AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Tebarkan Rahmat di Seluruh Alam (1) [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Pagi ini kita berkumpul untuk menyampaikan syukur kepada Allah swt. Telah kita selesaikan 30 hari yang penuh ibadah dan kesucian. Telah kita tinggalkan saat-saat bahagia ketika kita berkumpul bersama keluarga setelah selesai azan maghrib, saat-saat yang indah ketika kita memenuhi masjid untuk menuntut ilmu, tadarus, dan tarawih, saat-saat yang khidmat ketika kita bangun di waktu dini hari, makan sahur seraya menjelang salat subuh dengan zikir, istighfar, dan doa.

Telah kita tinggalkan satu bulan, yang bukan saja dipenuhi ibadat kepada Allah swt, melainkan juga bulan ketika kita menaburkan kasih sayang terhadap sesama hamba Allah.

Seperti kata Rasulullah saw inilah bulan yang pada awalnya kita sebarkan kasih sayang, pada pertengahannya kita taburkan ampunan, dan pada akhirnya kita membersihkan diri dari api neraka. Bulan Ramadhan adalah bulan rahmat, bulan kasih sayang. Pada bulan ini Allah melimpahkan kasih sayang kepada kaum mukmin; pada gilirannya kita pun menyebarkannya kepada segenap makhluk-Nya.

Pada bulan Ramadhan, misalnya, Allah mendidik kita untuk merasakan lapar dan dahaga, supaya tumbuh pada diri kita rasa sayang kepada mereka yang dalam hidupnya bersahabat dengan rasa lapar dan dahaga. Pada akhir Ramadhan kita wujudkan perasaan ini dengan mengeluarkan zakat fitrah. Mengapa lebaran ini disebut Idul-Fitri ? Apa hubungannya fitrah dengan rahmat yang dibina di bulan Ramadhan. Rahmat berarti kasih sayang. Rahmat adalah pancaran dari rahmat dan rahim nya Allah swt.

Rasulullah saw. bersabda:

إَنَّ اللهَ تعالى خَلَقَ مِائَةَ رَحْمَةً يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ , كُلُّ رَحْمَةٍ مِنْهَا طِبَاقَ مَابَيْنَ السَّمآءِ وَالأرْضِ , فَاَهْبَطَ رَحْمَةً مِنْهَا إِلَى الأرْضِ فِيْهَا تَرَحَمَ الْخَلْقُ , وَبِهَا تَعطِفُ الْوَالِدَةُ عَلىَ وَلَدِهَا , وَبِهَا تَشْرَبُ الطَّيْرُ وَالْوُحُوْشُ مِنَ الْمَاءِ , وَبِهَا تَعِيْشُ الْخَلائِقُ .  ( كنز العمل فى 10464 )

" Sesungguhnya Allah swt menciptakan 100 kasih sayang ketika menciptakan langit dan bumi. Satu rahmat (kasih sayang) daripada-Nya seluas langit dan bumi. Lalu Allah turunkan salah satu rahmat itu ke bumi. Dengan itulah makhluk saling menyanggupi. Dengan itu ibu mengasihi anaknya. Dengan itu burung dan binatang buas meneguk air dari tempat yang sama. Dan dengan itu seluruh makhluk hidup.” (Lihat Kanzul –Ummal, hadits no.10464)

Pernahkah Saudara melihat induk ayam yang pengecut berubah menjadi pemberani hanya karena di bawah sayapnya ia melindungi anak-anaknya yang masih kecil? Pernahkah Saudara menyaksikan harimau buas yang menjilati tengkuk anaknya dengan lembut? Pernahkah saudara mendengar kisah kera betina yang menjerit pilu ketika anaknya dirampas pemburu? Itu semua seperseratus rahmat Allah swt yang dititipkan pada fitrah mereka.

Kita sering melihat seorang suami yang bekerja keras di perantauan, menguras keringat dan tenaganya. Dikumpulkannya uang seperak demi seperak. Lalu setelah memadai, dengan setia ia mengantarkannya kepada anak dan istrinya. Atau kita menyakitkan ibu yang bermata cekung menunggui anaknya yang sakit di sampingnya dan siap menyerahkan apa pun yang dimilikinya asal dapat melihat anak terkasihnya tersenyum kembali. Atau orang tua yang menghabiskan seluruh usianya, mengurangi makan dan minumnya supaya sanggup menyekolahkan anaknya.

Kemudian, ketika si anak berhasil meraih gelar kesarjanaan dan diwisuda di aula almamaternya, ayah dan ibunya terisak-isak di kursi belakang. Itu semua ungkapan seperseratus kasih sayang Allah yang diberikan kepada fitrah kita.

T etapi, berbeda dengan binatang, manusia tidak selalu berhasil memelihara fitrah kasih sayangnya. Seperseratus rahmat Allah yang dititipkan kepada hati nurani ini sering kita telantarkan, bahkan kita lupakan. Dalam perjalanan hidup, kita sering melupakan bisikan fitrah yang suci ini.

Bukankah kita sering mendengar ibu yang membunuh anaknya? Suami yang menganiaya istrinya? Istri yang mengkhianati suaminya? Orang tua yang menyiksa anaknya? Pembesar yang mengeksploitasi orang kecil? Majikan yang menyiksa pembantunya? Orang kaya yang memeras si miskin? Kita t er m enun g , ke mana gerangan seperseratus fitrah Allah yang ada pada mereka? Mengapa fitrah itu terlupakan?

Pada sebuah surat yang singkat dalam Alquran, Allah ta’ala menjelaskan penyebab terlupakannya rahmat fitrah ini dan sekaligus memberikan pengobatannya. Surat itu ialah surat Takatsur :

1.  Bermegah-megahan telah melalaikan kamu; 2.  Sampai kamu masuk ke dalam kubu r; 3.  Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) ; 4.  Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui ; 5.  Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin ; 6.  Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim; 7.  DanSesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin ; 8.  Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (Qs. At-Takatsur [102]:1-8) .

At-takatsur artinya keinginan memperbanyak kesenangan dan perhiasan dunia dan mengalahkan orang lain dengan harta dan anak buah, kata Thabathabai dalam tafsir Al-Mizan . Yusuf Ali menyebutnya sebagai acquisitiveness . Sebagai kerakusan untuk menambah jumlah kekayaan, kedudukan, pengikut, atau pendukung, produksi massa, atau organisasi massa. Jadi, takatsur adalah kerakusan untuk mencari kekayaan jabatan, dan pengaruh buat mengalahkan orang lain.

D ari takatsur inilah lahir tiga penyakit rohani yang membinasakan bisikan fitrah: takabbur, dengki , dan dendam . Karena takatsur -lah kita menjadi takabbur. Karena kita merasa kekayaan kita banyak, kita cenderung merendahkan orang lain. Rasa sayang kepada mereka yang nasibnya lebih malang telah berubah menjadi kebencian.

Kita lemparkan sumpah-serapah kita kepada mereka yang kekayaannya tidak sama dengan kita. Kita tidak meng u nd a ng mereka ketika kita berpesta. Kita usir mereka karena kita anggap mengganggu keindahan kota. Kita sisihkan mereka dari lingkungan pergaulan hidup kita. Kita lupa bahwa Allah telah mengamanatkan harta kepada kita buat menyayangi mereka.

Dengan kekayaan yang kita miliki, Allah telah memberikan kehormatan kepada kita untuk mempertajam rahmat fitriah kita. Sayang, takatsur telah mengubah kehormatan menjadi kehinaan. Takatsur juga menyuburkan rasa dengki. Ketika kita melihat orang lain lebih kaya, lebih berpengaruh, lebih populer, lebih dihormati, lebih pintar dari kita, kita marah.

Dengan segala cara kita berusaha menjatuhkan mereka. Kita sebarkan aib mereka. Terkadang kita tidak segan-segan menggunjing, memfitnah, membuat berita dusta. Lalu, ketika lawan kita jatuh, kita tersenyum bangga. Ketika mereka celaka, kita merasa bahagia. Kasih sayang yang fitriah telah terkubur karena takatsur , telah mati karena rasa dengki.

Bahaya takatsur yang paling besar ialah dendam. Kita membenci orang yang telah mengalahkan kita dan berusaha membalas kekalahan kita dengan mencelakakan mereka. Kita berubah dari makhluk Allah yang dititipi seperseratus rahmat-Nya menjadi hamba setan dengan seratus tipuannya. Seperti iblis yang tertawa gembira melihat manusia yang diperdayakannya celaka, seperti itu juga seorang pendendam terhadap orang yang didendamnya. Bila umat sudah dipenuhi rasa dengki, rusaklah umat dan agama.

KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI

 


 

Fri, 25 Jul 2014 @14:36

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved