Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Thanks Da Vinci Code [Melvin Andrian]

image

Beberapa minggu terakhir ini umat Kristiani dan Katolik sedunia dikejutkan dengan diputarnya film yang diambil berdasarkan buku kontroversial karya Dan Brown, Da Vinci Code. Buku ini menguak tentang usaha pemutar balikkan sejarah yang dilakukan oleh salah satu sekte Katolik (Opus Dei) di Inggris mengenai mantan seorang pelacur (Maria Magdalena) yang menjadi Istri Yesus dan mempunyai keturunan sampai sekarang.

Sebagai seorang muslim, saya tidak percaya dengan fakta yang dikemukakan oleh Dan Brown ini, karena menurut keyakinan saya selama ini, Yesus (Isa) tidak memiliki istri apalagi keturunan. Yesus naik ke langit atau dihilangkan dari penglihatan manusia dalam pengejaran tentara Roma ketika itu dengan tidak memiliki isti atau anak alias masih bujang. Begitulah riwayat Isa a.s atau Yesus yang saya ketahui selama ini, dan tidak tertutup kemungkinan untuk berubah. 

Tetapi menurut saya ada sisi menarik dalam karya ini, saya pastikan siapa saja yang membaca bukunya atau menonton film nya akan dipaksa untuk berfikir, jangan selalu menerima saja tanpa ditelaah, dan harus belajar dari sejarah. Mengapa demikian. Ya. Nabi saya pernah bersabda (Muhammad SAW) : “Umat Nasrani (Umat Isa) akan berpecah sampai 72 golongan dan yang selamat hanya satu golongan”.

Dan saya rasa memang benar. Kita tahu tentang perdebatan antara petinggi-petinggi agama Nasrani pada masa Konstantin Agung menjadi Kaisar Romawi mengenai aspek Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam diri Yesus. Yang pada akhirnya membuat Umat Nasrani ini terpecah-pecah menjadi beberapa sekte atau kepercayaan. 

Saya tidak ingin masuk terlalu jauh pada wilayah kontroversi Da Vinci Code ala Dan Brown, biarlah itu menjadi tanggung jawab para Petinggi Umat Nasrani untuk meluruskannya. Saya hanya ingin mengambil hikmah dari Da Vinci Code ini, menurut saya sebagai manusia (makhluk Tuhan) kita mempunyai fitrah untuk berfikir dan berproses demi mencari kebenaran.

Untuk membantah tessis dari Dan Brown, kita harus membuka kembali Injil-Injil authentik, dan kitab-kitab mumpuni. Dan saya rasa ini tugas para Pastur atau Pendeta khususnya, untuk kembali merekonstruksi ulang isi Injil agar tidak terkotori oleh tangan-tangan jahil.

Apa yang salah dengan isi Injil? Mengapa menimbulkan representasi yang berbeda-beda? Ada apa dengan sejarah? Ini semua pertanyaan-pertanyaan yang harus dimiliki oleh seorang pencari kebenaran dan tidak ingin agamanya dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 

Ini tidak hanya untuk umat Nasrani saja, tetapi juga seluruh umat beragama termasuk Islam. Jangan kita hanya berpangku tangan dengan apa yang sudah ada. Tentunya kita harus mencari tahu dari mana yang ada itu datangnya. Kalau tidak ada Da Vinci Code kita tidak ingat untuk introspeksi agama kita, pengetahuan kita. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa mungkin saja Dan Brown benar. Saya juga harus mencari bukti-bukti yang valid akan hal ini. 

Di dalam Islam, juga terjadi fenomena yang mengajak orang untuk berfikir. “Islam terbagi dalam 73 golongan dan yang selamat hanya satu golongan juga”, begitu lanjutan dari sabda Rasulullah SAW di awal tadi. Jadi yang mana golongan selamat menurut Rasul itu setelah, ada beberapa sekte/mazhab di dalam Islam. Tentunya yang berdasarkan Al qur-an dan Hadist. Ya. Tetapi kita juga harus ingat, belajarlah dari sejarah, Sejarah Islam selama perkembangan tidak selalu mulus baik di luar Islam maupun dalam tubuh Islam sendiri.

Sudahkah anda mendengar peristiwa saqifah, perang nahrawan, perang jamal, perang shiffin, tragedi Karbala, kekejaman Dinasti Umayyah, dan Abbasiyah, semuanya itu rentetan peristiwa kelam sejarah Islam dari dalam kalau kita membuka literatur-literatur sejarah. Pertanyaannya apakah bisa kita dewasa ini menerima ajaran Rasulullah SAW secara murni, padahal yang kita tahu, tubuh Islam dalam keadaan kacau balau pasca Rasul wafat dan terus berlangsung selama ratusan tahun.

Apakah bisa hadist-hadist shahih muncul pada masa sedang kacau balau? Mengapa terjadi pengejaran selama ratusan tahun terhadap keturunan Rasul SAW dan pengikutnya yang dilakukan oleh penguasa dzalim di zaman Umayyah dan Abassiyah?

Mengapa orang yang tidak mengikuti apa kata penguasa disebut sebagai rafidhah (golongan yang menolak)? Apakah bisa dijamin kebenarannya hukum-hukum yang lahir di tangan seorang Penguasa dzalim selama beberapa abad ketika itu? Atau bisa saja seorang Penguasa berbuat apa saja demi kepentingannya, untuk memanipulasi kebenaran dari berbagai segi. Ya. Karena Penguasa punya power… 

Tentunya ini merupakan pekerjaan rumah (pr) bagi kita semua yang beragama. Kita menginginkan nilai-nilai luhur dari agama kita yang dibawakan oleh Nabi kita dan tentunya terjaga dari tangan-tangan jahil yang sangat tidak bertanggung jawab. Ini tugas seluruh umat beragama yang tidak hanya mengambil sesuatu dari yang sudah ada, tetapi tentunya harus mengetahui darimana yang ada itu datangnya. Apakah datangnya dari penguasa dzalim? Ataukah dari seorang pendeta atau ulama yang dekat dengan penguasa? Atau memang datang dari Ulama atau Pendeta yang per se?

Pada intinya Dan Brown mengingatkan kita supaya kita kembali membuka buku, dan membaca kitab-kitab yang sudah berdebu yang kita simpan diatas lemari. Dan yang lebih penting jangan beragama karena keturunan belaka. Jangan kita menjadi Islam keturunan atau Nasrani keturunan. Seorang Islam, Hindhu, Budha harus bertanya dalam hatinya, apakah agama yang selama ini dia jalani sudah sesuai yang diamanatkan oleh Tuhannya dan Nabinya. “(Apakah mereka akan ikuti) walaupun ayah-ayah mereka tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk” (al-Baqarah ayat 170). Inilah ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan kepada kita, supaya kita harus mencari kebenaran sendiri , jangan hanya beragama karena faktor keturunan.

Marilah kita membiasakan yang benar, bukannya membenarkan yang sudah biasa. Dan juga jangan tertipu dengan suara mayoritas atau ikut-ikutan. Dr. Ali Syariati menulis di dalam bukunya, ia mengutip perkataan Injil, yang diyakini masih asli :

“Wahai manusia, wahai manusia, sesungguhnya engkau berjalan di jalan yang penuh sesak. Jalanlah di jalan yang sedikit orang. Jalanlah di jalan yang tidak banyak dilewati banyak orang dan tidak penuh sesak, karena sejarah dan kesempurnaan adalah milik orang-orang yang membuat jalan baru atau mereka yang memilih jalan baru yang tidak pernah dilewati oleh manusia, dan belum dilewati oleh orang yang kebanyakan mengikuti orang lain, menetapkannya dan mengambilnya sebagai ketetapan dan sikap. Jalanlah di jalan yang dilewati sedikit orang. Jalanlah di jalan yang sedikit orang melewatinya, dan janganlah di jalan yang dipenuhi orang banyak dan penuh sesak.”

Isi ayat ini mengajarkan supaya kita jangan mengikut kepada satu kelompok berdasarkan kuantitas belaka, maksudnya yang mayoritas belum tentu benar. 

Jadi kita harus terus berproses untuk menuju kebenaran hakiki, jangan percaya pada keturunan belaka, jangan percaya pada suara mayoritas apalagi ikut-ikutan, tetapi kita harus percaya pada kebenaran itu sendiri, sekalipun datangnya dari jalan yang tidak ramai atau tidak biasa yang dilewati banyak orang, seperti kata Injil tadi. 

Thank’s Dan Brown for your Da Vinci Code…Saya percaya di setiap kejadian, baik atau buruk menyimpan hikmah tersirat demi kesempurnaan diri kita. Amien…

 Melvin Andrian, SH

Nb :  Ditulis pd saat film Da Vinci Code lg hangat2nya...

Fri, 30 May 2014 @17:27

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved