AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Kebangkitan Islam [Miftah F. Rakhmat]

image

History doesn't repeat itself, but it sure does rhyme. Sejarah tak mengulangi dirinya, tapi sungguh ia punya pola yang sama. Kutipan yang sering dinisbatkan pada Mark Twain ini cukup unik. Orang sering menyebut bahwa sejarah itu berulang. Tidak, sejarah tidak pernah berulang. Ia hanya berjalan pada pola yang serupa. Seirama, ibarat pantun pada nada yang sama. 

Kemarin, tepat seratus tahun yang lalu, seorang Serbia, Gavrilo Princip melepaskan dua tembakan. Sasarannya, pasangan bangsawan dari Hohenberg Austria, Archduke Franz Ferdinand dan istrinya Sophie. Tembakan pertama mengenai perut Sophie. Tembakan kedua pada leher sang suami. Keduanya tewas seketika.

Apa yang menarik dari peristiwa ini? "Kematian satu orang itu tragedi," kata Stalin, "sedangkan kematian sejuta orang, itu (hanya) statistik," ujarnya pula.

Peristiwa yang terjadi di lapangan lepas di Balkan, seratus tahun lalu itu telah mengubah sejarah dunia. Dua tembakan itu telah memicu apa yang kemudian kita kenal dengan Perang Dunia pertama. Balkan pecah. Konfliknya menjalar ke kawasan. Bahkan negara-negara penjajah yang menguasai utara Afrika terkena imbasnya. Peta dirumuskan di atas meja perundingan. Dibagi lurus seperti kue yang dihidangkan. Tanpa memperhitungkan aspek sosial budaya, keragaman latar belakang dan sejenisnya. Rentan konflik etnis, perbedaan keyakinan, kemudian jadi sumbu utama menyulutnya. Dunia tak lagi sama, sejak lepasnya dua timah panas dari selongsongnya.

Kematian Franz Ferdinand menjadi tragedi kemanusiaan. Jumlah korban berikutnya hanya statistik yang menyertainya.

Demikian sejarah membentuk persepsi Barat sekarang ini. Pada awal tahun hingga 28 Juni 2014, beragam tulisan diperdebatkan, berpuluh pendapat diedarkan. Mereka mensinyalir ada kemiripan antara 1914 dan 2014. Lalu muncullah kutipan Mark Twain itu. Sejarah tidak berulang. Tapi ia punya kesamaan.

Kini, 2014, Balkan yang bergejolak tidak lagi di Timur Eropa, tapi Timur Tengah yang tak pernah lepas dirundung masalah. Sejak Muhammad Al-Bu'azizi membakar dirinya sebagai protes pada pemerintahan otoriter Tunisia, riak yang ditimbulkannya--yang mungkin tak pernah disadarinya--kini mengubah kekuatan dunia dan memengaruhi milyaran penghuninya. Kematian Al-Bu'azizi tragedi. Ribuan korban setelahnya, menjadi catatan statistik sejarah saja.

Tunisia bergejolak. Mesir membara. Libya terbakar. Lautan perubahan menyapu seluruh kawasan. Mereka disadarkan bahwa yang lemah bisa melawan, yang kecil sanggup bertahan, ketidakberdayaan beralih menjadi kekuatan. Yaman meletup. Yordania bangkit. Api revolusi menyala di Bahrain. Mayoritas yang terpinggirkan menuntut haknya. Gelombang demonstrasi melanda negeri.

Pemerintah membalasnya dengan mendatangkan pasukan dari luar negeri. Gemuruh perubahan itu mereka lakukan, bahkan di bulan suci. Pada hari raya yang seharusnya dihormati, Ali Jawad Ahmad, seorang remaja empatbelas tahun gugur ditembak tentara anti huru hara. Tabung gas airmata ditembakkan ke kepala anak muda itu dari jarak dekat. Ia syahid, pada hari kemenangan. Kematiannya tragedi. Dan setiap kematian di jalan Tuhan itu tragedi. Atas nama kemanusiaan. Atas nama peradaban.

Barat menyebutnya "Arab Spring" kebangkitan bangsa Arab, atau musim semi Arab. Musim kuncupnya bunga setelah musim dingin tanpa warna. Bagi Barat, selama ini dunia Arab tertidur. Dan kini mereka baru terbangun. Siapa yang telah meninabobokan selama ini?

Republik Islam Iran memilih untuk berbeda. Mereka lebih senang menyebutnya "Era kebangkitan Islam." Kaum Muslimin kini sadar siapa musuh sesungguhnya. Siapa yang berusaha memecahbelah mereka, mengadudomba, melenakan mereka. Ragam konferensi dan aktivitas digelar. Kesempatan mempersatukan umat terbentang lebar. Penderitaan rakyat Palestina kembali diteriakkan. Semangat juang dari dataran tinggi Golan, dari lembah Baq'a di Libanon Selatan terdengar lantang hingga sudut-sudut sempit peradaban.

Di sinilah Suriah mengambil peran. Sebagai negara penampung pengungsi Palestina paling besar, Suriah tak pernah sepakat dengan bangsa Arab lainnya seputar Israel. Bagi Suriah, Israel adalah penjajah. Tak ada kata damai. Setiap jengkal bumi Suriah harus direbut kembali. Suriah menjadi safe-haven bagi suara perjuangan rakyat Palestina dan Libanon. Suriah menjadi jendela mereka untuk dunia.

Memanfaatkan isu "Arab Spring", kekuatan asing merongrong kedamaian rakyat tepi laut Mediterania itu. Veteran-veteran konflik lama, dikirimkan ke sana. Bagi mereka yang menjadikan peperangan lapangan kerja, Suriah adalah peluang yang terbuka. Negara yang miskin sumberdaya. Negara yang tak mau takluk pada adikuasa. Para kombatan putus asa dari berbagai penjuru dunia, menjawab panggilan untuk kembali angkat senjata. Kali ini, korbannya anak-anak kecil dan wanita. Bahkan orangtua tak berdaya. Menghancurkan Suriah, adalah juga melemahkan kekuatan perlawanan Palestina dan Libanon Selatan pada waktu yang sama.

Tapi kekuatan rakyat Suriah membuat dunia membuka mata. Bangsa yang miskin harta itu ternyata bermental sekuat baja. Tak mudah dikalahkan. Tak gampang digoyahkan. Rakyat yang lemah bersatu padu. Bersama-sama mereka mengusir perusuh negeri, memukulnya mundur, dan membangun kembali bangsa dari puing-puing yang hancur. Tiga tahun lebih diporakporanda. Tiga tahun lebih bertahan dalam kekurangan bahan makanan. Mereka bertahan melaluinya.

Kini, barisan para perusuh itu hancur sendiri. Sebagian melarikan diri. Ada pula yang bergerak ke tenggara, dan menghabisi apa pun yang mereka lewati. Kelompok perusuh ini ingin membangun negeri sendiri, Pemerintahan Islam di Syams dan Irak Utara. Mereka menebar teror. Atas nama agama, kejahatan kemanusiaan dipertontonkan. Siapa yang mendanai mereka? Dari mana senjata-senjata modern itu mereka terima? Siapa pemasoknya? Dan atas dasar apa mereka membunuh sesama…?

Peta dunia bisa berubah kini, sebagaimana seratus tahun yang lalu itu. Dulu Ferdinand, kini rakyat kecil tak berdosa. Dulu Balkan, kini Timur Tengah yang menggelora. Garis demarkasi itu tidak lagi digoreskan di atas meja. Ia dipahatkan dalam hati dan sanubari kita. Kita bukan lagi orang yang sama. Kita bukan lagi kelompok yang satu. Kita bukan lagi umat yang bersaudara.

Kini kita dipecah oleh kekuatan tak kasat mata. Kita mudah melepas fitnah. Kita senang menjatuhkan sesama. Bila perlu, cari aib dan kekurangan seseorang hingga ke ujung dunia. Kita puja yang satu, kita jatuhkan yang lainnya. Kita lupa…mereka adalah saudara kita: sebangsa, seagama, setanah air, satu umat manusia.

Penjajahan itu tak lagi dalam pasukan, ia merasuki alam pikiran. Saat kita semangat mengganggap orang sesat. Kala kita bertakbir dan tak panjang pikir menyatakan orang lain kafir. Kita kini tak ubahnya para malaikat. Bukan saja sebagai malaikat yang mencatat aib orang sebanyak-banyaknya dan mengabadikannya. Tapi juga malakal maut yang mengambil hak hidup sesama.

Dalam kerangka itulah bulan suci menjemput kita. Tamu nan indah yang datang setahun sekali menyapa. Seluruh jamuan Tuhan hadir di hadapan kita. Nikmat nafas menjadi tasbih. Indahnya tidur dinilai ibadah. Tapi itu semua tak bermakna manakala kita tak berbagi karunia. Bumi ini memang dan selamanya milik Allah. Maka hormatilah manusia yang telah dimuliakanNya. Mana yang lebih dulu utama, bulan sucinya atau puasa? Adakah bulan Ramadhan mulia karena kewajiban puasa? Ataukah puasa jadi utama karena ditetapkan pada waktu yang mulia?

Bulan ini sudah suci bahkan jauh sebelum puasa diwajibkan. Bukankah semua kitab suci dan shahifah para nabi diturunkan di bulan ini? Bulan ini sudah mulia, dan puasa menjadikannya lebih utama, sebagai cara memperlakukan tamu nan istimewa.

Begitu pula manusia. Adakah ia mulia karena kemanusiaannya? Ataukah karena akhlak terpujinnya? Manusia sudah mulia, bahkan sejak ia membuka mata. Lebih jauh dari itu, ia sudah mulia sejak tumbuh dalam rahim ibunda. Tak boleh ada yang merendahkannya, menghinanya, menjatuhkannya, menyakitinya, menganiaya dan meremehkannya. Siapa saja. Apa pun latar belakang dan keyakinannya.

Maka bulan ini mengajarkan pada kita menahan amarah, menarik nada tinggi yang akan keluar dari lisan kita. Bulan ini mendidik kita menghormati siapa saja, dengan berbuat baik dan berkhidmat pada mereka. Orang saling memuliakan sesama. Anak pada orangtua, begitu pula sebaliknya. Murid menghormati guru, dan guru memuliakannya pula. Bulan ini mengajarkan pada kita kemuliaan sesama. Bila hendak mengingatkan, lakukan dengan cara yang utama. Bukan dengan membentuk laskar menakut-takuti, atau menutup muka menyembunyikan jati diri, atau menghakimi tanpa berusaha memahami.

Karena sesungguhnya, seperti sejarah, justru pada bulan ketika kekuatan lahiriah melemah, tumbuh kekuatan besar dari kuasa batiniah, yang mampu mengalahkan segala rintangan, seluruh keluh dan kesah, setiap gundah dan gelisah.

Sebagaimana sejarah, bangsa-bangsa kecil itu akan mengemuka. Umat yang tertindas akan berkuasa. Jangan pernah remehkan kelemahan mereka, karena mereka telah ditempa dalam sebuah madrasah ruhaniah, ketika segala rintangan akan dapat ditaklukkan, manakala berpegang pada tali Tuhan teramat terkokohkan.

Selamat menyambut bulan suci. Ia sudah utama, jauh sebelum kita hadir ke dunia. Selamat berkhidmat pada sesama, dengan memuliakan derajat mereka. Karena siapa saja yang merendahkan manusia, adalah merendahkan Sang Penciptanya pula. Bila di negeri ini muncul dukungan pada tindak kekerasan di negeri orang, ia musuh kemanusiaan. Bila di negeri ini ada pemasungan keyakinan, ia musuh kemuliaan. Bila di negeri ini ada kuasa yang melemahkan kaum yang dipinggirkan, ia musuh peradaban.

Sejarah mungkin tak berulang. Tapi ia punya pola yang sama, untuk mengingatkan kita semua, bahwa kita bersaudara. Berdoalah untuk saudara-saudara kita di Timur Tengah sana. Bukan tak mungkin, dari Balkan bergerak ke Timur Tengah dan tak butuh seratus tahun kemudian untuk sampai ke nusantara. Semua peluang itu terbuka, bila kita menutup mata, satu saat saja dalam memuliakan sesama manusia.

Di bulan suci ini, mari merenung diri. Kehormatan siapakah yang telah kita jatuhkan? Kemuliaan siapakah yang telah kita rendahkan? Karena pada saat Gavrilo Princip membunuh seorang Ferdinand, ia bukan sekadar membunuh seorang manusia, ia telah membunuh kemanusiaan. Ia telah membunuh umat manusia seluruhnya. Pada saat gerakan teror menghabisi kelompok berbeda haluan, ia memusuhi kemanusiaan.

Pada saat kelompok pengkafir orang memaksakan keyakinan, mereka sudah memerangi kemanusiaan. Dan seperti Suriah yang kuat karena didikan madrasah ruhaniah, bangsa-bangsa yang tertindas itu satu saat akan bangkit melawan musuh kemanusiaan. Kelompok-kelompok kecil itu satu saat akan bangkit. Karena kekuatan sesungguhnya bukanlah lahiriah, tetapi batiniah. Sebagaimana yang diajarkan bulan suci ini.

Selamat hari pertama bulan penuh kemuliaan. Allahumma sallimna fiihi wa sallimhu lana. Selamat datang wahai sebaik-baiknya kawan. Selamat datang wahai kerinduan. Selamat datang wahai penopang tubuh-tubuh lemah. Selamat datang wahai yang memperkuat diri-diri yang kalah. Selamat datang wahai yang mulia, wahai yang memuliakan. Selamat datang, dan terima kasih karena telah berkenan, sekali lagi membahagiakan binar mata kami dengan kehadiran. Mohon sampaikan salam rindu pada para kekasih hati teladan. Merekalah sebaik-baiknya yang dimuliakan dan memuliakan.

Marhaban ya syahra Ramadhan! Sungguh, Ya Allah, kami para pecinta bulan ini dan perindu mereka yang memuliakannya.

 (MIFTAH F. RAKHMAT)


Wed, 1 Jul 2015 @12:16

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved