Menyambungkan Silaturahmi [Ahmad Dimyati]

image

Abdullah bin Sinan mendatangi Imam Ja’far ash-Shadiq. “Aku bingung menghadapi teman­ku, ya imam,” ucapnya. “Kenapa?” tanya imam. “Aku sambungkan silaturahmi kepadanya, tetapi ia memutuskan silaturah­mi kepadaku. Kemudian kedua kalinya aku menyambung­kan silaturrahmi kepadanya. Begitu pula ketiga kalinya aku melakukan hal yang sama. Namun, ia memutuskan sila­turahmi denganku. Akhirnya, aku mengambil sikap untuk memutuskan silaturrahmi dengannya. Bagaimana pendapat imam?” kata Abdullah bin Sinan balik tanya.

Imam Ja’far ash-Shadiq menja­wab, “Jika kamu menyambungkan silaturah­mi, tetapi temanmu malah memutuskannya, maka Allah yang akan menyambungkan hubungan antara kamu dan temanmu. Namun, jika kamu mengambil sikap untuk memutuskan silaturahmi, maka Allah akan memutuskan hubungan kamu dan dia.”

Kisah tersebut terjadi beratus-ratus tahun lalu, tetapi kejadian serupa sering terja­di saat ini. Mungkin sering kita merasa kesal bahkan terkadang bersumpah untuk tidak mendatangi teman kita karena tidak menyu­kai sikapnya. Kita sering tidak merasa salah jika tidak melakukan sesuatu, padahal perbuatan tersebut jika dilakukan akan mendatangkan kasih sayang Allah kepada kita.

Begitupula kita sering merasa benar saat memutuskan silaturrahmi dengan orang berbuat salah atau membenci kita. Kita lupa, ketika banyak manusia yang tidak beriman kepada Allah, Dia tetap memberikan rezeki. Begitupula ketika banyak orang membenci dan memusuhi Nabi Muhammad saw, beliau tetap berbuat baik dan bersilaturahmi. Mengapa di antara kita masih tidak mau melakukannya.

Sebenarnya, silaturahmi dapat meman­jangkan maal dan ‘amal. Maksudnya, jika se­la­lu bersilaturahmi, seseorang akan  memi­liki tambahan mal (harta) dan mem­per­banyak amal. Pernyataan tersebut sesuai sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa orang yang memperbanyak silaturrahmi akan mendapatkan rezeki.

Silaturahmi berasal dari kata Arab “Silaturrahiim” yang merupakan gabung­an dari “shilah” (artinya: menyambungkan) dan “rahiim” (artinya: penyayang). Dari tata ben­tukan kata tersebut, silaturahmi mengan­dung pengertian suatu uapaya menyam­bungkan kasih sayang. Dengan demikian ketika kita melakukan silaturahmi dengan seseorang termasuk yang tidak disukai, maka kita menebarkan kasih sayang kepadanya. Begitupula kita murnikan niat bersilaturahmi kita bukan untuk mendapat­kan sesuatu yang sifatnya materi, tetapi mengharap kasih sayang Allah.

Islam adalah agama “rahmatan lil ‘aalamiin” yang artinya rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam. Maksudnya, agama Islam merupakan “software” bagi kehidupan seluruh alam dan akan menjadi rahmat jika diterapkan. Namun, “rahmatan lil ‘aalamiin”-nya Islam tidak akan dirasakan jika umatnya tidak menebarkan kasih sayang. Dan di antara alat untuk menebar­kan kasih sayang adalah silaturahmi.

Jika tujuan silaturahmi adalah mene­bar­kan kasih sayang, maka wajar jika harus dilakukan walaupun kepada orang yang kita benci atau orang yang membenci kita. Mungkin dengan silaturahmi yang kita lakukan, seseorang yang membenci kita akan luluh hatinya.

Begitu pula bila kita selalu mengunjungi orang dibenci, akan muncul kasih sayang dalam diri kita terha­dap­nya. Jika dengan silaturahmi “rahmatan lil ‘aalamiin”-nya Islam dapat tersebar, apa salah bila kita bersilaturahmi terhadap penganut non-Islam? Siapa tahu Allah akan menumbuhkan hidayah kepada orang-orang yang membenci Islam. Begitulah yang terjadi ketika Allah menurunkan hidayah kepada penduduk Tha’if yang telah melem­pari Nabi Muhammad saw, saat berdakwah.

Untuk menumbuhkan jiwa kasih sa­yang dan ruh bersilaturahmi dalam diri, kita harus beriman, berilmu, dan beramal. Ukur­an iman, ilmu, dan amal setiap orang tidak akan sama. Kewajiban bersilaturahmi tidak hanya ditunjukkan kepada orang yang tinggi kualitas iman, ilmu, dan amalnya, tetapi kepada semua, termasuk kita.

Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita terlalu mengandalkan orang datang kepada kita, tetapi mari kita datangi orang lain terlebih dahulu. Jika ada orang yang tidak mau menyambungkan silaturahmi, kita harus  tetap melakukannya agar Allah mempererat hubungan kita. Allah-lah yang Maha Penga­sih dan Penyayang dan Dia yang Maha menyam­­bung­kan kasih sayang. Tidak akan ada orang yang sanggup menghalangi jika Allah berkehendak dua orang berkasih sayang. Begitupula tidak ada yang dapat menolak ketika Allah berkehendak memisahkan seseorang dengan lainnya.

AHMAD DIMYATI adalah aktivis IJABI. Beliau wafat pada 17 April 2014 dan dikebumikan di Pemakaman Umum Ciburuy, Jalan Mohammad Toha Bandung. Mohon doa untuk beliau: al-fatihah maash-shalawat. 

 

Tue, 29 Jul 2014 @07:53

AUDIO MISYKAT

BAHAN BACAAN
FACEBOOK MISYKAT
BERBAGI BUKU

 Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved