AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Syiah dan Sahabat Nabi (1)

image

Melihat pentingnya kedudukan para sahabat Nabi Muhammad Saw dalam meriwayatkan hadis, bahwa mereka adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari Sunnah Nabi. Dari mereka kita mengambil ajaran agama kita, dan melalui mereka pula perkataan Rasulullah Saw sampai kepada kita sekarang ini untuk kita jadikan obor penerang dalam mengetahui ajaran agama yang benar.

Oleh karena itu, pembahasan secara khusus tentang sahabat Nabi dirasa perlu. Namun, sebelum mengetahui pendapat Syi’ah tentang mereka yang disebut sahabat, di mana dari titik ini bertolak beragam tuduhan miring terhadap Syi’ah, alangkah bijaksana bila terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud dengan kata shahâbah (sahabat) menurut pengertian ahli hadis.

Imam Bukhari mendefinisikan sahabat dengan, “Orang Islam yang menemani atau melihat Nabi Muhammad Saw.”

Definisi seperti ini tampaknya berasal dari Ali al-Madani yang berpendapat, “Barang Siapa yang menemani Nabi dan melihatnya walaupun hanya sebentar, termasuk sahabat Nabi.”

Definisi di atas berarti mencakup mereka yang murtad di zaman Nabi atau sesudahnya. Juga mencakup mereka yang melihat Nabi sebelum aqil baligh. Tidak diragukan bahwa definisi seperti itu tertolak, baik menurut akal sehat maupun syara. Mengapa? Karena riddah menghapus amal baik, dan tidak mungkin pula menggolongkan kaum murtad ke dalam golongan sahabat.

Sedangkan Said bin Mutsayab berpendapat, “Sesungguhnya sahabat ialah siapa saja yang pernah tinggal bersama Nabi, baik satu atau dua tahun, berperang bersamanya dalam satu atau dua peperangan.”

Definisi ini juga sulit diterima seluruh umat Islam pada umumnya karena akan mengeluarkan banyak orang yang hanya tinggal sebentar saja bersama Rasulullah Saw. Oleh karena itu, Ibnu Hajar menolak definisi Said al-Mutsayab, karena kaum muslimin sepakat untuk menggolongkan siapa saja yang hanya bersama beliau dalam haji Wada’ ke dalam sahabat Nabi.

Meski beragam pendapat seputar definisi sahabat, sesungguhnya gelar tersebut dikhusukan untuk siapa saja yang pernah bertemu dengan Rasulullah Saw dalam keadaan beriman dan meninggal dunia dalam kondisi beriman pula. Apakah dia lama bersama Nabi ataupun tidak, meriwayatkan darinya ataupun tidak.

Menurut kalangan kaum muslimin aliran Ahlussunnah, semua sahabat adalah adil dan seluruh hukum maupun perbuatan yang berasal dari mereka harus dilihat dari kacamata ijtihad. Bila benar mendapatkan dua pahala dan bila salah hanya mendapatkan satu pahala. Pendapat seperti ini menjadi jurang pemisah antara Syi’ah dengan saudarannya, Ahlussunah wal-Jama’ah.

Kalangan Syiah menolak anggapan seluruh sahabat adalah adil. Menurut Syiah, tidak ada ijtihad melainkan dari mereka yang memang benar-benar adil. Menyamaratakan ‘adalah (adil) seluruh sahabat adalah logika ngawur yang sama sekali tidak berdasar.

Oleh karenanya, kaum Syi’ah, menurut Tijani Samawi—tokoh tarekat Tijaniah dari Tunisia—menggolongkan sahabat ke dalam tiga kelompok, bergantung pada keikhlasan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kelompok pertama, adalah mereka yang sungguh-sungguh telah membaiat Allah dan Rasulnya, menemani beliau dengan jujur dalam perkataan dan bersikap penuh ikhlas dalam tindakan. Allah memuji mereka di dalam Al-Quran. Demikian pula Syi’ah menyebut mereka dengan penuh hormat dan takzim, sebagaimana kaum Ahlussunah juga menyebut mereka dengan penuh hormat pula. Bila nama mereka disebut maka diiringi dengan kalimat radhiyallâh ‘anhum.

Kelompok kedua, mereka yang memeluk Islam dan ikut dengan Rasulullah Saw karena ada udang di balik batu atau karena menginginkan sesuatu atau merasa takut dengan sesuatu yang lain. Mereka seringkali meminta jasa atas keislaman mereka. Terkadang mereka mengganggu perasaan Rasulullah Saw dan tidak patuh pada perintah dan larangannya.

Bahkan, seringkali mereka lebih mengutamakan pendapat mereka sendiri di hadapan nash-nash yang sudah jelas. Sehingga, berkenaan dengan mereka Allah menurunkan ayat-ayat yang mencela dan mengecam mereka.

Terhadap kelompok yang ini, Syiah tidak menyebut mereka melainkan sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat. Kepada golongan yang satu ini, Syiah tidak menghormati mereka, apalagi mengkultuskannya.

Kelompok ketiga, kaum munafik yang menemani Rasulullah Saw karena hendak memperdayakan beliau. Secara lahir mereka menampakkan diri sebagai orang Islam. Sementara hati dan pikirannya masih dalam kekafiran. Mereka mendekati Islam agar dapat memperdayakan kaum muslimin. Terhadap golongan ini, baik Syi’ah maupun Ahlussunah sepakat untuk melaknat dan berlepas diri dari mereka.

(SUMBER: Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah karya  Muhammad Babul Ulum. Penerbit Marja, 2008. Buku ini telah disahkan Dirjen Pendidikan Agama Islam sebagai buku bacaan agama Islam)


Sat, 3 May 2014 @13:02

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved