Anak di Mata Nabi (2) [KH. Jalaluddin Rakhmat]

image

Diberi Nama Yang Baik 

Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya ialah memberikan nama yang baik. Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw: “Ya Rasulallah, apakah hak anakku terhadapku?” Nabi menjawab: “Engkau baguskan nama dan pendidikannya; kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik.” (Syarh Risalah Al-Huquq,1:597) .

Apakah arti sebuah nama?

Nabi menegaskan banyak sekali hal penting dalam nama seseorang ketika seorang sahabat menyebutkan namanya “Hazn” (duka cita), Nabi menggantinya dengan “Farh” (suka cita). “Al-Mudhtaji” (yang terbaring) diganti oleh Nabi menjadi “Al-Munbaits” (yang bangkit). Orang yang namanya “Harb” (perang) diubah nabi menjadi “Silm” (damai), dan banyak lagi yang lain. (Al-Targhib, 3:71).

Anak berhak mendapat nama yang baik, karena seringkali nama yang diberikan oleh orang tuanya menentukan kehormatannya. Ahli hikmah berkata: “Jika kami belum melihat kalian, maka yang paling kami cintai ialah yang paling bagus namanya. Bila kami sudah melihat, maka yang paling bagus wajahnya. Bila kami sudah mendengar kalian, maka yang paling bagus pembicaraannya. Bila kami sudah memeriksa kalian, maka yang paling kami cintai adalah yang paling bagus akhlaknya. Adapun batin kalian, biarlah itu urusan kalian dengan Tuhan kalian.”

Nama itu penting, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa, bahkan akidah. Jang Odeng sudah pasti orang Sunda, Harahab jelas berasal dari keluarga Batak, Tukijo tentu orang Jawa, dan Al Atos terang menunjukkan keluarga Arab.

Islam menganjurkan agar orang tua memberikan nama anak yang menampakkan identitas Islam, suatu identitas yang melintas batas-batas rasial, geografis, etnis, dan kekerabatan (kinship ).

Karena itu, Muhammad Ali boleh jadi orang Pakistan, Iran, Indonesia, atau Amerika Serikat. Tetapi hampir dapat dipastikan ia orang Islam.

Para psikolog modern belakangan menyadari pentingnya nama dalam pembentukan konsep diri. Secara tak sadar orang akan didorong untuk memenuhi citra  (image, gambaran) yang terkandung dalam namanya.

Teori labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. Berilah gelar “JOROK” kepada anak anda, dan seumur hidup anak itu akan menjadi orang yang jorok. Gelarilah ia “Si Pemurah” dan ia besar kemungkinan akan berusaha selalu pemurah.

Memang boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya. Taufiq mungkin menjadi penjahat, tetapi nama itu akan meresahkan batinnya. Ia boleh jadi mengubah namanya, atau mengubah perilakunya.

Walhasil, anak anda akan menggugat anda pada hari akherat (dan boleh jadi di dunia ini juga) bila nama yang anda berikan membawa petaka dalam kehidupannya. “Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,” kata Rasulullah. (HR.Abu Dawud dan Ibnu Hiban)

 MENDAPAT KASIH SAYANG

“Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang kecil,” kata Nabi Muhammad Saw.

Nabi mengecam pemuka Arab yang tidak pernah mencium anaknya dan mengatakan bahwa cinta telah tercerabut dari jantungnya. Dia juga berkata, “Orang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang paling penyayang terhadap keluarganya; dan aku adalah orang yang paling sayang kepada keluargaku.”

Kasih sayang tidak boleh disimpan saja didalam hati. Kasih sayang harus dikomunikasikan, karena itu Nabi mengungkapkan kasih sayangnya tidak saja secara verbal (dengan kata-kata), tetapi juga dengan perbuatan. Ketika dia berkhutbah, dia melihat Hasan dan Husayn berlari dengan pakaian yang menarik perhatian. Dia turun dari mimbarnya, mengangkat mereka, dan meneruskan khutbah dengan kedua anak itu dalam pangkuannya. Dia berkata, “Mereka adalah penghulu para remaja di surga.” Ketika bersujud, dia memanjangkan sujudnya hanya karena tidak ingin mengganggu Hasan dan Husayn  yang berada di atas punggungnya.

Pada suatu hari Umar menemukan Nabi merangkak di atas tanah, sementara dua orang anak kecil berada di atas punggungnya, Umar berkata, “Hai anak, alangkah indahnya tungganganmu itu.” Yang ditunggangi menjawab, “Alangkah indahnya para penunggangnya!” Suasana seperti ini menunjukkan keakraban Nabi dengan cucu-cucunya. Dia mencintai mereka dan dengan jelas mengungkapkan kecintaan itu.

Ketika Mu’awiyah berlaku kasar terhadap anaknya, Al-Ahnaf memberikan nasehat kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, anak-anak itu buah hati kita, tonggak kehidupan kita. Kita langit yang melindungi mereka dan bumi tempat mereka berpijak. Jika mereka marah, senangilah mereka. Jika mereka meminta sesuatu, berilah. Jangan memperlakukan mereka dengan kasar; nanti mereka menghindari keberadaanmu dan mengharapkan kematianmu.”

Banyak diantara kita secara fitri menyayangi anak-anak kita, tetapi sering kali kasih sayang itu tersembunyi. Anak-anak baru mengenal kecintaan orang tua mereka justru ketika orang tua itu sudah meninggal dunia.  Seringkali kita tidak mampu mengkomunikasikan kecintaan kita. Untuk pertumbuhan kejiwaan mereka yang sehat, mereka memerlukan siraman cinta orang tua mereka.

Apa yang terjadi bila anak kekurangan atau tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya? Sebelum menjawab petanyaan itu secara psikologis dan sebelum kita menghayati perintah Islam untuk mengungkapkan kasih sayang ini, marilah kita simak puisi:

Anak-Anak Belajar Dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan  dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

“Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan; ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” (bersambung )

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI

 

 

 

Thu, 17 Jul 2014 @18:21

AUDIO MISYKAT

BAHAN BACAAN
FACEBOOK MISYKAT
BERBAGI BUKU

 Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved