Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

KH Jalaluddin Rakhmat: Ramadhan adalah Bulan Tuhan dan Bulan Persaudaraan (1)

image

“Wahai manusia, sudah datang kepada kalian bulan Tuhan yang membawa berkat, rahmat, dan ampunan; bulan yang paling utama di sisi Tuhan dari bulan mana pun. Paling utama hari-harinya, malam-malamnya, bahkan jam demi jamnya. Inilah bulan ketika kalian diundang untuk menjadi tamu-tamu Tuhan. Di bulan ini, kalian dijadikan orang-orang yang berhak memperoleh jamuan Tuhan. Di bulan ini, nafas kalian menjadi tasbih, tidur kalian ibadat, amal kalian diterima, dan doa kalian dijawab.

Mohonlah kepada Allah dengan niat yang tulus dan hati yang bersih, supaya Dia membimbing kamu untuk menjalankan puasanya dan membaca Kitab-Nya. Malanglah orang yang tidak mendapat ampunan Tuhan di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan lapar dan dahaga kamu di bulan ini lapar dan dahaga pada hari kiamat.

Bersedekahlah kepada fakir miskin. Muliakan para pemimpin kamu dan kasih-sayangi orang-orang kecil di antara kamu. Sambungkan persaudaraan kamu. Pelihara lidah kamu. Jagalah dirimu agar kamu tidak melihat apa yang tidak boleh kamu lihat dan tidak mendengar apa yang tidak boleh kamu dengar. Sayangilah anak-anak yatim orang lain supaya Tuhan menyayangi anak-anak yatim kamu.”

Bulan Tuhan

Inilah khotbah Nabi saw ketika menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Bulan ini menjadi bulan yang agung karena dinisbatkan kepada Tuhan. Tuhan bukan hanya Wujud yang kepada-Nya kita haturkan persembahan dan kita mohonkan pertolongan. Dalam Al-Quran, Tuhan adalah kampung halaman kita, tempat kembali kita. “Kepada Allah kamu semua kembali.” (QS. Al-Maidah: 48)

Dalam bahasa Jalaluddin Rumi, Sufi penyair dan penyair Sufi, Tuhan adalah “rumpun bambu” kita, sedangkan kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Penderitaan kita yang berkepanjangan karena mengejar keinginan kita sebetulnya hanyalah jeritan pilu karena kerinduan untuk kembali kepada-Nya. Manusia adalah “anak-anak Tuhan” yang dikeluarkan dari rumah-Nya untuk bermain-main di halaman dunia ini (Sesungguhnya, kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan hiburan- QS. Al-An’am: 32).

Karena itu, Ka’bah disebut rumah Tuhan, karena ke sanalah para jemaah haji berangkat, meninggalkan segala urusan dunia mereka. Ramadhan disebut bulan Tuhan, karena pada bulan itulah kita pulang, kita meninggalkan halaman permainan kita. 

Selama kita asyik bermain, kita sibuk membeli “jajanan” yang bermacam-macam: Kekayaan, kekuasaan, kemasyhuran, atau sebutlah apa saja yang Anda ingat. Kita lupa bahwa ada makanan lain yang jauh lebih sehat dan lebih lezat. Pada bulan Ramadhan Tuhan mempersiapkan jamuan-Nya dan Anda diundang untuk menjadi tamu-Nya. 

Keasyikan bermain itu digambarkan Rumi dengan indah: “Di atas makanan yang kamu makan untuk memelihara tubuh-Mu, ada makanan yang lain seperti yang dikatakan Nabi, ‘Aku habiskan malamku bersama Tuhanku, dan Dia memberikan makanan dan minuman kepadaku’.

Di dunia ini, kamu telah melupakan makanan lain itu. Kamu sibuk mengunyah makanan dunia ini. Siang dan malam kamu hanya menyuapi tubuhmu. Tubuh ini hanyalah kudamu dan dunia ini kandangnya. Makanan kuda tidak cocok untuk penunggangnya; kuda memelihara dirinya dengan caranya sendiri. 

“Karena kamu tenggelam dalam watak kebinatangan kamu, kamu tetap tinggal di istal bersama kuda dan tidak punya tempat di antara para raja dan pangeran dari dunia tempat hatimu bertahta. Karena tubuhmu yang berkuasa, kamu harus mematuhi perintah tubuh. Kamu terpenjara karenanya, seperti Majnun ketika berangkat menuju negeri Laila.

Selama ia sadar, ia mengarahkan untanya ke arah yang benar. Ketika ia tenggelam dalam lamunan kepada Laila, ia melupakan dirinya dan untanya. Sang unta, yang meninggalkan anak di desanya, segera balik arah ke kampung halamannya. Ketika Majnun sadar, ia melihat ia telah bergerak salah jalan selama dua hari. Begitulah ia, bolak-balik selama tiga bulan, sehingga akhirnya ia berteriak, “Unta ini menjadi laknat bagiku!”

Sambil berkata begitu, ia meloncat dari untanya dan meneruskan perjalanannya sendiri: Keinginan untaku di belakangku. Sedang keinginanku sendiri jauh di muka. Dia dan daku sesungguhnya bertentangan (Fihi ma Fihi).” 

Kita suapi unta kita; padahal ia hanya membawa kita ke kandang binatang. Kita lupa memberi makan ruh kita; padahal ia akan membawa kita ke haribaan Dia. Kita Penunggang unta yang punya tujuan yang berbeda dengan tujuan unta yang kita tunggangi. Dalam tulisan lain, yang berjudul Kerinduan, Rumi menyuruh kita untuk menjadi Yesus di punggung keledai kurus: 

“Yesus di atas keledai kurus; inilah lambang akal yang harus mengendalikan tabiat hewaniah. Perkuat rohmu seperti Yesus. Jika bagian itu lemah, keledaimu yang kerempeng akan berubah menjadi naga perkasa. Berterimakasihlah ketika apa yang tampak kasar datang padamu dari orang bijak." 

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI


Tue, 28 Jun 2016 @15:03

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved