Anak di Mata Nabi (1) [KH. Jalaluddin Rakhmat]

image

Membahas derita anak-anak baik di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang adalah satu pembahasan penting. Seperti halnya pembahasan dalam pencegahan penyakit, gizi, pendidikan, gelandangan, anak-anak terlantar, eksploitasi tenaga kerja anak-anak, dan dampak AIDS bagi kehidupan anak-anak.

Untuk apa kita berbicara nasib anak-anak? Dalam semua bentuknya, perang telah menghancurkan ekonomi kita, meruntuhkan industri, mendominasi penelitian dan pengembangan, dan menyimpangkan pikiran-pikiran ilmiah terbaik dari dua generasi.

Seluruh derita perang ini paling berat dipikul oleh anak-anak kita. Kesejahteraan mereka dikorbankan, kesehatan mereka dihancurkan, dan masa depan mereka dirusakkan.

Di negara-negara yang mengutamakan senjata daripada kesejahteraan anak, kita menemukan anak-anak yang dipukuli, dianiaya, ditelantarkan orang tuanya, dan memanfaatkan tenaganya dengan upah yang murah. Atau paling tidak mereka tumbuh besar dengan tubuh yang rentan penyakit, otak yang terhambat, dan hidup yang tidak ceria. Atas dasar apa, kita memenangkan peperangan kita hari ini sehingga menghancurkan kehidupan anak-anak kita esok hari?

Berapa banyak anak-anak yang wajahnya yang kurus, matanya yang cekung, mucul lagi di layar TV. Sementara itu, di belakangnya, peluru-peluru senjata modern melesat dan para pemimpin dunia tertawa.

Hak-Hak Anak Di Dalam Islam

“Seorang perempuan miskin datang menemuiku,” kata Aisyah Ra, “Ia membawa dua orang anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada kedua orang anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, perempuan itu tidak makan satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Ia bersabda:

“Barang siapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)

“Barang siapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu ia melindungi mereka, mengasihi mereka, memelihara mereka dengan baik, ia pasti masuk surga,” kata Nabi Muhammad dalam riwayat yang lain.  (Al-Targhib wa Al-Tarhib,3:68)

Nabi menegaskan anak perempuan, karena pada zaman itu, anak perempuan tidak mempunyai hak sama sekali. Mereka dianggap beban ekonomi, sehingga sering dibunuh beberapa saat setelah mereka lahir. Al-Quran mengabadikan peristiwa pembunuhan anak perempuan itu, ketika Allah berfirman: Ingatlah ketika anak-anak perempuan yang dibunuh itu ditanya, karena dosa apa mereka harus dibunuh.” (QS.81:8)  

Nabi memberikan contoh penghargaan kepada anak (khususnya anak perempuan), ketika memperlakukan Fathimah. Nabi memanggil putrinya :”Ummu Abiha” (ibu dari bapaknya), sebagai penghormatan atas kebaktian Fathimah dalam berkhidmat kepada ayahnya.

Bila Nabi tengah berada dalam majelis dan melihat Fathimah datang, dia segera bangkit. Tidak jarang dia mencium tangan Fathimah dihadapan sahabat-sahabatnya –cium penghormatan dan kasih sayang sekaligus. Kadang-kadang dia mencium dahi Fathimah seraya berkata “Bila aku merindukan bau surga, aku mencium Fathimah.”

Seorang pemuka kabilah, Al-Aqra’ bin Habis, melihat Nabi mencium anaknya. Dia keheranan dan bertanya, “Engkau mencium anakmu? Padahal aku mempunyai sepuluh orang anak. Tak seorang pun aku cium.” “Aku tidaklah seperti kamu,” jawab Nabi yang mulia,“ Karena Allah telah mencabut cinta dari jantungmu.”

Ketika Rasulullah khawatir jika ada orang yang menyakiti hati Fathimah, maka dia mengumumkan kecintaannya kepada putrinya dengan berkata, “Fathimah belahan nyawaku, siapa yang menyakiti Fathimah dia menyakitiku. Siapa yang membuat Fathimah murka, dia membuatku murka juga.” (HR.Al-Bukhari)

Begitu eratnya hubungan kasih sayang antara Rasulullah dengan putrinya, sehingga kepergian Rasulullah ke alam baka’ sangat menggoncangkan Fathimah. Hampir setiap hari dia menjenguk makam ayahnya. Dia merintih di depan pusara ayah yang dikasihinya. Dia mengambil segenggam tanah kuburan dan mengusapkannya ke wajahnya seraya bersyair, “Apakah orang yang telah mencium tanah pusara Ahmad, akan dapat menghirup lagi semerbak wewangian. Telah menimpa daku musibah. Seandainya musibah itu jatuh siang hari, siang akan berubah menjadi malam gulita.”

Pada saat anak perempuan dipandang rendah, Nabi mengangkat Fathimah. Ketika kehadiran anak wanita dianggap bencana, Nabi menyebut Fathimah sebagai “Al-kautsar” (anugerah yang banyak). Dalam masyarakat Jahiliyyah yang bangga menguburkan anak perempuan hidup-hidup, Nabi menegakkan hak-hak anak secara terbuka. Belum pernah pemimpin dunia memerlakukan anaknya seperti perlakuan Nabi kepada Fathimah.

Hubungan batin diantara keduanya dicatat sejarah sebagai pelajaran abadi untuk umat manusia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita melihat seorang pemimpin agung memperjuangkan hak-hak seorang anak. (bersambung )

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI

 

 

Thu, 17 Jul 2014 @18:15

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved