AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Amalan Malam Nishfu Syaban (2)

image

Shalat Empat Rakaat 

Shalat malam Nishfu Syaban empat rakaat, pada setiap raka‘atnya membaca Al-Fâtihah dan sûrah Qul Huwallâhu Ahad seratus kali. Setelah shalat berdoa dengan doa berikut: 

اللَّهُمَّ إِنِّي إِلَيْكَ فَقِيْرٌ, وَ إِنِّي عَائِذٌ بِكَ وَ مِنْكَ خَائِفٌ, وَ بِكَ مُسْتَجِيْرٌ, رَبِّ لاَ تُبَدِّلِ اسْمِي وَ لاَ تُغَيِّرْ جِسْمِي, رَبِّ لاَ تُجْهِدْ بَلاَئِي وَ لاَ تُشْمِتْ بِي أَعْدَائِي, أَعُوذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ, وَ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ, وَ أَعُوذُ بِرَحْمَتِكَ مِنْ عَذَابِكَ, وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْكَ, جَلَّ ثَنَائُكَ, أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ وَ فَوْقَ مَا يَقُوْلُ الْقَائِلُوْنَ
Allâhumma innî ilaika faqîr, wa innî ‘â`idzun bika wa minka khâ`if, wa bika mustajîr, rabbi lâ tubaddilismî, walâ tughayyir jismî, rabbi lâ tujhid balâ`î, walâ tusymit bî a‘dâ`î, a‘ûdzu bi‘afwika min ‘iqâbik, wa a‘ûdzu biridhâka min sakhathik, wa a‘ûdzu birahmatika min ‘adzâbik, wa a‘ûdzu bika mik, jalla tsanâ`uk, anta kamâ atsnaita ‘alâ nafsika wa fauqa mâ yaqûlul qâ`ilûn. 

Ya Allah sungguh aku butuh kepada-Mu dan sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan takut kepada-Mu dan dengan-Mu aku berlindung. Wahai Tuhanku, janganlah Engkau ganti namaku (dari berîmân menjadi kufur) dan janganlah Engkau ubah tubuhku. Wahai Tuhanku, janganlah Engkau beratkan cobaanku dan janganlah Engkau gembirakan musuh-musuhku denganku. Aku berlindung kepada maaf-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung kepada rela-Mu dari murka-Mu, aku berlindung kepada kasih-Mu dari siksa-Mu dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Mulialah pujian-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau puji diri-Mu dan di atas apa yang mereka ucapkan.

Catatan 
Untuk perempuan disesuaikan, maka kata-kata faqîr,
‘â`idzun, khâ`if, dan mustajîr menjadi faqîrah, ‘â`idzatun, khâ`ifah, dan mustajîrah. 

Shalat Seratus Raka‘at dan Dzikirnya 
Malam Nishfu Sya‘bân diisi dengan amal-amal ritual seperti shalat seratus raka‘at, shalat tasbîh, dzikir, istighfâr, membaca Al-Quran dan doa.
 

Jabra`îl (Jibril) as telah berkata kepada Rasûlullâh saw mengenai keutamaan (fadhîlah) malam Nishfu Sya‘bân,"Wahai Muhammad, siapa yang menghidupkannya dengan takbîr, tahlîl, tasbîh, shalawât, membaca Al-Quran, shalat sunnah dan istighfâr adalah surga tempat tinggalnya dan Allah ampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang terakhir. Wahai Muhammad, siapa yang mendirikan shalat padanya sebanyak seratus raka‘at dan dia baca pada setiap raka‘atnya Al-Fâtihah satu kali dan Qul Huwallâhu Ahad sepuluh kali, kemudian setelah shalat dia membaca Ayat Kursi sepuluh kali, Al-Fâtihahsepuluh kali dan tasbîh seratus kali, niscaya Allah ampuni seratus macam dosa besar–-dia menyebutkan pahala yang besar–-maka hidupkanlah malam itu wahai Muhammad, dan perintahlah ummatmu untuk menghidupkannya serta mendekatkan diri (kepada Allah) dengan beramal padanya, sebab ia adalah malam yang mulia, ia adalah malam yang tidak berdoa seorang pendoa padanya melainkan dikabulkan doanya, tidak meminta seorang peminta padanya melainkan dia diberi, tidak beristighfâr seorang peminta ampun padanya melainkan dia diampuni dan tidak bertobat seorang yang bertobat padanya melainkan diterima tobatnya."  

Shalat Tasbîh, Dzikir, Istighfâr dan Doa 
Imam ‘Ali Al-Ridhâ as ditanya tentang malam Nishfu Sya‘bân, beliau berkata, "Ia adalah malam yang Allah bebaskan padanya leher-leher dari api neraka, dan Dia ampuni padanya dosa-dosa yang besar." Beliau ditanya lagi: Apakah padanya ada shalat khusus sebagai tambahan atas shalat pada seluruh malam? Beliau menjawab, "Tidak ada sesuatu yang ditentukan padanya, namun apabila kamu ingin melakukan shalat sunnah, maka lakukanlah shalat Ja‘far bin Abî Thâlib (shalat tasbîh), perbanyaklah padanya dzikir kepada Allah, istighfâr dan doa."  
 

Bulan Sya‘bân adalah bulan yang disandarkan kepada Rasûlullâh saw, karena beliau telah mengatakan bahwa bulan Sya‘bân itu adalah bulannya. Sya‘bân bermakna cabang, karena orang beramal pada bulan ini, pahalanya bercabang-cabang atau dilipat-gandakan.

Rasûlullâh saw telah berkata, "Sya‘bân adalah bulanku, siapa yang puasa satu hari di bulanku wajib baginya surga."     

Abû ‘Abdillâh as berkata: Ayahku mengatakan: Adalah ayahku Zainul ‘Âbidîn apabila telah memasuki Sya‘bân, dia kumpulkan sahabat-sahabatnya, lalu dia berkata kepada mereka, "Wahai sahabat-sahabatku, tahukah kalian bulan apa ini? Ini bulan Sya‘bân dan adalah Nabi saw berkata, 'Sya‘bân adalah bulanku, maka puasalah kalian di bulan ini karena kecintaan kepada Nabi kalian dan karena mendekatkan diri kepada Tuhan kalian.' Aku bersumpah dengan Tuhan yang diriku di tangan-Nya, sungguh aku telah mendengar ayahku Husain mengatakan. 'Aku mendengar Amîrul Mu`minîn berkata, 'Siapa yang berpuasa pada bulan Sya‘bân karena kecintaan kepada Rasûlullâh saw dan karena taqarrub kepada Allah, niscaya Allah mencintainya dan mendekatkannya kepada kemulian-Nya pada hari kiamat dan Dia wajibkan surga untuknya."    

Imam Ja‘far Al-Shâdiq berkata, "Adalah Rasûlullâh saw pada malam nishfu Sya‘bân di di sisi ‘Âisyah, tatkala waktu tengah malam, Rasûlullâh saw bangun meninggalkan tempat tidurnya. Ketika ‘Âisyah bangun dia kehilangan Rasûlullâh saw dari tempat tidurnya, kemudian dia mencari Rasûlullâh saw, lalu masuk kepadanya rasa cemburu yang biasanya masuk kepada (sebagian) kaum wanita, dia mengira bahwa Rasûlullâh ada pada sebagian istrinya lalu dia mencari-cari Nabi saw di kamar istri-itrinya yang lain, kemudian dia melihat Rasûlullâh saw sedang sujud seperti sehelai kain yang teronggok di atas tanah, lalu dia menghampirinya dan mendengarnya mengucapkan kalimat berikut di dalam sujudnya:

سَجَدَ لَكَ سَوَادِي وَ خَيَالِي, وَ آمَنَ بِكَ فُؤَادِي, هَذِهِ يَدَايَ وَ مَا جَنَيْتُهُ عَلَى نَفْسِي يَا عَظِيْمُ تُرْجَى لِكُلِّ عَظِيْمٍ, اِغْفِرْ لِيَ الْعَظِيْمَ, فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذَّنْبَ الْعَظِيْمَ إلاَّ الرَّبُّ الْعَظِيْمُ 
Sajada saqwâdî wa khayâlî, wa ãmana bika fu`âdî, hâdzihi yadâya wamâ janaituhu ‘alâ nafsî, yâ ‘azhîmu turjâ likulli ‘azhîm, ighfir liyal ‘azhîm, fainnahu lâ yaghfirudz dzanbal ‘azhîma illar rabbul ‘azhîm. 

Sujud kepada-Mu seluruh tubuhku dan pikiranku, dan telah berîmân kepada-Mu hatiku. Inilah kedua tanganku dan keburukan yang telah aku lakukan atas diriku wahai Tuhan yang maha agung yang diharapkan untuk setiap (dosa) yang besar, ampunilah dosaku yang besar, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa yang besar selain Tuhan yang maha besar. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan sujud yang kedua kalinya dan ‘Âisyah mendengarnya mengucapkan:

أَعُوذُ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِي أَضَائَتْ لَهُ السَّمَاوَاتُ وَ اْلأَرَضُوْنَ, وَ انْكَشَفَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ, وَ صَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ اْلأَوَّلِيْنَ وَ اْلآخِرِيْنَ مِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ, وَ مِنْ تَحْوِيْلِ عَافِيَتِكَ, وَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي قَلْباً تَقِيًّا نَقِيًّا, وَ مِنَ الشِّرْكِ بَرِيْئًا, لاَ كَافِرًا وَ لاَ شَقِيًّا 
A‘ûdzu binûri wajhikal ladzî adhâ`at lahus samâwâtu wal aradhûn, wankasyafat lahuzh zhulumât, wa shaluha ‘alaihi amrul awwalîna wal ãkhirîna min fujâ`ati niqmatik, wamin tahwîli ‘âfiyatik, wamin zawâli ni‘matik. Allâhummarzuqnî qalban naqiyyâ, waminasy syirki barî`â, lâ kâfiran walâ syaqiyyâ. 

Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang karenanya bersinar seluruh langit dan bumi, dan karenanya tersingkap segala kegelapan, dan karenanya menjadi beres segala urusan ummat terdahulu dan terakhir dari kedatangan siksa-Mu, dan perpalingan afiat-Mu dan dari hilangnya kenikmatan-Mu. Ya Allah berilah aku karunia berupa hati yang bertaqwâ lagi suci dan terbebas dari syirik, tidak kafir dan tidak pula celaka.

Kemudian beliau menempelkan kedua pipinya ke tanah dan berkata:

عَفَّرْتُ وَجْهِي فِي التُّرَابِ, وَ حُقَّ لِي أَنْ اَسْجُدَ لَكَ 
‘Affartu wajhî fit turâb, wa huqqa lî an asjuda lak. 

Kuletakkan wajahku di tanah dan benarkan bagiku bahwa aku sujud kepada-Mu.

Ketika Rasûlullâh saw berpaling, dia berlari menuju tempat tidurnya dan Nabi saw mendatangi tempat tidur tersebut, beliau mendengar nafasnya tinggi, lalu beliau bertanya kepadanya, 'Tahukah kamu malam apa ini? Ini malam Nishfu Sya‘bân, padanya dibagikan rezeki, padanya dituliskan ajal dan padanya dituliskan para utusan haji. Dan sesungguhnya Allah ta‘âlâ pada malam ini mengampuni makhluk-Nya lebih banyak dari jumlah bulu seekor anjing dan Allah turunkan malaikat-Nya dari langit ke bumi di Makkah.'"  

Sumber: www.abuzahra.net

Mon, 30 Apr 2018 @14:24

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved