsaqalayn, berarti telah berpedoman dengan apa yang akan menyelamatkannya dari kesesatan.

Rasulullah Saw mengumpamakan mereka laksana kapal Nabi Nuh, selamat bagi yang menaiki dan tenggelam bagi yang berpaling. Itu semua, menurut Syi’ah, merupakan alasan memegang teguh ucapan Imam Ahlulbait yang telah disucikan.

Adapun penolakan Syiah terhadap riwayat Bukhari, sama sekali tidak mengurangi keislaman mereka. Tidak lantas mengeluarkan mereka dari lingkungan Islam selama Syi’ah masih berpedoman dengan hadis Nabi yang datang melalui jalur sanad selain yang dipakai oleh Bukhari.

Penolakan ini bukan berarti mengingkari hadis Nabi Saw, tetapi hanya menolak rijal (orang-orang) andalan Imam Bukhari. Penolakan seperti ini bukanlah suatu hal yang aneh bagi kalangan ahli hadis.

Berkenaan dengan hal di atas, Imam adz-Dzahabi, salah satu ulama hadis dari kalangan Ahlussunah, berpendapat bahwa “Sesungguhnya dua orang ulama di bidang ini (hadis) tidak pasti sepakat dalam menguatkan yang lemah, ataupun melemahkan yang kuat.”

Dengan demikian, tuduhan yang dialamatkan kepada Syi’ah bahwa mereka mengingkari hadis Nabi Saw dan tidak mengambil riwayat dari kaum Ahlussunah kemudian membuat berbagai isu bohong yang dinisbatkan kepada Syi’ah. Padahal, Syi’ah sama sekali bebas dari tuduhan tersebut. Dengan sendirinya tertolak dan bertentangan dengan kebenaran.

Tentang sikap Syi’ah terhadap sebagian sahabat Nabi Muhammad Saw yang acap kali menjadi mesiu para penyerang Syi’ah, insya Allah akan dibahas.

(SUMBER:  Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum. Penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)

 

Fri, 2 May 2014 @20:29

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved