Miftah F. Rakhmat: Sahabatku, Aku Akan Menantimu (2)

image

Pilpres yang lalu, banyak orang keberatan dengan adagium yang dipopulerkan, "Orang baik memilih orang baik." Ia sebenarnya konsekuensi logis dari pertanggungjawaban moral. Mungkin karena disampaikan oleh satu kubu, sehingga pendukung kubu yang lainnya merasa tersudutkan. Lepaskan kalimat itu dari kedua pasang calon, dan kita akan menemukan kesesuaian.

 

Bagaimana hendak tak punya lawan, bila kawan seiring saja direndahkan. Bagaimana ingin punya seribu kawan kalau di antara sesama kawan terjadi perebutan kepentingan? Orang baik harus dan wajib memilih sahabat yang baik pula.

 

Kitab suci mengisahkan penyesalan orang yang berkata, "Duhai, seandainya dulu aku tak menjadikan fulan itu sahabatku…" Ia merintih, karena terjerumus dan salah memilih. Ia menyesal mengapa tak mengambil jalan para utusan. Ia menyesal tak bergabung dalam kecintaan. Ia menyesal sudah menghabiskan kata dan waktu kehidupan bersama sahabat yang mencelakakan.

 

Di antara ciri sahabat yang baik adalah senantiasa mendahulukan sesamanya. Diawali dunia, bertahan pula hingga alam sana. Konon, ada riwayat di surga, seorang hamba masuk ke dalamnya. Tiba-tiba ia berkata, "Tuhanku, di mana saudara-saudaraku? Di mana sahabat-sahabatku? Dulu aku shalat bersama mereka. Aku puasa bersama mereka. Tapi aku tidak melihat mereka sekarang ini?" Suara kudua terdengar menjawab, "Berangkatlah kau ke neraka. Cari sahabatmu di sana. Jika dalam hati mereka ada sebutir debu keimanan, keluarkan mereka dari sana. Dan bawa mereka bersamamu ke surga."

 

Itu beda sahabat dan mukmin sejati. Di negeri ini, jangankan di akhirat, di dunia saja sudah ada orang yang mengeluarkan orang lain dari keselamatan, mengusir jauh-jauh mereka dari kemungkinan surga Tuhan. Tak sudi bersanding dengan sesama lain keyakinan. Membatasi dan mengkavling diri, lantaran perbedaan pendapat(an). Dengan gampang menuduh orang lain sesat, kafir, dan karenanya layak kehormatannya dijatuhkan, fitnah disebarkan, dan berita dusta dihembuskan.

 

Malam 21 Ramadhan

Malam 21 bulan Ramadhan adalah syahidnya Amiril Mu'minin Ali bin Abi Thalib as. Beliaulah personifikasi daya tarik dan daya tolak yang kuat. Ali bahkan tak punya seribu sahabat. Ia mungkin tak punya satu musuh. Bagi Ali yang terjadi sebaliknya. Musuh yang banyak, dan sahabat yang sedikit. Pemimpin yang hendak meneladani Ali harus siap sedikit sahabat dan banyak musuh demi kemaslahatan umat yang jauh lebih besar. Ia berhadapan dengan penentangan, pemberontakan, bahkan pengkhianatan. Tetapi pada saat-saat seperti itu, ia justru punya sahabat-sahabat setia, sahabat sejati, sahabat sesungguhnya.

 

Dini hari pada malam mulia, 19 bulan suci, kepalanya ditekak belati beracun. Dalam keadaan sujud, di mihrab yang penuh berkah, ia berlumuran darah. Pada Subuh (yang masih menjadi bagian) dari malam kemuliaan, ia tersungkur dalam kepasrahan pada Tuhan.

 

Racun menjalar dengan cepat ke tubuhnya. Pada hari pertama, lebam kehijauan tampak di sekujur kakinya. Racun itu telah bekerja. Ali menggigil menahan nyeri. Tubuhnya bergetar hebat, dan keringat deras membasahi tubuhnya. Lebam hijau itu perlahan-lahan merayap menghinggapi seluruh tubuhnya, hingga sampai ke kepalanya. Terkulai, ia memanggil anak-anaknya…

 

Zikir itu tak pernah hilang dari lisannya. Bertakbir, tasbih dan tahmid. Ia panggil putra tertuanya, Al-Hasan. Ia serahkan pedang Dzulfiqar dan kitab suci Al-Quran. Begitu pula beberapa kitab lainnya. Ia wasiatkan Al-Husain untuk taat kepada kakaknya. ”Demikianlah Nabi Saw memerintahkan aku." Usai wasiat ketakwaan, Ali menitipkan pesan Nabi untuk Al-Hasan. "Bila sudah datang waktumu, serahkan pedang dan kitab suci itu pada adikmu. Demikian Nabi memerintahkan aku." Lalu Ali berpaling pada Al-Husain. Matanya berkaca-kaca. Ia panggil juga Zainab. Mendekatkannya pada Al-Husain dan meminta keduanya bersabar. Kepada Al-Husain, Ali berkata, "Kalau sudah datang waktumu, serahkan pedang dan kitab suci ini pada putramu yang ini…" kemudian Ali menarik putra Al-Husain yang masih kecil. Namanya sama dengan nama kakeknya, Ali. Kepada anak kecil itu, Ali juga berkata, "Dan bila sudah datang waktumu, serahkan pedang dan kitab ini pada anakmu, Muhammad. Demikian Nabi memerintahkan aku. Dan sampaikan kepadanya, bahwa kakeknya Rasulullah dan aku, menyampaikan salam kepadanya."

 

Kemudian Ali meminta dibantu dibaringkan ke arah kiblat. Setelah seluruh wasiat, setelah pesan dan peluk kecintaan, ia hadapkan wajahnya ke arah Ka'bah. Dan dalam pandangan penuh ketenangan, kalimat syahadat mengalir, mengantarkan ruh suci itu kembali ke pangkuan kekasih sejati, "Asyhadu an laa ilaaha illallahu, wahdahu laa syariika lahu. Wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluhu…" dan lepaslah nafas terakhir…perjuangan panjang menjaga wasiat Nabi tertunaikan sudah. Syahid di malam kemuliaan.

 

Sepanjang hidupnya, Ali ditinggalkan sahabat-sahabatnya. Hanya tersisa segelintir orang yang setia kepadanya. Seorang demi seorang, para kekasihnya dipanggil Tuhan. Tapi ia yakin pada apa yang disampaikan kekasih sejatinya. Bagi Ali, tak mengapa seluruh dunia memusuhi, asal jangan Baginda Nabi. Tak mengapa seluruh manusia memerangi, asal jangan keluarga suci. Ali telah ditemani sebaik-baiknya sahabat, di dunia dan akhirat.

 

Lihatlah dengan siapa kita duduk. Perhatikan siapa sahabat kita. Bila ia senantiasa mengingatkan pada Tuhan, jangan pernah tinggalkan ia. Bergabung senantiasa bersamanya. Kata Hasan al-Basri, "Perbanyaklah berteman dengan orang beriman. Karena bagi mereka syafaat, kelak di hari kemudian."

 

Saya tidak tahu akhir kehidupan saya. Belajar dari Ali, saya hanya tak ingin dipisahkan dari barisan para pecinta Sang Nabi terakhir itu. Bila karenanya seribu musuh berdatangan, biarlah. Bila karenanya seribu sahabat berjauhan, biarlah. Saya yakin sahabat-sahabat sejati akan berdatangan. Seperti Ali, mungkin jumlahnya tak banyak, dan satu demi satu, seorang demi seorang, mereka dipanggil Tuhan. Seperti kata Gibran, biarkan sahabatmu itu pergi. Bila mereka tak kembali, mereka memang bukan sahabatmu. Bila mereka kembali, merekalah sahabat sejati.

 

Dan saya akan menantimu wahai saudaraku, memelihara sebutir debu keimanan itu. Ketika kelak kau berkata, "Di mana sahabatku, yang dulu shalat bersamaku, yang dulu puasa bersamaku…dan aku tidak melihatnya sekarang ini…"

 

Bila saat itu datang, sahabatku, aku akan menantimu. Aku akan menunggumu.

 

Miftah F. Rakhmat adalah Anggota Dewan Syura IJABI


 

Thu, 24 Jul 2014 @16:54

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved