Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku-buku bacaan ISLAM. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Pemikiran Jalaluddin Rakhmat Tentang Pendidikan (2)

image

 

Berangkat dari kesadaran adanya fenomena bahwa “satu Tuhan, banyak agama” merupakan fakta dan realitas yang dihadapi manusia sekarang. Maka, manusia sekarang harus didorong menuju kesadaran bahwa pluralisme memang sungguh-sungguh fitrah kehidupan manusia.

Mendorong setiap orang untuk dapat menghargai “keanekaragaman” adalah sangat penting segera dilakukan, terutama sekali di negara Indonesia yang pluralistik ini. Dampak krisis multi-dimensional yang melandanya, menyebabkan bangsa Indonesia menghadapi berbagai problem sosial. Salah satu problem besar dimana peran agama menjadi sangat dipertanyakan adalah konflik etnis, kultur dan religius, atau yang lebih dikenal dengan SARA. 

Kegagalan agama dalam memainkan perannya sebagai problem solver bagi persoalan SARA erat kaitanya dengan pengajaran agama secara eklusif. Maka, agar bisa keluar dari kemelut yang mendera bangsa Indonesia terkait persoalan SARA, adalah sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk memunculkan wajah pendidikan agama yang inklusif dan humanis.

Jalaluddin Rakhmat mengakui, sekolah yang didirikannya mengajarkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan di antara berbagai madzhab. Dia berpandangan bahwa sebenarnya ada hal yang mungkin mempersatukan kita semua, yaitu akhlak. Dalam bidang Akhlak, semua orang bisa setujua, apa pun mazhabnya.

Melalui sistem pendikikanya, sebuah pendidikan yang berbasis pluralisme akan berusaha memelihara dan berupaya menumbuhkan pemahaman yang inklusif pada peserta didik. Dengan  suatu orientasi untuk memberikan penyadaran terhadap para peserta didiknya akan pentingnya saling menghargai, menghormati dan bekerja sama dengan agama lain.

Berangkat dari asumsi dasar bahwa pluralitas agama merupakan sunnatullah, maka SMUTH melalui majalah dan buku-buku yang diterbitkan –baik yang ditulis oleh Jalaluddin Rahmat, para guru maupun siswa- memperkenalkan bahwa perbedaan manusia dengan agama yang dipercayainya merupakan merupakan kenyataan ontoligis yang tak terbantahkan. Karenanya, dialog yang santun menjadi sebuah prasyarat terbangunnya pluralitas yang sehat, terlebih dalam era globalisasi dewasa ini. Dalam era globalisasi pluralitas sosial, kultur, ideologi bahkan agama merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh setiap umat beragama, tidak bisa ditolak. Menolak pluralitas justru akan sangat membahayakan terciptanya kedamaian yang diidamkan semua pihak.

Penutup
Jalaluddin Rakhmat memiliki latar belakang keluarga, pendidikan, sekaligus sosial budaya yang terurai penuh liku. Perjalanan hidupnya tersebut mempengaruhi pemikiran Jalaluddin Rahmat dalam berbagai bidang.

Mulai dari aspek bidang pendidikan, fikih, komunikasi, sosial, sampai pada tasawuf. Pemikiran Jalaluddin Rahmat telah ditulis dalam karya-karyanya yang sebagian dibuat dalam rangka menjawab tantangan dan paham paradigma yang beliau anggap keliru.

Dalam bidang pendidikan, Kang Jalal telah menelorkan beberapa pokok pemikiran. Epistemologi Islam menurutnya sudah jelas, yakni tidak mengenal dikotomik, memiliki nilai spritualitas-sufistik, serta holistik.

Hakikat manusia yang paling esensial menurut Jalaluddin Rakhmat adalah bahwa manusia diberi kemampuan dalam mengembangkan Ilmu dan Iman. Namun, menurutnya, dalam pandangan Al-QUran, sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman sekaligus. sedikit orang yang beriman, sedikit orang yang berilmu dan lebih sedikit algi orang yang berilmu dan beriman.

Selain itu, Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa pendidikan Islam harus memperhatikan perpaduan antara tubuh dengan jiwa. Keduanya tidak boleh timpang, melainkan harus berjalan secara seimbang.

Yang paling terkenal dari pemikiran Jalaluddin Rakhmat adalah pemikirannya tentangpendidikan inklusif dan pluralistik. Melalui sistem pendikikanya, sebuah pendidikan berbasis pluralistik akan berusaha memelihara dan berupaya menumbuhkan pemahaman yang inklusif pada peserta didik. Dengan  suatu orientasi untuk memberikan penyadaran terhadap para peserta didiknya akan pentingnya saling menghargai, menghormati dan bekerja sama dengan agama-agama lain.

Sumber
Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasis Otak, Cet. VII, Penertbit MLC: Bandung 2007.
Jalaluddin Rakhmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan, Serambi Ilmu Semesta: Bandung, 2006.
Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi, Pustaka IlMaN, Depok, 2008.
http://www.referensimakalah.com/2013/01/biografi-jalaluddin-rahmat.html
Abdul Wahid, Pendidikan Prulalistik: Belajar dari SMU Muthahhari, http://abdulwahidilyas.wordpress.com/2010/08/26/pendidikan-pluralistik/

 


 

Wed, 25 Jun 2014 @08:36

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved