Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Sejarah Islam: Perang Jamal (3)

image

Keesokan harinya Imam Ali as memisahkan dirinya dari pasukannya. Beliau melepas baju besi dan meninggalkan senjatanya lalu dengan cepat mendatangi pasukan Jamal hingga akhirnya beliau berada tepat di hadapan mereka. Dengan suara yang kencang ia memanggil Zubair. Semua orang menjadi kebingungan dan takjub, apa yang sedang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib as mendatangi pasukan Jamal tanpa baju perang dan senjata?

Zubair mendatangi Imam Ali as. Keduanya saling menatap. Imam Ali as berkata: “Apa-apaan ini? Apa yang sedang kalian lakukan?”

Dia menjawab: “Kami ingin membalas dendam terbunuhnya Utsman.”

Imam Ali as bertanya: “Jika benar apa yang kalian katakan, maka serahkan tangan-tangan kalian dalam keadaan terikat. Bukankah kalian sendiri yang memprovokasi pembunuhan Utsman?”

Zubair hanya diam. Imam Ali as berkata: “Aku datang untuk menyadarkan kalian. Aku mengingatkan beberapa perkataan nabi kepadamu yang telah kau lupakan. Ingatkah kau saat itu aku sedang mencari Rasulullah saw; saat itu beliau berada di rumah ‘Amr bin ‘Auf. Engkau ada di situ dan Rasulullah saw sedang berjabat tangan denganmu.

Lalu begitu aku masuk Rasulullah saw mengucapkan salam kepadaku. Engku pun berkata: ‘Wahai Ali, mengapa kau sombong? Kenapa engkau tak mengucapkan salam kepada nabi lebih dahulu?’ Lalu Rasulullah saw berkata: ‘Hai Zubair, dia tidak sombong. Suatu hari nanti engkau wahai Zubair akan berperang melawannya, dan perang itu adalah perang yang zalim.’”

Imam Ali as melanjutkan: “Apakah kau tidak ingat perkataan nabi saat bertanya kepadamu: ‘Wahai Zubair, apakah engkau mencintai Ali?’ kau menjawab: ‘Ya wahai Rasulullah…’ lalu nabi berkata: ‘Meski demikian engkau tetap akan memeranginya di suatu hari dan memusuhinya.’”

Dengan mendengar kata-kata itu, Zubair sedikit luluh dan menyesal mengapa perkara sampai seperti itu jadinya.[8]

Zubair meminta maaf kepada Imam Ali as dan berkata: “Aku berjanji sekarang juga aku akan keluar dari pasukan Bashrah dan tidak ingin ikut campur lagi dalam urusan ini.”

Imam Ali as pun kembali ke pasukannya. Zubair dengan bimbang dan hati yang berkecamuk kembali ke sisi Aisyah.

Aisyah bertanya: “Ada perlu apa Ali bin Abi Thalib as denganmu?” Zubair menceritakan apa sebenarnya. Aisyah pun mengucapkan kata-katanya agar Zubair tetap bertekat dengan tekatnya sebelumnya. Anaknya, Abdullah bin Zubair, juga mendukung Aisyah dan mendesak ayahnya agar tak berubah pikiran. Zubair berkata kepada anaknya: “Aku sudah berjanji kepada Ali bin Abi Thalib as.” Abdullah berkata: “Engkau bisa meninggalkan janji itu dan membayar kafarah dengan membebaskan budakmu.”

Zubair pun membebaskan satu budaknya, lalu dia bergegas ke pasukan Imam Ali as dengan senjatanya. Zubair bertarung dengan beberapa pasukan Imam Ali as namun tanpa meninggalkan luka sedikitpun baik pada Zubair sendiri ataupun pasukan Imam Ali as, Imam Ali berkata: “Tinggalkanlah Zubair. Dia tidak berperang.” Akhirnya Zubair kembali ke pasukan Aisyah. Sesampai di hadapan Aisyah, juga anaknya, Zubair berkata: “Kau lihat aku tidak takut melawan Ali as?” Abdullah mentertawakan ayahnya…

Zubair pergi meninggalkan pasukan Aisyah menuju suatu tempat yang bernama Wadi Siya’. Di situ ia menjadi tamu seseorang bernama ‘Amr bin Jurmuz. Saat Zubair tidur di rumahnya, ‘Amr mengeluarkan pedangnya dan memenggal kepa Zubair. Badannya ia kuburkan dan kepalanya dia bawa kepada Imam Ali as. Imam Ali as bertanya: “Mengapa engkau membunuhnya? Padahal dia tamumu. Aku mendengar Rasulullah saw berkata bahwa laknat Allah atas orang yang membunuh Zubair dan beliau pun melaknatnya.”

‘Amr pun kebingungan dan berkata: “Aku tidak tau harus bagaimana dengan Bani Hasyim. Orang yang memerangi kalian, kalian laknat; orang yang membunuh musuh kalian juga kalian laknat?”[9]

 

Catatan Akhir 

[1] Itsbatul Washiyah, Mas’udi.

[2] Na’tsal adalah orang Yahudi tua di Madinah dengan jenggot panjang dan berkaki pincang. Dalam kata-katanya di atas Aisyah menyebut Utsman sebagai Na’tsal dan memprovkasi orang-orang untuk membunuhnya.

[3] Sebab pertentangan Aisyah terhadap Utsman dan juga terhadap Imam Ali as, mulanya karena di jaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, Aisyah dan Hafshah selalu mendapatkan pembagian Baitul Mal yang sangat banyak, namun ketika Utsman menjadi khalifah, aluran dana dan harta Baitul Mal berbelok ke keluarganya sendiri (keluarga Utsman bin Affan). Dengan demikian Aisyah dan Hafshah tidak lagi mendapatkan jatah yang banyak sebagaimana biasanya. Maka dari itu Aisyah menentangnya dan memprovokasi masyarakat untuk membunuhnya.

Adapun pertentangannya terhadap Imam Ali as, ada beberapa sebab: misalnya, di saat ayahnya, Abu Bakar, menjadi khalifah, Ali bin Abu Thalib as dia anggap sebagai saingan utamanya. Ia tidak ingin Ali bin Abi Thalib as menduduki jabatan ayahnya (menjadi khailfah seperti Abu Bakar) atau bahkan lebih tinggi darinya. Di sisi lain, Aisyah adalah istri nabi selain Khadijah, yang mana Rasulullah saw sangat mencintai Khadijah. Aisyah selalu ingin menjadi yang paling tinggi dari istri-istri nabi, namun ia merasa cemburu akan kasih sayang dan kecintaan Rasulullah saw kepada Khadijah juga putrinya, Fathimah Azzahra as, yang menjadi kenangan dari Khadijah, yang mana Rasulullah saw sangat mencintainya; adapun Ali bin Abi Thalib as beserta segala kriteria yang dimilikinya, adalah suami Fathimah Azzahra as, yang mana hal itu berat bagi Aisyah.

Sebab lain dari pertentangan Aisyah terhadap Ali bin Abi Thalib as, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Aisyah menentang Utsman karena ia tidak lagi bisa mendapat pembagian harta yang menguntungkan dari Baitul Mal dengan jumlah yang banyak, lalu kini dengan menjabatnya Ali bin Abi Thalib as sebagai khalifah setelah Utsman, Aisyah melihat masalah yang dihadapinya semakin parah; karena Ali bin Abi Thalib as berlaku adil dalam membagi harta Baitul Mal yang sampai-sampai anaknya saja tidak ia beri keistimewaan dari Baitul Mal apalagi Aisyah?! Begitu pula, yang menjadi motivasi Aisyah melawan Imam Ali as, ia ingin kekhalifahan ada di tangan kabilahnya. Dengan terakumulasinya faktor-faktor itu, Aisyah tidak memiliki jalan lain selain memerangi Ali bin Abi Thalib as.

[4] Dikarenakan Aisyah menaiki unta, perang itu disebut perang Jamal (jamal berarti unta). Juga karena perang itu terjadi di Bashrah, maka juga dikenal dengan perang Bashrah.

[5] Nasikh Tawarikh – Ahwalat Amirul Mu’minin, kitab Jamal, hal. 41.

[6] Al-Irsyad, jil. 1, pasal. 21.

[7] Nasikh Ahwalat Amirul Mu’minin, kitab Jamal, hal. 70.

[8] Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jil. 1, hal. 202.

[9] Muntakhab Tawarikh, jil. 1, hal. 178.

 Sumber: Hauzah Maya

Fri, 9 May 2014 @08:52

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved