CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Hadza Min Ahlis Sunnah! (3) [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Buku Teladan Suci Keluarga Nabi , terjemahan dari Is’af Al-Raghibin, ditulis oleh seorang ’alim yang bermazhabkan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah.

Dalam buku ini meriwayatkan keutamaan keluarga Rasulullah S.A.W. dari hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Boleh jadi ia, dan juga penulis pengantar ini, akan didiskreditkan sebagai Syi’ah: hanya kerana meriwatkan ahlul-bait . Namun kita yakin, zaman ini adalah zaman ilmu pengetahuan, zaman keterbukaan. Hanya orang-orang yang sempit pikirannya yang akan menyederhanakan persoalan dan prasangka dan fanatisme mazhab.

Kecintaan pada ahlul-bait bukan monopoli Syi’ah. Seluruh kaum Muslimin diperintahkan untuk itu – apa pun mazhabnya.

Seperti diriwayatkan oleh Muslim – dan dituliskannya juga dalam buku ini – keluarga Rasulullah SAW. adalah pusaka yang kedua (setelah Al-Quran) yang ditinggalkan Rasulullah SAW untuk kaum Muslimin.

Rasulullah SAW bersabda: ”Tidak akan bergeser telapak kaki anak Adam pada hari kiamat, sampai ia ditanya tentang empat hal: dari usianya, untuk apa ia habiskan; dari tubuhnya, untuk apa ia rusakkan; dari hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia infaq-kan; dan dari kecintaan kepada kami ahlul-bait.”

(Kanzul_Ummal 7:212); diriwayatkan oleh Al-Tbarani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.

Ibn Khalliqan dalam Wafiyat Al-A’yan bercerita tentang An Nasa’i, penulis Sunan An-Nasa’i. An-Nasa’i tiba di Damaskus. Ia didesak orang untuk meriwayatkan keutamaan Mu’awiyah.

Kata An-Nasa’i, ”Aku tidak menemukan keutamaan Mu’awiyah kecuali sabda Rasul tentang dirinya – Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya.”

Banyak orang marah. Mereka mengeroyoknya, memukulinya sampai babak-belur. Dalam keadaan parah, ia dibawa ke Al-Ramlah dan meninggal dunia di sana.

Ibnu Hajar di dalam Tahdzib al-Tahdzib bercerita tentang Nashr bin Ali. Ia meriwayatkan hadis tentang keutamaan Hasan dan Husein:”Siapakah yang mencintai aku, mencintai keduanya, mencintai keduanya orangtua mereka, ia bersamaku dalam derajat yang sama di hari kiamat.”

Al-Mutawakkil mencambuknya seribu kali. Ja’far bin Abdul-Wahid berulang kali mengingatkan Khalifah: “Hadza min Ahlis Sunnah!” Barulah Khalifah menghentikan hukuman cambuknya.

Hari ini, umat Islam telah demikian maju dan terbuka, sehingga – saya berharap – penulis, pengantar, penerbit, dan pembaca buku Teladan Suci Keluarga Nabi karya Allamah Muhammad bin Ali Syabban (Penerbit Al-Bayan, Mizan) tidak mengalami nasib seperti An-Nasa’i dan Nashr bin Ali.

Sun, 4 May 2014 @07:01

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved