BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Dua Langkah Imam Ali (1) [Miftah Fauzi Rakhmat]

image

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma Shalli’ala Muhammad wa Ali Muhammad

Biarlah, dua langkah lagi wahai dunia...
Beri kesempatan ia dua langkah lagi. Biar kami memandang jejaknya lebih lama...
 

Sepasang suami istri teramat setia, menapaki tanah berdebu Arabia. Tapi tanah itu bukan tanah sembarang tanah, ia tanah yang sangat keras kulitnya, amat padat isinya. Di atas tanah itu ribuan hamba Allah berzikir memujaNya. Mereka berputar mengelilingi bangunan hitam di tengahnya. Inilah tempat yang tidak pernah berhenti dari ingatan pada Allah. Tiada seorang nabi pun diutus, melainkan ia pernah tawaf di sekitarnya. 

Itulah lembah Makkah yang penuh berkah. Tempat bagi rumah Tuhan, Ka’bah Baitullah. Kini sepasang suami istri teramat setia itu, tertatih-tatih menyusurinya. Adalah Abu Thalib sang suami, pemegang kunci pintu rumah Tuhan, memapah sang istri, Fathimah binti Asad dengan jabang bayi yang dikandungnya, kini menempuh sembilan bulan di rahimnya.

Biarlah dua langkah lagi wahai dunia, berikan langkah pada kaki-kaki yang perkasa itu. Setelah tawaf mengelilingi rumah Tuhan, mereka berdua beristirahat.

Esok harinya, dengarkan riwayat dari Yazid bin Qan’ab: Aku tengah duduk bersama Abbas bin Abdil Muthallib dan sekelompok orang dari  Bani Abdil ‘Uzza di samping Baitullah. Kemudian aku lihat Fathimah binti Asad datang. Ia melangkah menuju Baitullah, menghempaskan diri kepadanya seraya menyeru: “Duhai Tuhanku, aku beriman kepadaMu dan kepada apa yang diturunkan dari sisiMu. Percaya pada rasul dan kitabMu. Dan aku membenarkan ucapan datukku Ibrahim kekasihMu, bahwa dialah yang membangun rumah tua yang kokoh ini. Maka demi hak dia yang mendirikannya, dan demi hak dia yang ada dalam perutku. Mudahkan bagiku kelahirannya...”

Menurut Yazid bin Qan’ab: Tiba-tiba aku mendengar gemuruh, dan Baitullah telah terbuka dari arah belakang. Fathimah binti Asad memasukinya. Ia hilang dari pandangan kami, dan Baitullah kembali pada keadaannya semula, tertutup rapi dari sedia kala. Kami bergegas menuju pintu Ka’bah, berusaha membukanya. Tapi pintu itu tak bergeming. Kunci tak bergerak sedikitpun. Yakinlah kami bahwa ini ketentuan Tuhan. Berlalu tiga hari setelah itu, dan pada hari yang keempat Fathimah keluar dengan bayi merah di tangannya.[1]

Waktu itu, 13 Rajab, 30 tahun setelah peristiwa yang menggemparkan tahun gajah. Kabar bahagia segera disampaikan pada ayahnya. Rona sukacita terpancar jelas di mukanya. “Beri dia nama, abah...” ujar sang Ibu. Abu Thalib sang ayah berkata: “Kita tidak akan melakukan apa-apa, sebelum Muhammad putra Abdullah datang melihatnya...”

Duapuluh empat tahun sudah, Muhammad anak yatim Abdullah itu tinggal bersama Abu Thalib dan Fathimah binti Asad. Bagi sang nabi terakhir ini, merekalah orangtua yang membesarkan dan melindunginya. Abu Thalib dan Fathimah binti Asad tahu bagaimana Muhammad. Yang paling terpuji, yang paling berilmu, yang paling santun dan luhur akhlaknya. Adalah kemuliaan, menghadirkan jabang bayi itu untuk dipertemukan dengannya.

Maka Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pun datang memangkunya. Kain pembungkus itu pelan-pelan disingkapkannya. Dan bayi molek memandangnya bahagia. Seakan-akan binar matanya sudah berteriak: “Assalamu’alaika yabna ‘ammi, asyhadu an laa ilaaha ilallah wa asyhadu annaka rasulullah.”

Muhammad bin Abdillah memeluknya, mendekap erat bayi itu. Menjulurkan lidahnya yang suci, dan bayi itu dengan segera mengulumnya. Jauh sebelum seluruh kenikmatan duniawi, bayi itu telah mengecup kenikmatan surgawi. Air liur Nabi kini menjadi air liurnya. Bagian dari tubuhnya. Tak pernah terpisah, tak pernah habis.

Berdetak di setiap pembuluh darahnya, mengalir di setiap urat dan nadinya. Kelak, ia berkata: “Wulidtu ‘ala al-fithrah, wa sabaqtu ila al-imani wal hijrah.” Aku dilahirkan dalam kesucian (dalam fitrah ketauhidan), dan aku mendahului siapapun dalam hijrah dan keimanan.” Kemudian Muhammad bin Abdillah shallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bergerak melangkah di sekitar rumah Tuhan... melangkahlah wahai kekasih Allah, biarlah dua langkah lagi, biar kami memandang jejakmu lebih lama.

Muhammad menamainya Ali.Ialah yang membesarkan dan mendidiknya. Dengan kasih sayang Abu Thalib dan Fathimah yang telah merawatnya, Muhammad tahu kini gilirannya untuk membalas kebaikan orangtua asuhnya. Ketika usaha Abu Thalib sedang menurun, Muhammad mengambil Ali dalam asuhannya: mendidik, membesarkan, merawat dan mengasihinya.

Belia Ali mengikuti Muhammad di setiap langkahnya. Ketika calon utusan terakhir ini menapaki terjalnya bukit hira, Ali kecil mengikutinya. Melangkahlah wahai kekasih Allah, biarlah dua langkah lagi, biar kami memandang jejakmu lebih lama. Ali bergegas mengikuti putra pamannya: pengasuh dan pembimbingnya. Hingga ketentuan ilahiah itu datang pada putra pamannya.

Kini, Muhammad bin Abdillah telah menjadi utusan Allah. Ali segera mengimaninya. Ialah muslim pertama. Mu’min setelah Khadijah. Tak sedikitpun keraguan pernah terbersit di hatinya. Lalu datang seluruh peristiwa itu: keimanan orang-orang Islam yang petama diuji. Mereka disiksa, disakiti, dianiaya. Dikucilkan, dihinakan, dihempaskan.

Perlindungan Abu Thalib dan harta Sayyidah Khadijah menjadi penopang dakwah Nabi. Sehingga tiba saat ketika seluruh Bani Hasyim dibuang di lembah Yusuf, lembah Abu Thalib, tidak jauh dari rumah Tuhan itu. Lihatlah kawanan Basyim melangkah menjauhi rumah Tuhan, patuh pada kesepakatan ummah, karena mereka tidak ingin menyerahkah Muhammad Rasulullah. Pantaslah bila Tuhan agungkan mereka di atas umat yang lainnya.

Mon, 10 Apr 2017 @12:22

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved