Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Pidato Imam Ali kw tentang Sifat-sifat Kaum Muttaqin

image

 بسم الله الرحمن الرحيم

اللّهمّ صلّ على محمّد وآل محمّد

Seorang sahabat Imam Ali karamallahu wajhah (kw) bernama Hammam, yang dikenal sebagai seorang ‘abid (ahli ibadah) berkata kepadanya: “Wahai Amir Al-Mukminin, gambarkanlah untukku sifat-sifat kaum Muttaqin, sehingga aku seolah-olah memandang kepada mereka.”

Mula-mula Imam Ali kelihatannya enggan untuk memenuhi permintaan itu, lalu ujarnya: “Wahai Hammam, bertaqwalah  kepada Allah dan berbuatlah kebajikan, sebab Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebajikan.”

Mendengar jawaban itu, Hammam belum merasa puas dan mendesak sekali lagi, sehingga Imam Ali terpaksa memenuhi permintaanya itu. Setelah mengucapkan puji-pujian bagi Allah dan shalawat bagi Nabi Saw, Imam Ali berkata:

Sesungguhnya, ketika Allah Swt menciptakan  mereka dalam keadaan tidak butuh akan ketaatan mereka dan tidak cemas akan pembangkangan mereka. Maksiat apapun yang dilakukan takkan menimbulkan suatu mudharat bagi-Nya. Sebagaimana ketaatan orang yang bagaimanapun juga tidak akan mendatangkan sedikit pun manfaat bagi-Nya.

Dialah yang membagikan segala kebutuhan hidup mereka, dan Dia pulalah  yang meletakkan masing-masing mereka di tempatnya dalam dunia ini. Maka orang yang bertaqwa, merekalah manusia-manusia bijak bestari, kebenaran merupakan inti ucapan mereka, kesederhanaan adalah “pakaian” mereka dan kerendahan hati mengiringi gerak-gerik mereka. Mereka tundukkan pandangan mereka terhadap segala yang diharamkan Allah. Dan mereka gunakan pendengaran mereka hanya untuk mendengarkan ilmu yang berguna.

Jiwa mereka selalu diliputi ketenangan dalam mengahdapi cobaan, sama seperti dalam menerima kenikmatan. Dan sekiranya bukan karena kepastian ajal yang telah ditetapkan, niscaya ruh mereka tidak akan tinggal diam dalam jasad mereka walaupun hanya sekejap, baik disebabkan kerinduannya kepada pahala Allah, atau ketakutannya kepada hukuman Allah. Begitu agungnya Sang Pencipta dalam hati mereka, sehingga apa saja, selain Dia, menjadi kecil sekali dalam pandangan. Begitu kuat keyakinan mereka tentang surga, sehingga mereka rasakan kenikmatannya seolah tidak melihatnya. Dan begitu kuat keyakinan mereka tentang neraka, sehingga mereka rasakan adzabnya seakan telah menyaksikannya.

Hati mereka selalu diliputi kekhusyukan, tak pernah orang mengkhawatirkan  gangguan dari mereka. Tubuh-tubuh mereka kurus kering, kebutuhan-kebutuhan mereka amat sedikit, jiwa-jiwa mereka terjauhkan dari segala yang kurang patut (mereka kurus karena terlalu sering  berpuasa serta selalu prihatin disebabkan besarnya rasa tanggung  jawab terhadap Allah Swt dan makhluk-Nya). Mereka bersabar “beberapa hari” dan memperoleh kesenangan langgeng sebagai pengganti. Itulah perdagangan amat menguntungkan yang dimudahkan Allah  bagi mereka. Dunia menghendaki mereka, namun mereka tidak menghendakinya. Ia menjadikan mereka sebagai tawanan namun mereka berhasil menebus diri dan terlepas dari cengkeramannya.

Di malam hari, mereka merapatkan kaki (mengerjakan shalat tahajjud hampir sepanjang malam), seraya membaca bagian-bagian Al-Quran dengan memperindah bacaannya, merawankan hati mereka dengannya serta membangkitkan penawar bagi segala yang mereka derita. Setiap kali menjumpai ayat pemberi harapan, tertariklah  hati mereka mendambakannya, seakan surga telah berada di hadapan mata. Dan bila melewati ayat pembawa ancaman, mereka hadapkan  seluruh “Pendengaran” hati kepadanya,  seakan desir Jahannam dan gelagaknya bersemayam dalam telinga mereka. Mereka senantiasa membungkukkan punggung mereka, meletakkan dahi dan telapak tangan mereka, merapatkan lutut dan ujung kaki mereka dengan tanah, memohon beriba-iba kepada Allah Swt agar dibebaskan dari murka-Nya.

Adapun di siang hari, merekalah orang-orang penuh kemurahan hati, berilmu, berbakti, dan bertaqwa. Ketakutannya kepada-Nya membuat langsingnya tubuh mereka. Setiap yang memandang  pasti mengira mereka sedang sakit, padahal tiada suatu penyakit yang mereka derita. Dikira akalnya tersentuh rasukan setan, padahal mereka tersentuh “urusan” lain yang amat besar ! (yakni ketakutan akan kemurkaan Allah serta kedahsyatan hari akhir). Tiada pernah merasa senang dengan amal-amal mereka yang sedikit, tapi tak pernah pula mereka berpuas hati dengan yang banyak.

Selalu mencurigai diri mereka sendiri dan selalu mencemaskan amal pengabdian  yang mereka kerjakan. Bila seseorang dari mereka beroleh pujian, ia menjadi takut akan apa yang dikatakan orang tentang dirinya. Lalu merekapun segera berkata: “Aku lebih mengerti  mengenal diriku sendiri dan Tuhankku lebih mengerti akan hal itu dari diriku. Ya Allah, Ya tuhanku, jangan kau hukum aku disebabkan apa yang mereka katakan tentang diriku. Jadikanlah aku lebih dari segala yang tidak mereka ketahui !”

Tanda-tanda yang tampak pada diri mereka ialah keteguhan dalam beragama, ketegasan bercampur dengan kelunakan, keyakinan dalam keimanan, kecintaan yang sangat pada ilmu, kepandaian dalam keluhuran hati, kesederhanaan dalam kekayaan, kekhusyukan dalam beribadat, ketabahan dalam kekurangan, kesabaran dalam kesulitan, kesungguhan dalam mencari yang halal, kegesitan dalam kebenaran dan menjaga diri dari segala sikap tamak. Kekhawatiran akan akibat kelalaian dan gembira disebabkan karunia  serta rahmat Allah yang diperolehnya. Bila hati seorang dari mereka mengelak dari ketaan (kepada Allah) yang dirasa berat, ia pun menolak memberinya sesuatu yang menjadi keinginannya. Kepuasan jiwanya terpusat kepada sesuatu “yang tak kan punah”, dan penolakannya tertuju kepada sesuatu “yang segera hilang” (yang tak kan punah ialah akhirat, yang segera hilang ialah dunia).

Dicampurnya kemurahan hati dengan ilmu,  disatukannya ucapan dengan perbuatan. “Dekat” cita-citanya. Sedikit kesalahannya. Khusyuk hatinya. Mudah terpuaskan jiwanya. Sederhana makanannya.  Bersahaja urusannya. Kukuh agamanya, terkendali nafsunya, dan tertahan emosinya.

Kebaikan selalu dapat diharapkan. Gangguannya tak pernah dikhawatirkan. Bila sedang bersama orang-orang lalai, ia tak pernah lupa mengingatkan Tuhannya. Dan bila sedang bersama orang-orang yang mengingat Tuhan, ia tak pernah lalai (ia selalu berdzikir dalam hatinya meskipun berada diantara orang-orang lalai, ataupun  mereka yang mengucapkan dzikir sementara hatinya lalai). Memaafkan siapa yang mendzaliminya. Memberi kepada siapa yang menolak memberinya. Menghubungi siapa yang memutuskan hubungan dengannya. Jauh dari perkataan keji. Lemah lembut ucapannya.

Tak pernah terlihat kemungkarannya. Selalu “hadir” kebajikannya. Dekat sekali kebaikannya. Jauh sekali keburukannya. Tenang selalu walaupun dalam bencana yang mengguncang. Sabar menghadapi segala kesulitan. Bersyukur dalam kemakmuran. Pantang berbuat aniaya meski terhadap siapa yang ia benci. Tak sedia berbuat dosa walau demi menyenangkan orang yang ia cintai. (Kecintaan kepada seseorang takkan mendorongnya berbuat maksiat). Segera mengakui yang benar sebelum dihadapkan kepada kesaksian orang lain. Sekali-kali ia takkan melalaikan segala yang diamanatkan kepadanya. Atau melupakan apa yang telah diamanatkan kepadanya. Atau memanggil seseorang dengan julukan yang tidak disenangi. Atau mendatangkan gangguan bagi tetangganya. Ataupun gembira dengan bencana yang menimpa lawan. Ia takkan masuk ke dalam kebatilan, ataupun keluar dari kebenaran.

Bila berdiam diri, tak merasa risau karenanya. Bila tertawa, suaranya tak terdengar meninggi. Dan bila terlanggar haknya, ia tetap bersabar sehingga Allah-lah yang membalaskan baginya. Dirinya kepayahan menghadapi ulahnya sendiri, sedangkan manusia lainnya takkan pernah terganggu sedikitpun olehnya. Ia melelahkan dirinya sendiri demi akhiratnya, dan menyelamatkan manusia sekitarnya dari gangguan dirinya. Kejauhannya dari siapa yang dijauhinya disebabkan oleh Zuhud dan kebersihan jiwa. Kedekatannya kepada siapa yang didekatinya disebabkan oleh kelembutan hati dan kasih sayangnya. Bukan karena keangkuhan dan pengagungan diri ia menjauh, bukan karena kelicikan dan tipu muslihat ia mendekat.”

Perawi pidato Imam Ali kw ini berkata: “Ketika Imam Ali as sampai di bagian ini dari pidatonya, Hammam –Si ‘Abid yang mendengarkan  dengan khusyuk− tiba-tiba jatuh pingsan, demi Allah, sejak pertama aku sudah khawatir hal ini akan terjadi atasnya.”

Kemudian ia bertanya-tanya : “Beginikah akibat yang ditimbulkan oleh nasihat-nasihat yang mendalam kepada hati yang rawan?” 

Sumber: Kitab Nahjul Balaghah, Khuthbah ke 15.

(Terima kasih untuk IJABI Jawa Tengah yang berkenan mengirimkan teks tersebut kepada Redaksi Misykat)


Tue, 2 Jun 2015 @13:23

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved