Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku-buku bacaan ISLAM. Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Malam 21 Ramadhan (Syahadah Imam Ali bin Abi Thalib kw)

image

Pada malam 21 itu Keluarga Nabi mengenakan busana hitam, karam dalam duka yang mendalam. Para malaikat dan segenap kekasih Allah meleleh dalam pilu yang menyayat. Malam itu begitu panjang dan melelahkan. Waktu seolah membeku dalam kebisuan, menolak untuk menerima takdir perpisahan. Pedang kesesatan dan kebodohan menyempurnakan kegelapan malam itu dengan sebilah kenistaan yang bercampur kebencian.

Sementara di sudut lain dari bumi, gerombolan orang pandir, pengkhianat kemanusiaan, penyulut api neraka yang paling mengerikan, pembenci keluarga Nabi sedang berpesta pora.

Saat racun kian merasuki sekujur tubuh suci Imam Ali bin Abi Thalib kw (karamallahu wajhah ), kerinduannya pada Allah dan Rasul kian berkobar-kobar. Dia terlihat begitu pasrah, teduh, berparas pucat pasi, menerima nasib dalam kegairahan yang seutuhnya. Imam Ali menyambut perpisahan dengan dunia dalam rindu bercampur sedih, pilu bercampur riang, perasaan yang mengayun di antara perpisahan yang menyesakkan dan perjumpaan yang melegakan setelah perjalanan berliku yang menahun.

Manusia dan jin, binatang-binatang, burung-brung di angkasa, ikut merasakan kesedihan berpisah dengan Imam Ali yang senantiasa menjadi sumber kasih bagi mereka. Jibril berteriak keras memecah keheningan malam itu: “Ooooh, sungguh salah satu tiang petunjuk Allah telah roboh… satu lagi seorang pemberi peringatan yang suci pergi dari dunia yang fana ini!

Diriwayatkan bahwa suatu kali ketika Rasulullah sedang berbicara tentang bulan Sya’ban yang dilanjutkan dengan penjelasan tentang keunggulan bulan Ramadhan dan ketinggian nilai ibadah di dalamnya, kemudian Imam Ali berdiri di hadapannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah amalan paling baik di bulan Ramadhan?” Rasul menjawab, “Wahai Abul Hasan, sebaik-baik amal di bulan ini ialah berpantang dari hal-hal yang diharamkan Allah.”

Tiba-tiba Rasul menangis…

Amirul Mukminin bertanya lagi, “Apakah yang membuatmu menangis, Ya Rasulullah?”

Baginda Nabi menjawab, “Aku menangis karena apa yang akan menimpamu di bulan itu. Sekarang aku seakan-akan menyaksikanmu menunaikan shalat untuk Tuhanmu manakala orang paling sial dari masa lalu dan masa kini, adik dari pembunuh onta Nabi Saleh, memedang dahimu hingga janggutmu memerah berlumuran darah.”

Lalu Amirul Mukminin bertanya, “Ya Rasulullah, apakah saat itu aku dalam keadaan selamat dalam urusan agamaku?”

Rasulullah menjawab, “Tentu saat itu engkau berhasil dalam urusan agamamu.” Lantas Rasulullah melanjutkan, “Hai Ali, barangsiapa yang membunuhmu berarti dia telah membunuhku; dan barangsiapa yang membencimu berarti dia telah membenciku; dan barangsiapa yang mencacimu berarti dia telah mencaciku, karena engkau adalah bagian dari diriku, ruhmu dari ruhku dan tanah penciptaanmu dari tanah penciptaanku … Hai Ali, engkau adalah washiku , ayah dari keturunanku, suami dari putriku dan khalifahku … Demi Dzat yang mengutusku sebagai Nabi dan menjadikanku sebaik-baiknya makhluk, engkau adalah hujjah Allah bagi segenap makhlukNya ….”

Di hari-hari menjelang wafatnya, Imam Ali sering memberi kabar kematiannya kepada khalayak dengan bahasa isyarat yang mudah dimengerti. Dia juga sempat berdoa meminta kepada Allah dengan membuka tudung kepalanya sambil berujar, “Ya Allah, aku telah jenuh dengan mereka dan mereka pun sudah jenuh padaku, aku telah bosan dengan mereka dan merekapun sudah bosan denganku … tidakkah sebaiknya ada perpisahan?"

Dikabarkan pula bahwa pada bulan Ramadhan itu, Imam Ali melihat tanda paling jelas dari dekatnya jemputan ajal ketika bermimpi melihat Rasulullah sedang membersihkan tanah dari wajah Imam Ali dan bertutur, “Hai Ali, tiada lagi bebanmu. Kau telah menunaikan semua kewajiban.”

Muhammad ibn Abu Bakr: Aku menginap di rumah ayahku pada malam 21. Racun telah menjalar sampai ke ujung-ujung kakinya. Wajahnya semakin pucat. Pandangan matanya nyaris tertutup. Kami kemudian membaringkannya di ranjang. Beliau terus mengulang-ulangi wasiat-wasiatnya kepada kami dan bertakziah atas kepergiannya sendiri. Beliau pun terus menerus shalat dalam keadaan duduk.

Tidak lama kemudian Ummu Kulsum dan Zainab datang dalam keadaan menangis. Sambil bercucuran airmata Zainab berujar: “Ayah, duka kami terhadapmu pastilah panjang dan airmata kami tidak bakal berhenti.”

Mendengar suara Zainab, seluruh keluarga besar Imam Ali menangis. Suara keras ini kemudian membangunkan Imam. Setelah mengedarkan pandangan ke segenap arah, Imam menatap Zainab dan tak kuasa menahan airmata.

Para tabib yang berusaha menyebuhkannya sudah menyerah dan mengusulkan Imam meminum susu sebanyak mungkin. Air susu adalah makanan sekaligus minuman Imam Ali hingga syahadah beliau.

Imam kemudian memanggil Hasan dan Husein, mendekap dan menciumi keduanya cukup lama. Setelah itu Imam Ali kembali pingsan. Hasan membantu Imam Ali meminum susu. Imam hanya minum seteguk saja lalu membisiki Hasan untuk memintanya mengantarkan susu yang sama kepada Ibn Muljam – semoga Allah mengutuknya.

Imam Ali berbisik: Hai anakku Hasan, perlakukan tawananmu dengan sebaik-baiknya, karena kami adalah Ahlul Bait kenabian yang tiada dapat dibandingkan dengan siapa pun dalam kemuliaan dan keutamaan. Siapa saja yang mengenal kami pasti akan merasakan kebaikan, kedermawanan, kesantunan dan kemuliaan kami Ahlul Bait.

Setelah fajar menyingsing, masyarakat berkumpul di depan rumah beliau dan meminta izin untuk menjengkuk. Beliau mempersilahkan mereka masuk.

Imam Ali: “Hai manusia sekalian, tanyalah padaku sebelum kalian kehilangan aku. Namun buatlah pertanyaan kalian sesingkat mungkin. Ingatlah musibah yang menimpa imam kalian.”

Mendengar suara lirih Imam Ali, pecahlah tangisan di tengah masyarakat yang berkunjung. Mereka pun enggan untuk bertanya demi meringankan beban beliau.

Hijr bin Uday Ath-Thai yang hadir di sana pun lantas berdiri dan bersyair: “Duhai sedihnya diriku atas apa yang menimpa Tuan orang-orang yang bertakwa, ayah dari pemimpin-pemimpin suci, Haidar yang suci. Terkutuklah siapa saja yang menentang kalian. Kalian adalah bekalku di hari akhirat kelak. Kalianlah peninggalan Rasul yang mulia.

Selepas mendengar syair Hijr, Imam Ali bertutur, “Bagaimana sekiranya kau diminta melepaskan baiat dariku? Apa yang akan kau katakan?”

Hijr menjawab, “Wallahi Hai Amirul Mukminin, jikalau aku dicincang-cincang dan dibakar di api unggun, aku tidak akan melepaskan baiatku padamu.”

Imam Ali menjawab, “Semoga Allah memberimu taufik, Hai Hijr. Semoga Allah mengganjar kesetiaanmu pada Ahlul Bait.”

Kemudian Imam Ali meminta susu. Saat diberikan segelas susu padanya, Imam Ali meminum seluruhnya dan tidak menyisakan untuk Ibnu Muljam. Beliau berujar: “Sesungguhnya perintah Allah adalah takdir yang tidak bisa ditolak. Ketahuilah bahwa aku tidak menyisakan susu tadi untuk tawanan kalian karena itulah rizkiku yang terakhir dari dunia ini. Ingatlah, anakku, berilah tawanan itu sebanyak susu yang aku minum tadi.”

Imam Hasan kemudian keluar dari rumah dan mengabarkan keadaan Amirul Mukminin kepada masyarakat yang kian banyak berkumpul di depan rumah.

Ashbagh, pelayan Imam, meminta izin kepada Hasan untuk menjenguk Imam Ali. Setelah masuk dan melihat keadaan Imam, Ashbagh tak kuasa menahan diri dan meledak dalam tangisan.

Ashbagh: “Aku melihat Imam terbaring menggigil di ranjang dengan dahi merekah mengucurkan darah. Beliau melilitkan sorban warna kuning ke atas kepalanya. Aku tak lagi bisa membedakan mana yang lebih kuning, wajahnya atau kain sorbannya. Aku langsung memeluki dan menciuminya selama mungkin. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya.”

Imam Ali berkata: “Jangan menangis, hai Ashbagh. Sungguh demi Allah, surga telah di depan mataku!”

Ashbagh: Aku sadar betul engkau menuju ke surga. Aku menangis karena berpisah denganmu, Hai Amirul Mukminin.

Kemudian Imam Ali memanggil kembali kedua putranya, Hasan dan Husein dan mendekap keduanya. Setelah itu Imam Ali mengedarkan pandangannya ke seluruh putra putrinya yang lemas dan terengah-engah akibat banyak menangis dan bersedih. Butir-butir airmata pun mengaliri jenggotnya bercambur darah.

Imam Ali menengok kepada Hasan dan Husein sembari berkata, “Duhai Hasan, kau akan terbunuh dalam keadaan mazlum dan diracun. Adapun kau, Duhai Husein… kau akan menjadi syahid umat ini. Kau akan disembelih seperti binatang, lalu jasadmu akan diikat dan digeret-geret dengan kuda. Kepalamu akan diusung untuk dibawa ke raja Bani Umayyah. Putri-putri keturunan Rasulullah akan ditawan, digelandang dan dipertontonkan. Sungguh kelak aku akan mengambil sikap khusus terhadp mereka di hari kiamat.

Dahi Imam yang merekah kini telah menampakkan daging putih di bagian otak beliau. Urwah Saluli, tabib yang kala itu masih berusaha memperban, tak kuasa lagi dan menjerit menangis. Dia hanya bisa pasrah dan berpamitan kepada Imam. Dengan senyum Imam mempersilahkannya keluar.

Zainab maju ke depan dengan tubuh lunglai dan bertanya kepada kakaknya, Imam Hasan: “Bagaimana ini, Kak? Apa kata tabib tentang luka ayahanda dan tambatan hatiku? Aku belum siap ditinggalnya, Kak.”

Hasan berusaha menenangkan Zainab yang sangat peka malam itu dengan memeluknya erat-erat.

Muhammad ibn Abu Bakr Alhanafiyah melanjutkan. Setelah malam mulai gelap, Imam Ali meminta seluruh anak dan kerabat Ahlul Bait untuk berkumpul di sekitarnya. Beliau berkata: “Allah adalah Penjaga kalian setelah kepergianku. Dia adalah Gantungan dan Sandaranku.”

Sekujur tubuh Imam Ali sudah membiru kemerahan. Beliau sudah tidak mau lagi makan dan minum apapun. Bibirnya terus berzikir, bertasbih, bertahmid, bertahlil sebagai tanda bahwa dia masih di bumi.

Imam Ali lalu memanggil putra-putrinya satu per satu dengan nama mereka masing-masing dan berpamitan.

Hasan bertanya kepada Imam: “Apa yang membuat Ayah berbuat seperti ini?”

Imam menjawab: “Putraku, aku telah bermimpi bertemu Rasulullah satu malam sebelum kejadian ini. Aku telah mengeluhkan seluruh derita yang harus kutangguh akibat perilaku umat ini kepadaku. Rasulullah memintaku berdoa, kemudian aku berdoa: Ya Allah, berikan pada mereka sebagai ganti dariku pemimpin yang lebih buruk dan gantikan bagiku umat yang lebih baik dari mereka. Rasulullah menjawab, “Allah telah mengijabah doamu. Allah akan memindahkanmu ke tempat kami setelah tiga malam.” Dan malam ini adalah malam ketiga setelah mimpi tersebut.

Imam melanjutkan: “Aku wasiatkan kepada kalian berdua untuk terus berbuat kebajikan. Kalian adalah dariku dan aku dari kalian.”

Lalu Imam Ali menengok kepada anak-anaknya yang dari ibu selain Sayyidah Fathimah dan berwasiat kepada mereka untuk senantiasa patuh kepada dua putra Fathimah, yakni Hasan dan Husein.

Imam berkata: “AhsanaLLAHU lakumul ‘aza. Aku akan meninggalkan kalian malam ini untuk berjumpa dengan kekasihku, Muhammad saw, sebagaimana yang telah beliau janjikan padaku. Jika aku telah wafat, mandikan, balsemi lalu balutlah aku dengan kain kafan sisa dari Kakek kalian Rasulullah yang dibawa oleh Jibril. Kemudian baringkanlah aku di ranjang dan semayamkanlah aku di dalam kuburan yang telah tergali di samping ranjangku…

Wahai Abu Muhammad, shalatilah aku dan bertakbirlah tujuh kali. Tidak boleh selainku dishalati dengan takbir tujuh kali kecuali seorang pemimpin yang akan muncul di akhir zaman yang bernama Al-Qaim Al-Mahdi dari keturunan adikmu Husein.

Aku wasiatkan kepadamu hai Hasan apa yang Rasulullah perintahkan kepadaku untuk menyerahkan seluruh catatanku dan pedangku kepadamu, kemudian beliau mewasiatkan kau untuk menyerahkannya setelah ajal menjemputmu kepada adikmu Husein. Lalu Imam Ali memandang Husein dan memerintahkannya untuk menyerahkannya kepada putranya, Ali bin Husein. Kemudian Imam Ali memandang Ali bin Husein dan memerintahkannya untuk menyerahkannya kepada anaknya, Muhammad bin Ali dan sampaikan salam Rasulullah dan aku kepadanya.

Kemudian Imam Ali memandang kembali kepada Hasan dan berkata, “Hasan anakku, kaulah ahli warisku dan wali setelahku. Kalau kau mau, kau dapat memaafkan orang yang membunuhku. Kalau tidak, maka pukullah dia sekali saja sebagaimana dia memukulku.”

Lalu Imam Ali meminta Hasan menuliskan wasiat yang panjang berisi tentang keimanan, ketakwaan dan perilaku yang bajik di jalan Allah.

Setelah itu Imam Ali memanggil Zainab dan berkata: “Hai Zainab, aku mendengar Rasulullah bersabda bahwa seorang Mukmin yang tiba ajalnya akan berkeringat dahinya dengan butir-butir putih yang menyala bagaikan mutiara.”

Mendengar ucapan itu dan menyaksikan butir-butir mutiara yang bergemerlam di dahi ayahnya, Zainab terdiam tenang dan tidak lagi menangis. Zainab melangkah ke depan dan menjatuhkan tubuhnya ke pelukan ayahnya sembari berkata, “Ayah, Ummu Ayman pernah menceritakan padaku tragedi Karbala. Dan aku ingin mendengarnya langsung darimu.”

Imam menjawab, “Anakku, ceritanya sebagaimana yang sudah disampaikan oleh Ummu Ayman. Seakan-akan aku bersamamu dan wanita-wanita Ahlul Bait yang menderita kehausan, menjadi tawanan-tawanan yang dipermalukan. Kalian akan merasakan kekhawatiran diperolok-olok oleh masyarakat. Maka bersabarlah, bersabarlah…”

Lalu Imam Ali menatap kedua putranya, Hasan dan Husein dan bertutur: “Seolah-olah aku melihat kalian setelah ini akan dikepung dari fitnah yang datang dari sana dan sini. Maka bersabarlah, tabahkanlah diri hingga Allah memutuskan urusan.”

Imam melihat sekelilingnya dan bertutur: Aku kini melihat Kakek kalian Rasulullah bersama Nenek dan Ibu kalian memanggil-manggil dan memintaku bergegas datang kepada mereka.”

Imam kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh Ahlul Bait dan menatap satu persatu dan berkata: “Astaudi’ukumullah jami’an. Aku memohon pamit kepada kalian semua. Semoga Allah menjaga kalian semua.”

Beliau lalu memejamkan matanya perlahan-lahan, memanjangkan kedua tangannya, dan meluruskan kedua kakinya. Dan dengan suara syahdu mengucapkan Asyhaduallah ila illALLAH wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh .

Demikianlah. Nafasnya terhenti dan ruhnya melesat menembus angkasa menuju tingkat wujud tertinggi, kehadirat Dzat Kudus Ilahi, bersatu dengan Kekasih Mutlak yang Maha Sempurna dalam keadaan syahid, suci, bersih, penuh cahaya. Innalillahi wa inna ilayhi raji’un…

(tulisan diambil dari situs Ahlulbait Indonesia dengan sedikit perubahan judul)    

 

 

 

Mon, 12 Jun 2017 @20:29

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved