AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Ada Syiah di Tengah Suni [Enton Supriyatna Sind]

image

NU adalah Syiah minus imamah. Syiah adalah NU plus imamah (KH Abdurrahman Wahid)

KETIKA Gus Dur mengungkapkan kalimat di atas di berbagai tempat, tentu berkaitan dengan upaya mereduksi isu-isu sensitif yang kerap jadi pemicu konflik Suni-Syiah di Indonesia. Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu berusaha menyederhanakan persoalan. Seolah ingin mengatakan, NU yang berbasis pada mazhab Syafi’i memiliki banyak kesamaan dengan Mazhab Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam atau Syiah Imamiyah) dalam tradisi keberagamaannya.

Perbedaannya hanya terletak pada konsep imamah (kepemimpinan) di tengah umat. Kalangan Ahlusunnah Waljamaah (Suni) –termasuk di dalamnya Mazhab Syafi’i- berpandangan pemegang tampuk kepemimpinan umat selepas Rasulullah SAW wafat, merupakan urusan kaum Muslimin yang ditentukan lewat musyawarah. Dengan demikian, urutan Khulafaurrasyidin yang terdiri dari Abu Bakar bin Abi Khuhafah, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib sudah on the track. Tidak ada persoalan.

Sebaliknya bagi kalangan Syiah –sering juga disebut Mazhab Ahlul Bait, pengikut Imam Ali bin Abi Thalib- urusan kepemimpinan umat bukan urusan enteng yang bisa diserahkan begitu saja kepada umat. Imamah merupakan urusan penting yang ikut menentukan tegaknya agama. Mereka meyakini, Allah dan Rasul-Nya sudah menentukan siapa saja yang berhak memimpin umat selepas berakhirnya kenabian. Klaim tersebut didukung keterangan (nash) dari kitab suci dan hadits Nabi. Termasuk nama-nama duabelas imam secara rinci, mulai dari Imam Ali hingga Imam Mahdi.

Kelompok  Syiah semakin terpolarisasi dengan meletusnya Perang Shiffin pada tahun 37 Hijriyah (657 M),  antara pihak Imam Ali dan pihak Muawiyah. Apa yang dilakukan Muawiyah bin Abi Sufyan, adalah pemberontakan pertama kali dalam sejarah Islam terhadap pemerintahan yang sah. Sebab saat itu Imam Ali berstatus sebagai khalifah. Sebelumnya, terjadi Perang Jamal (Unta) yang melibatkan kubu Imam Ali melawan kubu Aisyah (istri Nabi).

Namun kasus tersebut, pada umumnya dipahami sebagai perebutan kekuasaan semata. Ada juga yang menyatakan, peperangan yang menelan korban puluhan ribu orang itu sebagai hasil ijtihad para pejuang Islam di masing-masing kubu, dalam upaya menegakkan agama Allah. Ada kelompok tertentu yang “mengharamkan” pembicaraan  kritis atas perseteruan diantara para sahabat Nabi ini.

Syahrastani menyebut peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai luka sejarah. Tetapi nahasnya, luka itu seringkali susah disembuhkan. Lalu kita menemukan sebuah luka menganga di Sampang Madura. Berkali-kali kelompok Syiah diserang dan sejumlah orang meninggal dunia, harta benda mereka musnah. Pemimpinnya dicap sesat dan dibui dengan dakwaan penistaan agama.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sendiri belum pernah mengeluarkan fatwa sesat terhadap kelompok ini. Paling banter hanya mewanti-wanti agar waspada. Lalu, bagaimana mungkin Sampang yang kental dengan ke-NU-annya bisa begitu hebat bergolak menentang Syiah habis-habisan. Padahal selain Gus Dur, Ketua PBNU KH. Said Agil Siradj berulang kali menegaskan, NU tidak pernah menyatakan Syiah sebagai ajaran sesat. 

Tradisi Syiah

Meskipun belakangan ini aliran Syiah kembali menjadi sorotan dan dianggap sebagai mazhab yang aneh dan menyempal di Indonesia, disadari atau tidak tradisinya telah menjadi bagian dari sejarah Nusantara selama berabad-abad. Secara kultural, Syiah telah memberi kontribusi bagi perkembangan budaya masyarakat Indonesia dan sekitarnya.   

Suatu ketika di kampung saya ada seorang nenek renta yang tengah sakit. Dalam kondisi berbaring dia melantunkan doa yang panjang dan rasanya asing di telinga. Diketahui kemudian rangkaian lafaz itu adalah Doa Kumayl. Nama doa tersebut diambil dari nama Kumayl bin Ziad, salah seorang sahabat Imam Ali. Doa ini sangat populer di kalangan Syiah. Saya tahu nenek tadi bukanlah penganut Syiah, dia pengamal ibadah khas NU seperti umumnya orang-orang di kampung saya. 

Senafas dengan hafalan doa tersebut, ialah tradisi membuat bubur beureum  (bubur merah) pada setiap tanggal 10 Muharam. Masyarakat lebih mengenalnya dengan istilah bubur suro. Warga Rancakalong Kab. Sumedang, misalnya, hingga kini masih memelihara tradisi pembuatan bubur seperti itu dengan upacara tertentu. Tanggal 10 Muharam adalah hari syahidnya Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib di Karbala, Irak, yang dibantai beserta anggota keluarganya atas perintah Yazid bin Muawaiyah penguasa Bani Umayah. Dalam kepercayaan Syiah, Imam Husein adalah imam ketiga dari 12 imam mereka.

Di Sumatera Barat, syahidnya Imam Husein diperingati melalui upacara tabuik. Upacara yang kini sudah menjadi even pariwisata itu diisi dengan arak-arakan warga yang membawa tiruan peti mati sebagai simbol jenazah Imam Husein. Meskipun sekarang, ruh dari upacara itu mungkin sudah hilang dan yang tersisa hanya tinggal kemeriahan pesta. Di Bengkulu upacara serupa dinamakan tabot.  

Berbicara tentang Syiah, tidak bisa dipisahkan dengan eksistensi Iran atau Persia sebagai pusat perkembangan mazhab tersebut. Pengaruh dominan dalam khazanah bahasa di Nusantara yang berkaitan dengan Islamisasi, adalah sisem pengajaran membaca Alquran. Siapa saja yang pernah belajar mengaji pada masa dulu, pasti mengenal istilah untuk vokal dalam bahasa Arab. Misalnya istilah jabar untuk fatkhah, jeer untuk kasroh, dan pees untuk dlomma. Atau juga abdas untuk menyebut wudlu. Istilah-istilah tersebut berasal dari khazanah bahasa Persia.

Karena begitu rekatnya istilah-istilah tersebut dengan proses Islamisasi di Nusantara, maka sebagian pihak berpendapat mazhab Syiah sudah masuk pada periode awal Islamisasi. Para pendakwahnya adalah mereka yang juga pelarian dari wilayah yang dikuasasi Bani Umayah dan Bani Abasiyah. Kedua dinasti ini memang memandang para penganut Mazhab Ahlul Bait  sebagai ancaman bagi kelanggengan kekuasaan mereka. 

Sunan Gunungjati

Pada periode Wali Songo pun, keberadaan Syiah tidak bisa dinafikan. Dedi Ismatullah menulis artikel Akar Konflik Suni-Syiah (Pikiran Rakyatbahwa secara terus terang menyebut Syekh Siti Jenar sebagai wali yang menganut aliran Syiah. Tokoh legendaris ini diadili para wali lainnya karena tidak sepaham. Dalam istilah lainnya, peristiwa tersebut merupakan puncak perebutan pengaruh antara ulama istana (Wali Songo-Kerajaan Islam Demak) dengan ulama jelata (Siti Jenar).

Namun ada satu hal yang menarik. Meskipun Sunan Gunungjati (Syarif Hidayatullah) berada di pihak Wali Songo, namun ternyata pengaruh Syiah tidak bisa dihindarkan di lingkungan  kesultanannya. Keraton Cirebon yang dipimpin Syarif Hidayatullah memiliki bendera kebesaran bernama bendera Macan Ali. Bendera itu berwarna hitam dengan segi lima memanjang.  

Pada bendera tersebut terdapat simbol-simbol Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Juga pedang zulfikar milik Imam Ali. Semua itu lambang-lambang khas bagi kalangan pecinta Ahlul Bait. Dalam tradisi Syiah kelimanya adalah manusia-manusia suci dan memiliki kedudukan tersendiri. Konon, dalam setiap ekspedisi dakwah ataupun peperangan, Sunan Gunungjati selalu membawa serta bendera ini.

Cendekiawan Aboebakar Atjeh telah mengabarkan pengaruh Syiah di Indonesia lewat bukunya “Aliran Syiah di Nusantara” (1977).  Dia menulis antara lain, masuknya Islam ke wilayah Nusantara sama waktunya dengan kedatangan Syiah ke tempat ini. Sekali-kali bukanlah golongan Salaf yang pertama masuk ke Indonesia menyiarkan Islam.  Boleh jadi juga golongan Salaf tetapi Salaf Syiah.

Ketika masuk Nusantara, mereka dikenal sebagai golongan Syarif dan Sayid. Keturunan Imam Hasan sehari-hari dinamakan Syarif dan keturunan Imam Husein dipanggil Sayid. Sementara kaum perempuannya masing-masing dinamakan Syarifah dan Sayidah. Diantara mereka banyak yang kemudian menjadi raja-raja di Nusantara mulai dari Aceh, Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Sebagian di antaranya menjadi tokoh penting penyebar Islam yang sering disebut wali.

Enton Supriyatna Sind adalah seorang wartawan

 

 

Sat, 15 Aug 2015 @07:27

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved