Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Mencaci Para Sahabat [Sayid Muhammad Rizvi]

image

Saya ingin berbicara tentang hubungan antar-sesama muslim, yang berkaitan dengan bahasa yang digunakan ketika berdialog, berdebat, atau berdiskusi dengan sesama muslim. Tema ini juga berkaitan dengan fatwa yang dikeluarkan oleh Ayatullah Khamenei yang melarang penggunaan bahasa kasar terhadap istri dan sahabat nabi.

Bagaimanapun juga, perlu dipahami bahwa fatwa ini bukanlah perkara atau aturan baru dalam mazhab, tetapi sudah ada sejak lama. Fatwa ini lebih kepada peringatan yang tepat pada masanya, sembari mengingatkan kepada hal-hal yang terjadi saat ini (kekacauan yang dilakukan Yasser Al-Habib dan fitnahWahabi).

Fatwa yang sama juga telah dinyatakan sebelumnya oleh Ayatullah Sistani, khususnya dalam konteks konflik Irak. Kita mendapati bahwa perwakilan Ayatullah Sistani dan marjak lain di Najaf sangat menekankan pada hal ini. Mereka mengatakan bahwa ini adalah perbuatan ekstrimis minoritas di kalangan Wahabi untuk menciptakan ketegangan dan fitnah di kalangan suni-Syiah di Irak. Syiah juga telah berulang kali diingatkan untuk bersabar dan tidak terpancing provokasi yang musuh diciptakan.

Kita juga melihat dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini, dalam jawaban yang disampaikan Syekh Wahid Khurasani di Qum dalam pernyataannya tentang apa pandangan fikih Syiah terhadap muslim suni. Baru-baru ini, setelah fatwa Imam Khamenei, Ayatullah Makarim Syirazi dengan nada yang keras juga menyatakan perkara yang sama. Jadi apabila kita melihat fatwa-fatwa tersebut, jelas bahwa hal ini bukanlah perkara baru tetapi merupakan pandangan standar para pemimpin, mujtahid, dan fukaha Syiah sepanjang zaman.

Bagaimanapun juga fatwa ini tidak melarang kita untuk berdiskusi atau berdebat terkait dengan perbedaan suni dan Syiah. Ia bukan suatu isu untuk tidak lagi membicarakan tentang perbedaan teologi dan fikih yang ada, tetapi lebih kepada bahasa yang digunakan. Anda dibolehkan untuk berdebat tentang semua itu, tetapi jaga bahasa kalian. Gunakanlah gaya bahasa yang sopan, beradablah, dan ilmiahlah ketika mengkritik lawan bicara. Jangan gunakan perkataan yang kotor dan kata-kata cacian. Inilah pesan utama yang coba disampaikan para pemimpin dunia Syiah.

Allah Swt. berfirman dalam surah An-Nahl ayat 125: “Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah (wa jadiluhum) mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ayat ini tidak melarang mujadalah, debat, berargumen, berdiskusi; tidak ada masalah dengan hal itu. Tapi pastikan semua itu dilakukan dengan cara yang penuh hikmah dan nasihat yang penuh dengan kebaikan dan dengan cara yang paling baik.

Begitu juga jika kalian membaca surah Al-An’am ayat 108, Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu memaki (tasubbû) sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”

Janganlah kalian menggunakan kata-kata cacian terhadap tuhan yang mereka sembah selain Allah. Jika tidak, apa yang mereka lakukan? Mereka akan membalas dengan mencaci Allah. Ayat Quran ini sangat jelas. Bi ghairi ilmin. Mereka tidak sadar bahwa mereka sendirilah yang sedang mencaci Tuhan mereka.

Jadi penggunaan atau melakukan sab dilarang. Perlu saya sebutkan bahwa perkara mencaci dan melaknat adalah isu yang berbeda. Walaupun begitu, cara pelaksanaannya atau metodenya amatlah penting. Kita sudah sering kali membicarakan hal ini tentang tanggung jawab kalian dalam membahas isu yang kontroversial ini.

Saya akan berikan contoh tentang dialog yang sangat terbuka tapi bersahabat, dalam hal Syiah-suni adalah buku Al-Murajaat, yang merupakan surat-menyurat antara ulama Syiah Lebanon dengan ulama suni seorang rektor Al-Azhar ketika itu. Ini terjadi satu abad yang lalu dan jika kita melihat surat-menyurat itu dan jawaban dari kedua belah pihak mereka sangat berterus terang dalam isu yang dibicarakan dan tidak menahan diri dalam berhujah tentang akidah mereka. Tapi mereka tetap menghormati, bersahabat dan beradab dalam berhujah. Inilah yang patut kita contoh ketika berbahasa dengan muslim lainnya.

Semoga Allah Swt. memberi kita kebijaksanaan untuk melakukan apa yang kita perbuat dengan cara yang benar serta mendapat rida-Nya.

Sumber: Syiah Indonesia


Thu, 11 Dec 2014 @19:34

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved