Kata-kata yang Menyakiti [Miftah F. Rakhmat]

image

Justin Helzer percaya bahwa Tuhan menjelma dalam saudaranya. Lebih dari itu, ia meyakini saudaranya sebagai tuhan. Ia menolongnya menghabisi lima nyawa. Ia ditangkap, dipenjarakan di San Quentin, dan dijatuhi hukuman mati. Proses yang lama menunggu eksekusi membuatnya berusaha membunuh dirinya beberapa kali. Ia tusuk kedua matanya dengan balpoin. Ia hantam juga batok kepalanya. Setelah tiga kali percobaan bunuh diri yang gagal, pada kali keempat, penjaga menemukannya tergantung terikat dengan serpai tempat tidurnya. Ia tewas mengenaskan sebelum jadwal hukumannya tiba.

Dalam wawancara dengan Nancy Mullane, wartawan investigatif finalis Pullitzer Award, Helzer mengaduk-aduk perasaan pembacanya. Ia menyesal telah membunuh. Ia merasa bukan dirinya sendiri. Tumbuh sebagai penganut Mormon telah membuatnya mengembangkan sekte tertentu bersama saudaranya. Kepada Mullane, ia sampaikan sisi kemanusiaannya. Ia sampaikan penderitaan yang dijalaninya, menanti proses hukuman bertahun-tahun lamanya, hanya untuk menghadapi sesuatu yang sudah pasti: kematian.

Apa bedanya Helzer dengan kita semua? Kita akan mengatakan kita bukan pembunuh. Kita juga tidak sedang menanti hukuman mati. Mari lihat dari sisi yang lain, dan kita akan menemukan banyak kesamaan.

Helzer membunuh lima orang, mungkin berdarah dingin, bahkan bisa jadi tanpa perasaan. Dan mungkin ia mengira, semua karena panggilan Tuhan. Pengadilan (dan rumah sakit) memang menetapkannya schizophrenic, penderita gangguan kejiwaan. Kita akan dengan segera menolak, keberatan, dan menampik bila dikatakan kita punya kemiripan. Tidak, tidak sama sekali.

Sayangnya, kita punya kemiripan. Banyak, bahkan banyak sekali. Dan dalam banyak hal, boleh jadi kita lebih buruk dari para pembunuh itu. Kita mungkin tidak menghabisi jiwa, tapi mungkin kita merendahkannya. Bagaimana caranya? Dengan senjata tak bertulang yang kita punya: lidah dan kata-kata kita.

Tak ada orang yang suka dibilang sebagai tukang fitnah. Kita lupa, kita mungkin tidak memfitnah. Kita hanya menyebarkannya. Sama saja. Barangsiapa ridha dengan perbuatan satu kaum, ia termasuk kaum itu. Tak ada yang mau dikatakan sebagai pembantai keluarga Nabi Saw di padang Karbala, tahun 61 Hijriah itu. Tapi orang yang tak mengenang kisah itu, atau mendengar tragedi itu dan tak merasa tergetar dengan itu, ia bisa dikelompokkan bersama kaum yang melakukannya.

Kita mungkin merasa tidak berdusta. Kita hanya membagi kabar yang tidak kita ketahui pasti. Itu saja. Senjata kita kini bukan belati, pistol atau racun arsenik. Senjata kita kini kata-kata dan sejumput sumpah serapah yang keluar dari lisan kita. Bagaimana ia bisa membunuh? Bila ada satu berita dan ternyata tidak benar, kemudian kita sebarkan, kita telah terlibat aksi fitnah. Dan agama mengajarkan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Bila berita itu benar dan ia menceritakan aib orang lain kemudian kita sebarkan, kita jatuh pada ghibah, kelompok penggunjing penghuni kerak api neraka. Menurut kitab suci, bila itu kita lakukan, kita sama dengan memakan daging mayat saudara kita sendiri. Aksi kanibalistik yang lebih jijik. Apa beda fitnah dan ghibah dengan pembunuhan? Manakala dengan mudah kita menyebarluaskan satu berita yang bila benar jatuh pada ghibah, bila dusta terperosok dalam fitnah.

Menurut Baginda kekasih hati Rasulullah Muhammad Saw, salam dan rindu baginya dan keluarganya yang suci, di antara yang akan merusak umat di akhir zaman adalah (kebiasaan) "qiila wa qaal" katanya dan katanya. Kala kita memperoleh informasi (katanya) kemudian kita sebarkan tanpa mengetahui faktanya. Berhati-hatilah bila ia menyangkut kehormatan sesama. Saat kita menjatuhkan kehormatannya, kita telah membunuhnya. Korban Helzer mungkin lima, berapa banyak korban kita?

Seperti Helzer yang meyakini apa yang ia lakukan karena 'mendengar' panggilan Tuhan, kita pun tak jarang 'membungkus' kata-kata tak pantas kita itu dengan dalil-dalil keagamaan.

Satu lagi. Di musim berhaji, kita bahkan dilarang debat dan diskusi, bahkan dalam kebenaran sekalipun. Mengapa? Boleh jadi benar dalam esensi, sahih dalam isi, tapi tak benar dalam cara menyampaikan. Mungkin kita menyakiti perasaan.

Bahasa lisan itu dewasa ini diwakili oleh jejaring sosial media. Facebook mencatat 70% penerima kata-kata negatif, cenderung meneruskan pesan itu pula. Berbagai penelitian muncul berkenaan dengan efek pengunaan kata terhadap kesehatan jiwa. Words that hurt (kata-kata yang menyakiti), words for your brain (kata-kata adalah makanan otakmu), change your words you change your world (ubah kata-katamu, kau akan ubah duniamu), dan sebagainya. Kualitas seseorang terlihat dari pilihan kata yang digunakannya. Bila orang Perancis berkata, "katakan yang kau makan, akan aku katakan siapa kau" maka kini kita bisa berkata, "katakan sesuatu, akan aku katakan siapa kau."

Satu saat seorang raja minta dihidangkan makanan terbaik, koki menyajikan bahan dasar lidah. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, "karena dengan lisan seseorang dimuliakan dan menjadi mulia." Lalu raja minta agar esok hari disiapkan makanan yang terburuk. Koki menyediakan yang sama dengan cita rasa berbeda. Katanya, "dengan lisan pula seseorang dijatuhkan dan direndahkan." Mengutip Amirul mu'minin, Ali bin Abi Thalib as, menantu sang nabi itu, 'alaihima wa alihima salam, "lisan itu timbangan manusia...barangsiapa mengucapkan yang tidak pantas, akan mendengar yang tidak patut pula." Kata-kata yang tidak enak, memang dikeluarkan oleh yang tak layak pula.

Semestinya kehadiran bulan suci menahan lidah kita. Lapar membelenggu keinginan banyak bicara. Puasa membatasi kemungkinan berbuat dosa karena ucapan yang menyakiti sesama. Tapi kini, kata-kata itu tak perlu diutarakan lisan. Ia disampaikan dalam tuts telepon pintar dan keyboard sosial media kita. Setan mungkin dibelenggu, tapi tidak jari jemari kita.

Kesamaan berikutnya dengan Helzer adalah baris antri dalam kursi pesakitan itu. Bertahun-tahun Helzer menunggu, dan ia frustrasi karena hukumannya tak kunjung tiba. Bukankah kita semua berada di daftar yang sama? Malakal maut yang menjemput tetangga sudah mengabsen kehadiran kita. Kita para calon jenazah. Berbeda dengan Helzer, kita biasa saja, menjalani hidup apa adanya, bahkan mengisinya dengan menghamburkan kata, yang merusak jiwa, yang menjatuhkan sesama. Kita mirip binatang kurban, yang tetap mengunyah makanan, padahal kawan di samping digiring ke pejagalan. Kita menguburkan kawan kita tanpa menyadari bahwa kita ada pada urutan berikutnya.

Justin Helzer memilih mengakhiri hidupnya sebelum waktunya tiba. Ia sakit, dan tak baik dirawat. "Para penanti hukuman mati," katanya dalam wawancara Mullane itu, "adalah pesakitan yang tak lagi dipandang mata. Mereka bukan saja warga kelas dua, tapi makhluk yang tak berguna." Matanya hampir buta karena tikaman balpoin itu. Kepalanya gegar berkali-kali, dan terkadang tak sadarkan diri. Tapi penjara berkeamanan berlipat tetap menjauhkannya dari sesama. Ia merasa hidupnya tak lagi bermakna. Ia ambil seprai kasurnya, mengikatkannya ke lehernya, dan menghela nafas terakhirnya. "Biarlah ini jadi tebusan," ujarnya, "pada keluarga korban" yang dihabisinya. Setidaknya ia menyesal telah membunuh mereka.

Adakah kita menyesal manakala mengumbar kata tak bermakna? Saat kita menghina sesama, menjatuhkan kehormatan mereka? Siapakah yang lebih bermoral: Helzer atau kita?

Miftah F. Rakhmat, penulis buku Kidung Angklung di Tanah Persia dan The Prophetic Wisdom

 

Sat, 5 Nov 2016 @21:01

AUDIO MISYKAT

BAHAN BACAAN
FACEBOOK MISYKAT
BERBAGI BUKU

 Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved