PENGUNJUNG

Flag Counter

Kajian Islam LPII Bandung

Informasi kelas Hadis Al-Kafi dan Tafsir Al-Quran (follow Twitter) @LPII Bandung

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Kang Jalal: Imam Mahdi Datang Menegakkan Perdamaian Dunia

image

Imam Mahdi akan datang untuk menegakkan perdamaian di dunia dan tidak mungkin menegakkan perdamaian di dunia ini tanpa penghargaan kepada berbagai keyakinan. Tidak mungkin dunia menyatu dalam satu agama Islam. Tidak mungkin mempersatukan semua keyakinan itu karena bertentangan dengan ayat Al-Quran.

Demikian disampaikan oleh KH Jalaluddin Rakhmat dalam Seminar Internasional yang bertajuk Mahdiism yang digelar di Aula Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat siang (13/6/2014).

Menurut Kang Jalal—sapaan KH Jalaluddin Rakhmat—kelak saat Imam Mahdi muncul setiap orang beragama masih tetap diperbolehkan mengikuti agama dan keyakinannya masing-masing. Sebagai pemimpin umat manusia yang terakhir di dunia ini Imam Mahdi akan menghukum setiap perbuatan sesuai dengan ajaran dan aturan agama yang diikutinya.

Karena itu, upaya penyamaan agama atau menjadikan semua umat manusia satu agama tidak mungkin terjadi karena bertentangan dengan ayat Quran.

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan,” ujar Kang Jalal yang mengutip surat Al-Maidah ayat 48.

“Artinya, Allah tidak menghendaki kalau agama itu satu. Siapa yang menghendaki agama itu satu? Para ustad, para guru kita,” kata Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia ini disambut tawa hadirin.

Lebih jauh, Kang Jalal yang menjadi pembicara pembuka mengulas ayat-ayat Al-Quran yang menerangkan Imam Mahdi, hadis-hadis yang menerangkan akan munculnya Imam Mahdi, dan kritik terhadap mereka yang meragukan kehadiran Imam Mahdi.

Selesai Kang Jalal, dilanjutkan dengan pemaparan dari Ayatullah Anshary, Dr.Mazaheri, dan Dr.Shafakhah. Ketiga pembicara ini dari Iran yang khusus dihadirkan pihak UIN Bandung. Dari UIN Bandung tampil Dr.Munir dan dimoderatori Dr Bambang Qomaruzzaman.

Ayatullah Anshary mengatakan bahwa hari berlangsungnya seminar merupakan hari nishfu syaban yang juga hari kelahiran dari Imam Mahdi. Dalam kitab-kitab samawi dijelaskan tentang peristiwa-peristiwa masa depan dan akhir zaman yang diisi oleh orang-orang baik, saleh, dan senantiasa teguh di jalan Allah.

Kemudian Dr Mazaheri menjelaskan bahwa dalam agama-agama di luar Islam terdapat konsep yang mirip dengan Imam Mahdi. Agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Yahudi, dan Konghucu mempunyai keyakinan tentang kedatangan sang pencerah di akhir zaman.

Pembicaraan beralih kepada Dr Munir yang mewakili Ahlussunnah (Sunni). Sebagai pembicara pembanding, Munir menjelaskan bahwa konsep keyakinan datangnya Imam Mahdi dalam pandangan Sunni dan Syiah memiliki kesamaan. Hanya saja dalam tradisi Sunni, Imam Mahdi lebih bersifat konseptual.

Menurut Munir, keyakinan tentang Imam Mahdi dalam Ahlussunnah tidak sejelas yang digambarkan mazhab Syiah. Ahlussunnah meyakini Imam Mahdi bagian dari keimanan dari hari Akhir.

“Harus diyakini bahwa nanti sebelum kiamat akan ada pembaru agama kemudian memimpin dengan seadil-adilnya dan melawan segala bentuk kejahatan. Kemudian terjadilah kiamat,” paparnya.

Munir menerangkan bahwa Syiah dengan konsep Imamah telah memiliki kemapanan pemikiran sehingga ketika menjelaskan Imam Mahdi jelas memiliki dasar-dasar teologis dan filosofis. Sedangkan di Ahlussunnah tidak begitu jelas karena tidak memiliki konsep Imamah.

Dalam hadis Ahlussunnah disebutkan akan muncul seorang pembaru agama setiap seratus tahun. Kemudian setiap orang Islam Ahlussunnah yang mempunyai masa besar melakukan gerakan yang kemudian mengaku dirinya sebagai imam Mahdi yang dijanjikan.

“Karena ketidakjelasan itu maka dalam Ahlusunnah bisa saja setiap orang mengaku Mahdi. Yang penting adalah makna dari Mahdi itu sebagai pembaru atau penyelamat,” kata Munir.

Berbeda dengan dua rekannya dari Iran, Dr Shafakhah yang menjadi pembicara terakhir menyampaikan bahwa Imam Mahdi diyakini kaum Muslim Sunni dan Syiah. Hanya dalam mazhab Sunni lebih mengarah pada konsep tanda-tanda akhir zaman dan dalam Syiah bagian dari konsep Imamiah.

Menurut Shafakhah, dalam al-quran terdapat 207 ayat yang menerangkan tentang Imam Mahdi, di antaranya At-Taubah ayat 33 dan surat Al-Qashash ayat 5 tentang karunia Allah kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan pemimpin yang mewarisi (bumi).

“Karena itu, Imam Mahdi tidak hanya milik Syiah, Sunni, tetapi milik semua manusia di seluruh dunia,” ujarnya.

Dikarenakan sudah terlalu sore, moderator tidak memberikan kesempatan tanya jawab dan langsung menutupnya. Seminar yang berlangsung dari pukul dua siang itu berakhir pukul lima sore yang diakhiri dengan doa dari Ayatullah Anshary.

( www.ahmadsahidin12.blogspot.com )


Tue, 2 Jun 2015 @13:23

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved