Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Sejarah Islam: Perang Jamal (2)

image

Sesampai mereka di dekat Bashrah, mereka menulis surat kepada pemimpin Bashrah agar bersedia bergabung dengan mereka untuk melawan Ali bin Abi Thalib as. Namun pembesar-pembesar Bashrah menjawab: “Mereka yang membunuh Utsman bin Affan ada di Madinah. Lalu untuk apa kalian datang ke sini?”

Orang-orang Aisyah tidak mempedulikan jawaban itu, akhirnya mereka menyerang Bashrah. Setelah terjadi pertumpahan di Bashrah, akhirnya Utsman bin Hanif, orang yang ditunjuk Imam Ali as untuk menjadi pemimpin di Bashrah, terpaksa berserah diri lalu kota Bashrah pun jatuh ke tangan mereka.

Di masa-masa itu, Imam Ali bin Abi Thalib as sibuk melucuti jabatan-jabatan para pejabat khekhalifahan sebelumnya. Misalnya, beliau memerintahkan Jarir bin Abdullah untuk membawa surat darinya kepada Muawiyah yang berisi permintaan beliau kepadanya untuk berbaiat. Namun bukannya Muawiyah membalas surat itu, ia menulis surat kepada Zubair yang berisi provokasi untuk menentang Ali bin Abi Thalib as.

Imam pun menulis surat kepada Zubair dan berkata: “Sesampainya surat ini ke tanganmu, saat itu juga temui Muawiyah dan desaklah dia untuk memberi keputusan yang jelas. Buat dia memilih antara berdamai atau berperang. Jika ia menyerah, mintalah baiatnya dan jika ia memilih berperang, segera beritahu kami.”

Muawiyah tidak bersedia membaiat Ali bin Abi Thalib as. Di antara penentang-penentangnya, Imam Ali as melihat Muawiyah adalah yang paling licik. Ia menyiapkan pasukan memutuskan untuk menyerang Syam. Namun tiba-tiba ia mendengar bahwa Aisyah, Thalhah dan Zubair menguasai Bashrah dan berencana memberontak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib serta memprovokasi masyarakat untuk memberontak dengan dalih menuntut darah Utsman yang tertumpah. Imam Ali as menunda rencananya untuk menyerbu Syam dan memiliih untuk menyelesaikan urusannya dengan pemberontak di Bashrah baru setelah itu menangani perkara Syam.

Imam Ali as menaiki mimbar di masjid dan berceramah: “Wahai orang-orang sekalian, Aisyah bersama Thalhah dan Zubair telah pergi Kufah. Adapun Thalhah dan Zubair, keduanya sama-sama saling menginginkan kekuasaan ada di tangan mereka. Thalhah, ia adalah sepupu Aisyah dan Zubair adalah [5]suami dari saudarinya.

Demi Tuhan jika mereka meraih apa yang mereka inginkan, dan padahal mereka tidak bakal meraihnya, maka mereka akan saling membunuh satu sama lain. Adapaun wanita itu, yang menaiki unta merah (Aisyah), tidak ada yang ia lakukan selain bermaksiat kepada Allah dan mencelakakan dirinya sendiri bersama kawan-kawannya.

Demi Tuhan, sepertiga dari mereka akan terbunuh, sepertiganya akan lari berkaburan dan sepertiga yang lain akan kembali dari perbuatan mereka. Dan wanita itu, adalah wanita yang anjing-anjing Hau’ab menggonggong di sekitarnya (mengisyarahkan perkataan nabi), dan Thalhah serta Zubair keduanya tahu jalan yang mereka tempuh adalah salah; namun betapa banyak orang yang memiliki pengetahuan namun kebodohannya membunuhnya. Cukup bagi kita Tuhan dan Ia-lah sebaik-baiknya wakil.”

Namun tidak mudah bagi Imam Ali as dalam mengerahkan pasukan untuk melawan pasukan Jamal yang dipimpin oleh Aisyah istri nabi Muhammad saw dan putri khalifah Abu Bakar, begitu juga Thalhah dan Zubair yang keduanya dikenal sebagai sahabat besar. Oleh karenanya Imam Ali as berusaha mengumumkan kepada masyarakat Madinah akan kesalahan kelompok Aisyah yang telah mereka lakukan di Bashrah agar mereka menyadari apa yang terjadi sebenarnya.

Dengan kata-katanya yang lantang, Imam Ali as menjelaskan pengkhianatan ashabul jamal (pasukan Jamal) terhadap Imam setelah bai’at yang telah mereka berikan. Dengan demikian Imam berhasil mendorong masyarakat Madinah untuk bangkit melawan para pemberontak.

Imam Ali as menugaskan Sahl bin Hanif di Madinah sebagai penggantinya sementara. Beliau mengumpulkan para Muhajirin dan Anshar yang kebanyakan adalah pahlawan perang Badar untuk bergerak menuju Bashrah. Imam Ali as juga mengutus Imam Hasan as, Malik Asytar, Muhammad bin Hanafiah dan beberapa orang lainnya ke Kufah agar menyiapkan pasukan dari kota itu untuk dikerahkan dan bergabung bersama.

Saat itu, pemimpin di Kufah adalah Abu Musa Asy’ari, seseorang yang dilantik oleh Utsman untuk menjabat sebagai pemimpin di Kufah. Dalam surat yang ditulis oleh Imam Ali as kepada Abu Musa Asy’ari, beliau memintanya untuk mengumpulkan bai’at masyarakat Kufah terhadap Imam Ali as. Namun ia merasa kedudukannya terancam jika masyarakat Kufah membai’at Imam Ali as; karena ia pikir jika ia membantu kelompok Aisyah, Thalhah dan Zubair, kedudukannya bakal tidak terganggu, maka dia menolak permintaan Imam Ali bin Abi Thalib as; justru ia mengerahkan masyarakat Kufah untuk membantu pasukan Jamal yang berpura-pura berselogan menuntut darah Utsman yang tertumpah.

Seperti apapun utusan-utusan Imam Ali as mendesak Abu Musa Asy’ari, namun usaha itu tak memberi hasil. Akhirnya Malik Asytar menduduki Darul Imarah dan mengusir budak-budak Abu Musa Asy’ari hingga berkaburan.

Saat itu Abu Musa Asy’ari sedang berada di masjid; maka Malik Asytar datang ke masjid dan menariknya turun dari mimbar. Malik Asytar berteriak di hadapannya: “Dasar pengkhianat dan bodoh! Semua orang tidak membai’at siapapun selain Ali bin Abi Thalib as!” Ketika Abu Musa merasa dirinya lemah, dia memilih untuk hanya diam. Kemudian Malik Asytar menaiki mimbar dan berceramah kepada masyarakat Kufah. Akhirnya utusan-utusan Imam Ali as berhasil mengumpulkan bai’at dari masyarakat Kufah dan mengerahkan 12,000 pasukan untuk bergabung bersama pasukan Imam Ali as dalam waktu yang singkat.

Di suatu tempat yang bernama Dzi Qar pasukan-pasukan Kufah bergabung dengan pasukan Imam Ali as lainnya, dan Imam Ali as pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada semua orang.[6]

Dari Dzi Qar Imam Ali as bersama seluruh pasukannya meneruskan perjalanan menuju Bashrah. Sesampai mereka di tempat yang bernama Zawiyah, karena Imam Ali as lebih mencintai perdamaian daripada peperangan, Imam Ali as menulis surat tawaran berdamai kepada pasukan Aisyah. Selain mengirimkan surat tertulis itu, beliau juga mengutus beberapa orang seperti Qa’qa’ bin ‘Amr untuk berunding dengan pasukan Jamal di Bashrah. Utusan-utusan Imam Ali as memberikan nasehat-nasehat dan tawaran untuk berdamai, serta mengingatkan mereka agar mengurungkan niatnya untuk berperang karena akibat yang bakal mereka rasakan karena kesalahan itu bakal buruk sekali. Tapi karena para penentang Imam Ali as yang berjumlah 30,000 pasukan mengira mereka bakal memenangkan peperangan, maka mereka sama sekali tidak menghiraukan tawaran tersebut.

Apalagi saat itu Aisyah tahunya hanya Abu Musa Asy’ari tidak mematuhi Imam Ali as, yang dengan demikian Aisyah mengira pasukan-pasukan dari Kufah bakal membantunya untuk melawan pasukan Imam Ali as. Tawaran ditolak begitu saja, pasukan-pasukan Jamal pun telah siap untuk berperang.

Qa’qa’ yang melihat kata-katanya tidak didengar, dan apa lagi melihata pasukan Aisyah telah semakin siap, ia pun kembali dan menginformasikan keadaan yang ada kepada Imam Ali as.

Di sela-sela kesempatan yang ada, sekitar 3000 pasukan datang dari Bashrah dan menyatakan keinginan mereka untuk bergabung bersama pasukan Imam Ali as. Kurang lebih kini total pasukan Imam Ali as berjumlah dua puluh ribu pasukan. Karena Imam Ali as menyadari tekat Aisyah dan kawan-kawannya untuk benar-benar berperang, beliau pun mengumpulkan panglima-panglima perangnya yang di antaranya adalah Malik Asytar, Udai bin Hatim, Muhammad bin Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan juga beberapa orang lainnya untuk menyusun taktik peperangan.

Aisyah mengerahkan pasukannya dan bergerak ke arah Zawiyah, suatu tempat yang strategis untuk mengerahkan pasukan demi melindungi Bashrah, lalu sesampainya di sana mereka berhenti untuk berhadapan dengan pasukan Imam Ali as. Berdasarkan sebagian riwayat, perang tersebut terjadi pada tanggal 17 Jumadil Tsani tahun 36 H. Menurut penulis Nasikh Tawarikh perang Jamal terjadi pada tanggal 19 Jumadil Ula tahun 36 H.[7]

 

Hari berikut satelah mereka berhadapan, sebelum perang benar-benar meletus, Zubair mengerahkan beberapa kelompok dari pasukannya maju ke arah pasukan Imam Ali as. Melihat tekad perang itu, Imam Ali as memerintahkan pasukannya untuk mundur barangkali masih bisa diusahakan untuk berdamai. Aisyah pun akhirnya memerintahkan mereka semua untuk mundur kembali. Dengan demikian di hari pertama peperangan itu peperangan yang sebenarnya belum dimulai.

Fri, 9 May 2014 @08:49

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved